SHARE

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama alis Ahok sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Mabes Polri, dalam kasus dugaan penistaan agama Islam. Sementara proses hukum itu sedang berlangsung, rencana Aksi Bela Islam III pada 25 Nopember 2016 dan 2 Nopember 216 kian santer di masyarakat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), dan Pengurus Pusat Muhammadiyah, kompak menyerukan tidak ada lagi aksi massa di jalanan. Aksi damai yang berakhir ricuh pada 4 Nopember 2016 telah disikapi pemerintah melalui proses hukum cepat, tepat, dan transparan terhadap tersangka penista agama, Ahok.

Baca juga: Ini Dugaan Andi Arief tentang Pelaku Makar

Kapolri Jenderal Tito Karnavian berkali-kali menegaskan melalui media massa, Aksi Bela Islam III berpotensi makar dan tak akan ditolerir. Penutupan jalan protokol Ibu Kota seperti Jl Thamrin dan Jl Sudirman, Jakarta, akan mengganggu kepentingan umum, dan ia akan menindak pelakunya sesuai perintah undang-undang. Gayung bersambut. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan akan berjihad bersama perajuritnya membela negara dari tindakan makar!

Bagaimana masyarakat Aceh menyikapi seruan Aksi Bela Islam III di Jakarta itu? Wartawan aceHTrend menjaring opini tokoh agama, akademisi, pengamat politik, dan anggota majelis taklim, di Banda Aceh, Selasa (22/11) sebagai referensi bagi masyarakat luas. Pandangan para akademisi dan pengamat politik dan keamanan baca: Aceh Butuh Energi Jihad Lebih Besar

Wakil MPU Aceh
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama ( MPU ) Aceh, Tgk.H. Faisal Ali, yang dihubungi aceHTrend melalui selulernya dengan tegas mengatakan, umat Islam di Aceh harus menahan diri dan tidak perlu ke Jakarta untuk ikut aksi yang berpotensi ricuh, seperti saat aksi damai tempo hari. Proses penegakan hukum yang sedang berlangsung terhadap tersangka Ahok harus dihargai, diikuti, dan dicermati.

Menurut Faisal Ali, apabila proses hukum berlangsung independen dan transparan, harus dihargai dan diterima keputusan pengadilan. Sebaliknya, jika ada tanda-tanda intervensi politik pada proses peradilan baru menyusun strategi jihad selanjutnya,

“Mari kita ikuti proses hukum terhadap Ahok untuk menunjukkan umat Islam Aceh tidak asal ikut-ikutan,” ajak tokoh Islam yang akrab disapa Lem Faisal itu.

Menurut Lem Faisal, ikut aksi ke Jakarta akan mendatangkan muzarat bagi umat Islam di Aceh. Pro-kontra tak terhindari. Akan saling tunding antara yang ikut aksi dengan yang dianggap tidak ikut berjihad. Begitu juga antarormas-ormas Islam akan saling berbenturan. Semua itu akan merusak ukuwah sesama umat Islam di Aceh, jelasnya.

Lebih lanjut, Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Sibreh, Aceh Besar, itu menghimbau Ormas Islam di Aceh agar duduk bersama untuk memikirkan langkah strategis selanjutnya dalam menyikapi situasi serupa di masa mendatang. Setiap ajakan aksi bernuansa religious harus dipertimbangkan untung-ruginya bagi umat Islam di Aceh, tukasnya lagi.

Menjawab aceHTrend tentang pandangannya terkesan berbeda dengan MPU Aceh yang mendukung MUI Pusat dalam menyikapi aksi damai 411, Lem Faisal dengan tegas mengatakan, aksi damai yang lalu menuntut agar Ahok yang diduga telah menistakan Ayat Suci Al-Qur’an ditindak secara hukum. Tuntan itu sudah dipenuhi. Proses hukum sudah berjalan, dan kita wajib menghormatinya, tegasnya lagi. Ia mengaku sejalan dengan MPU maupun MUI.

Ikut Imam
Sementara itu, seorang Jamaah Majelis Taklim Gampong Cot Goh, Kecamatan Montasik Aceh Besar, Iwan Setiawan, yang dicoba salami oleh awak acehTrend mengatakan, muslim yang baik ikut kata Imam-nya. Para jamaah wajib mengikuti apa kata imam di lembaga MUI Pusat dan MPU Aceh. Apalagi himbauannya dinilai tidak melenceng dari aqidah Islam.

Iwan berpendapat, jihad menegakkan kebenaran terkait dengan dugaan penistaan surah Al-Maidah 51 bisa dimana saja. Umat Islam Aceh tidak harus ke Jakarta. Berdoa setiap usai shalat fardhu di tempat masing-masing, atau membaca Surah Yassin di rumah, di masjid, dan dimana pun selama proses hukum terhadap Ahok, juga jihad dalam bentuk lain.

“Ke Jakarta perlu tenaga dan biaya besar, tapi kekuatan doa pun sangat dahsyat. Berdoa berarti meminta bantuan langsung pada sang Penguasa Tunggal lagit dan bumi,” pungkasnya tanpa tanpa keraguan. []

Komentar