SHARE
Foto: acehkita.com

Sambil menikmati segelas kopi sanger, seorang teman yang juga orang dekat Apa Karya (Zakaria Saman) menceritakan sebuah peristiwa unik sekaligus mengharukan. Dalam logika sosial politik pasca konflik Aceh, cerita serupa ini hampir-hampir tidak bisa diterima oleh akal sehat mayoritas masyarakat Aceh. Dan dalam konteks yang lebih luas, kisah ini pun akan dianggap berlawanan dengan nalar sebagian kita yang telah terperangkap dalam kubangan “hedonisme.” Bukan tidak mungkin cerita ini akan divonis sebagai hanya imajinasi belaka.

Cerita ini berawal ketika Kuntoro Mangkusubroto menyelesaikan jabatannya di Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh (BRR). Meskipun BRR telah menyelesaikan tugasnya, namun pemberdayaan ekonomi terhadap para kombatan GAM saat itu masih belum maksimal. Kondisi ini ditandai dengan macetnya berbagai jenis usaha yang dirintis oleh para mantan kombatan pasca konflik di berbagai wilayah di Aceh. Keberadaan BRR dan BRA saat itu “belum mampu” mewujudkan kesejahteraan yang sebenarnya bagi kombatan GAM.

Pada waktu itu, Azmi Abubakar (orang terdekat Apa Karya) mulai berpikir untuk memperbaiki pemberdayaan ekonomi mantan kombatan GAM pasca BRR dan BRA yang sebelumnya tidak berjalan maksimal. Atas dasar keinginan ini, kemudian Azmi Abubakar mencoba mengusulkan kepada Apa Karya untuk membuat sebuah unit usaha yang dikelola secara profesional dan bersifat permanen. Menurut Azmi, Aceh harus memiliki sebuah unit usaha sebagai bentuk kompensasi politik guna kesejahteraan mantan kombatan yang baru saja turun gunung.

Untuk mewujudkan impiannya tersebut, Azmi Abubakar mengajak Apa Karya untuk bertandang ke Hotel Sari Pan Pasifik di Jakarta. Dan Apa Karya pun sempat menginap di hotel tersebut. Pada saat itulah Azmi menceritakan kepada Apa Karya bahwa usaha perhotelan merupakan sebuah contoh unit usaha yang bersifat permanen. Dan Azmi mencoba meyakinkan Apa Karya bahwa model unit usaha semacam ini akan mampu memberdayakan para mantan kombatan GAM, dengan syarat dikelola secara profesional.

Merespon usulan Azmi, kemudian Apa Karya mumutuskan untuk menemui Kuntoro Mangkusubroto yang dikenal memiliki kedekatan dengan Presiden SBY. Menurut Apa Karya, usulan menarik dari Azmi ini harus segera didiskusikan dengan Kuntoro. Tanpa membuang waktu, Apa Karya dan Azmi pun menjumpai Kuntoro di seputaran Istana Merdeka Jakarta.

Dalam perjumpaan dengan Kuntoro, keduanya kembali menceritakan tentang gagasan untuk menempuh langkah baru guna menciptakan kesejahteraan bagi para mantan kombatan GAM di Aceh. Kuntoro pun menyambut baik usulan dari Apa Karya yang notabene adalah mantan Menteri Pertahanan GAM di masa konflik. Dalam diskusi tersebut, Kuntoro mengusulkan unit usaha pertambangan di Aceh sebagai sebuah solusi permanen untuk kesejahteraan mantan kombatan GAM.

Mendengar harapan Apa Karya terkait kesejahteraan mantan GAM, Kuntoro tampak bersemangat dan berjanji akan membantu sepenuhnya proses pendirian usaha tambang di Aceh yang akan dikelola oleh kalangan profesional. Hasil dari usaha pertambangan tersebut nantinya akan digunakan untuk kesejahteraan ekonomi mantan kombatan.

Dan hal yang tidak pernah terduga sebelumnya pun muncul. Tiba-tiba saja, seperti memotong pembicaraan – dengan kalimat tegas, Apa Karya menolak usulan usaha tambang yang ditawarkan Kuntoro. “Kalau tambang kami tidak bersedia, karena itu harta anak yatim. Biar mereka yang mengelola nanti ketika mereka dewasa.” Seperti petir di siang hari, Kuntoro nampak shock mendengar jawaban Apa Karya yang di satu sisi telah mengguncang nalar mainstream.

Jawaban tegas dari Apa Karya pada awalnya tidak membuat Kuntoro menyerah. Kuntoro terus berusaha meyakinkan Apa Karya bahwa usaha pertambangan ini akan menjamin kesejahteraan mantan kombatan GAM. Tapi Apa Karya tetap pada sikapnya. Bagi Apa Karya, keputusannya sudah final, bahwa kita tidak berhak mengganggu hak anak yatim dengan alasan apa pun. Mendengar penjelasan Apa Karya, Kuntoro pun merasa heran bercampur kagum. Mungkin selama hidupnya, dia (Kuntoro) tidak pernah menemukan sosok semisal Apa Karya, kecuali dalam dongeng, legenda dan kisah-kisah manusia suci.

Uniknya, seperti diceritakan Azmi, pasca pertemuan dengan Kuntoro, Apa Karya tampak ceria. Tidak ada aroma penyesalan di raut wajahnya. Apa Karya seperti merasakan sebuah kehabagiaan hakiki karena telah berhasil menyelamatkan hak-hak anak yatim yang oleh sebagian oknum lainnya justru dirampas.

Azmi Abubakar yang mendampingi Apa Karya saat itu juga larut dalam kekaguman melihat sosok manusia yang dalam konteks sosial politik Aceh kekinian sudah sangat langka – untuk tidak menyebut telah “punah.” Apa Karya telah “menyia-nyiakan” kesempatan emas – yang selama ini begitu diimpikan oleh sebagian oknum politisi di tanah ini.

Kecintaan kepada anak yatim telah mendorong Apa Karya untuk menolak sebuah kesempatan besar yang mungkin hanya datang sekali seumur hidupnya. Seandainya Apa Karya menerima usulan Kuntoro, bukan tidak mungkin dia akan menjelma sebagai sosok kaya raya di Aceh.

Sikap yang ditunjukkan Apa Karya tentunya sangat kontras dengan kenyataan politik yang dipraktikkan oleh sebagian politisi. Sebagian oknum politisi kita justru menggunakan kekuasaan untuk menimbun koin emas dan recehan rupiah.

Aceh membutuhkan orang-orang seperti Apa Karya sebagai sosok pengayom dan pemersatu elemen masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh membutuhkan sosok “bapak” yang benar-benar hadir dalam kehidupan mereka, bukan politisi berlagak “sufi” yang mengasingkan diri dari problema sosial politik Aceh.

Bersambung…

Komentar

SHARE
Khairil Miswar
Khairil Miswar saat ini berstatus sebagai Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Pada saat konflik Aceh berkecamuk penulis aktif dalam gerakan mahasiswa khususnya dalam aksi-aksi kemanusiaan dalam menangani pengungsi dan korban konflik. Pasca konflik penulis pernah terlibat dalam partai politik lokal sebagai Ketua Partai SIRA Bireuen. Saat ini penulis juga mengabdi sebagai seorang guru di sekolah rendah di perkampungan.