BERBAGI

ACEHTREND.CO, SINGKIL | Di Aceh Singkil, ada desa bernama Ujung Bawang dan Seluk Aceh.

Jika dilihat sepintas, aktivitas di dua desa pinggir jalan Rimo-Singkil itu, biasa-biasa saja. Sama seperti desa-desa lainnya.

Namun, ketika AceHTrend, Selasa (17/4/2018) berkunjung ke sana, terdengar bunyi hiruk pikuk.

“Tingtang. Tingtang. Tingtang…” Begitulah bunyinya.

Lalu, AceHTrend menelusuri lebih dekat. Rupanya suara tadi, bunyi dentingan besi yang sedang ditempa. Bersumber dari dalam gardu dan gubuk-gubuk yang dibuat spesial.

Bunyi dentingan itu, bertalu-talu dan tingkah-meningkah dengan nyaringnya suara blower dan gerinda.

Belum puas, AceHTrend pun melongok ke dalam gardu dan gubuk. Terlihatlah dua atau tiga orang pandai besi sedang beraktivitas, membakar bilah-bilah besi dalam unggunan bara.

Setelah besi yang dibakar berubah warna, hitam menjadi merah membara. Sipandai besi mengangkat dan meletakkan di landasan untuk dipukuli berulang-ulang dengan godam seberat lima kilogram.

Dari pukulan itulah suara dentingan keluar : “Tingtang. Tingtang. Tingtang…” yang diiringi percikan bunga api.

Setelah dipukuli, bilah-bilah besi yang semulanya tebal menjadi tipis. Lalu sejurus kemudian, berubah wujud.

Ada yang menjadi pisau, parang, arit, dodos, dan perkakas pertanian lainnya dalam beragam bentuk dan ukuran.

Begitulah pekerjaan pandai besi saban hari. Mereka bekerja. Terus bekerja sejak pagi hingga sore. Tanpa kenal lelah demi menghidupi keluarga.

Ujung Bawang dan Seluk Aceh, termasuk desa pandai besi di Aceh Singkil. Bahkan, kedua desa itu telah lama tersohor sebagai pusat pembuatan benda tajam.

Khastan (46 tahun)  seorang pandai besi kepada AceHTrend, Selasa (17/4/2018) mengatakan, sejak dulu  warga Ujung Bawang telah menggantungkan hidup dari memproduksi berbagai perkakas benda tajam.

Pekerjaan menempa besi, telah mereka tekuni secara turun temurun. Sejak nenek moyang.

Sehingga dari amatan AceHTrend, pandai besi Ujung Bawang dan Seleuk Aceh,  tergolong pekerja yang terampil.

Bisa ditebak, setiap bulan mereka bisa menghasilkan produksi tempaan besi puluhan hingga ratusan kerat.

“Kami bisa menghasilkan produk pertanian, setiap bulan mencapai ratusan buah berbagai jenis dan ragam,” tutur Khastan.

Bahkan,  kata Khastan, bisa lebih dari itu. Tergantung permintaan pasar dan ketersedian bahan baku.

Jika ditilik dari asal usul, aktifitas, dan produktifitas warga Ujung Bawang dan Seluk Aceh dalam menempa besi.

Agaknya, Ujung Bawang dan Seluk Aceh layak diberi julukan “Kampung Empu Gandring”.

Walaupun produknya bukan keris sebagaimana pesanan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung dalam legenda kerajaan Singosari.

Tapi setidaknya, titisan darah dan semangat Empu Gandring, telah merasuk dalam tubuh putra-putra Ujung Bawang dan Seluk Aceh.

Mulai Langka

Seorang tokoh masyarakat Rasuddin (54 tahun) merasa perihatin dengan kelestarian dan kesinambungan pandai besi di Kampung “Empu Gandring” Aceh Singkil itu.

Menurutnya, para pandai besi, tak lagi fokus menekuni pekerajaannya. “Pekerjaan pandai besi sudah menjadi pekerjaan sampingan belaka,” tutur Rasuddin.

Hal ini dibenarkan Khastan. Ia mengakui, pekerjaan menempa besi yang dilakukannya, adalah pekerjaan sampingan setelah bekerja di perusahaan sebagai petugas jaga malam.

“Siang saya menjadi pandai besi. Malam bekerja di perusahaan,” timpal Khastan.

Salah satu alasannya tambah Khastan, pandai besi bukanlah pekerjaan yang mengiurkan secara finansial dan masa depan.

Uang yang didapatkan memang lumayan, tetapi uang yang diperoleh tersebut cepat habis.

“Uangnya panas, sepanas besi yang terbakar,” ucap Khastan bertamsil.

Karena itu, kalangan usia muda kurang tertarik mengggeluti pekerjaan pandai besi. Ditambah lagi, mereka tidak memiliki modal usaha.

Di Samping itu, kata Khastan, pemasaran perkakas pertanian mulai sulit. Seiring dengan datangnya gempuran alat olahan pabrik yang jauh lebih praktis dan murah.

Sebenarnya, jika prusahaan perkebunan yang ada di Aceh Singkil mau menampung produk pandai besi lokal, mereka akan hidup dan eksis.

Tetapi, perusahaan perkebunan itu, masih cenderung membeli produk luar daerah.

“Peralatan produksi lokal, belum dilirik. Kata mereka, kualitas produk kita rendah,” ujar Khastan.

Anehnya, tambah Khastan, ketika produk yang didatangkan dari luar daerah mengalami kerusakan, sumbing atau patah misalnya, mereka memperbaiki ke sini.

“Apanya yang tak berkualitas. Kan bisa dibuat pelatihan,” tegas Khastan.

Sebenarnya, jika perusahaan mau membeli produk lokal, Khastan yakin pandai besi di sini bisa berdaya.

Minat dan motivasi warga untuk melanjutkan pekerjaan warisan Empu Gandring itu pun, menjadi bertambah.

Sehingga pandai besi di Ujung Bawang dan Seluk Aceh tetap lestari. Nah, siapa peduli.[]

Komentar

BERBAGI
Sadri Ondang Jaya
Sadri Ondang Jaya adalah wartawan aceHTrend untuk wilayah Aceh Singkil dan sekitarnya. Di samping itu pria yang gandrung membaca ini, suka menulis esai, puisi, dan cerpen. Sarjana FKIP Unsyiah ini telah berhasil menerbitkan buku "Singkil Dalam Konstelasi Sejarah Aceh". Juga aktif di blogger Aceh.