SHARE
Ilustrasi dari atjehcyber.net

Sabtu 3 Juni 2017. Genap 7 Tahun meninggalnya dekralator GAM, Hasan Tiro. Di lingkungan GAM, saking dominannya keberadaan Hasan Tiro sebagai pendiri dan pemimpin perjuangan kala itu, sehingga makna perjuangan GAM dapat terwakili oleh satu ucapan, ‘Hasan Tiro.’ Orientasi perjuanganpun merupakan orientasi Hasan Tiro. Cita-cita, misi, semangat persatuan dan cinta kasih, juga dipupuk dari rahim kecintaan para pengikutnya kepada Hasan Tiro. Ketika orang mendengar nama ‘Hasan Tiro,’ yang terdengar oleh mereka adalah dagu yang mendongak bangga, suara lantang yang membahana, torehan-torehan pena yang tajam, serta kebanggaan pada identitas masa lalu Aceh yang tak kan pernah tergantikan.

Ketika GAM mendengar nama ‘Hasan Tiro,’ semangat mereka kembali berkobar. Ketika rakyat mendengar nama ‘Hasan Tiro,’ ada secercah harapan untuk beroleh mata air keadilan. Dan ketika orang asing mendengar nama ‘Hasan Tiro,’ ada decak kagum tiada habisnya. Itulah makna asal dari seorang Hasan Tiro. Makna kata yang dibentuk dari perjuangan, rentang masa yang cukup lama hingga menjadi sebuah identitas yang dibanggakan. Identitas asali, bukan hanya imajinasi apalagi rekayasa belaka.

Namun, hari ini, nama ‘Hasan Tiro,’ jika dilihat dari struktur semiotika dan dikaitkan dengan cara pandang orang mengenai keberadaan nama ‘Hasan Tiro,’ ternyata lebih didominasi oleh makna imajinasi ketimbang arti sebenarnya. Artinya nama ‘Hasan Tiro,’ pelan-pelan telah berubah menjadi mitos.

Keberadaanya lebih didominasi oleh perebutan makna dan fantasi dibandingkan dengan kenyataan riil dari kemuliaan sebuah cita-cita. Sehingga setiap orang merasa berhak untuk menafsirkan dan mengklaim kepemilikan atasnya dan atas simbol-simbol perjuangan yang melingkupinya.

Hari ini, nama ‘Hasan Tiro’ telah telah diidentikkan sebagai milik satu golongan saja. Padahal kenyataannya apa yang ia perjuangkan adalah untuk kepentingan Aceh secara keseluruhan, bukan untuk sekelompok atau dua kelompok. Nama ‘Hasan Tiro’ yang seharusnya menjadi simbol persatuan antar seluruh rakyat Aceh malah telah digunakan sebagai simbol perpecahan dan perseteruan.

Semua orang boleh saja merasa bangga mengemban amanah dan estafet perjuangan ‘Hasan Tiro,’ namun apa yang beliau perjuangan sebagai kedaulatan, kemandirian, kehormatan dan keadilan, tidak semua mampu mengikutinya. Semua orang bebas mengakui bahwa tindakan dan intrik-intrik politik yang mereka lakukan adalah amanah dan ‘ilham’ langsung dari Sang Wali, namun, kepribadian Wali yang kuat, jati dirinya yang menggenggam bendera kehormatan Aceh hingga titik nafas penghabisan, dan sikapnya yang lebih mementingkan rakyat Aceh daripada keuntungan diri sendiri, tidak semua orang dapat mengikuti.

Hari ini, nama ‘Hasan Tiro’ telah menjadi mitos. Ia telah menjadi imajinasi yang kehilangan makna asli. ‘Hasan Tiro’ bukan lagi dimaknai sebagai visi persatuan dan kemajuan, namun sebaliknya ia telah dimajinasikan sebagai legalisasi perpecahan, legalisasi keserakahan, legalisasi hasrat dan ketidakstabilan.

Jika semasa Hasan Tiro, Aceh harus bersiteru dengan Jawa, hari ini sesama Aceh saling bersiteru. Pada mulanya antara rakyat non-GAM dengan eks-GAM, kemudian antar eks-GAM kelompok satu dengan eks-GAM kelompok yang lain dan pada akhirnya permusuhan akan terjadi antar individu. Setiap orang akan menjadi musuh bagi orang lain, dan tidak mustahil, ia juga akan menjadi musuh bagi dirinya sendiri.

Nama ‘Hasan Tiro’ tidak lagi menjadi sebuah tanda kesabaran dan kepatuhan pada perintah komandan. Persis seperti peristiwa Uhud, ketika para sahabat hanya sibuk dengan memperkaya diri masing-masing lalu melupakan pos-pos penjagaan. Itu terjadi karena mereka tidak lagi mengenal kata sabar, tidak lagi patuh pada pimpinan dan komandan.
Sahabat yang satu cemburu kepada sahabat yang lain; Pasukan pemanah cemburu pada pasukan infantri; Pasukan barisan belakang cemburu pada pasukan barisan depan; Dan begitu seterusnya.

Hari ini, nama ‘Hasan Tiro’ tidak lagi dimaknai sebagai perjuangan misi kedaulatan, kemandirian, kehormatan dan cita-cita keadilan, namun lebih dari itu, ia telah kehilangan makna aslinya dan didominasi oleh makna-makna imajinasi seperti kekuasaan, hasrat, pemaksaan, ketimpangan, penipuan dan ketidakadilan. Hingga tidak ada lagi yang tersisa dari ‘Hasan Tiro’ selain sebuah kata yang kehilangan makna asli-nya.

Jika dilihat dari sejarah, jarang terjadi sesuatu yang terbang ke alam mitos dapat kembali turun ke alam nyata. Begitupun Mitos Hasan Tiro, dapat dikatakan sulit untuk dikembalikan iktibarnya kepada makna asali. Akibatnya, ketika ia telah terbang menjadi mitos, namanya akan terus membesar, namun cita-cita dan semangat perjuangannya akan meredup seiring dengan perebutan makna, imajinasi, identitas dan kekuasaan paten dari seorang Hasan Tiro.

Ketika ia telah menjadi Mitos, akan ada pemujaan yang berlebihan namun berbarengan dengan pemujaan, akan ada penyakit lupa besar-besaran atas ajaran dan visi misinya. Orang-orang akan mengingat ia sebagai manusia yang besar namun mereka tidak lagi tahu cita-cita, visi dan kepribadian yang membuat ia besar. Banyak yang akan menggunakan namanya sebagai legalitas dan klaim kekuasaan, namun sedikit yang mampu mengambil hikmah dari kejujuran dan perjuangannya akan kehormatan. Orang akan enggan mengambil makna dari lika-liku perjuangan hidupnya. Karena di sana ada banyak nilai dan kebenaran. Dan hari ini tidak semua orang siap menerima kebenaran.

*Ramli Cibro, Penulis adalah alumni Pascasarjana UIN Ar-Raniry…

Komentar

SHARE
Ramli Cibro
Penulis adalah Guru MTs Darul Hikmah, Desa Kajhu, Kec. Baitussalam Aceh Besar. Kini sedang menempuh Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan merupakan Mantan Santri Dayah Darul Hasanah Syekh Abdurra’uf Kilangan Singkil.