BERBAGI
Foto: Internet.

Bencana adalah suatu peristiwa atau rangkaian kejadian yang mengakibatkan korban jiwa, kerugian harta benda kerusakan lingkungan, sarana dan prasarana serta korban nyawa. Secara umum terdapat tiga faktor penyebab terjadinya bencana yakni (1) faktor alam (natural disaster) karena fenomena alam dan tanpa ada campur tangan manusia, (2) faktor non-alam (non-natural disaster) yaitu bukan akibat perbuatan manusia, dan (3) faktor sosial/manusia (man-made disaster) yang murni akibat perbuatan manusia (Nurjanah dkk., 2011: 21).

Salah satu bencana faktor alam yang kerap terjadi di Indonesia adalah gempa bumi dan tsunami, karena letak Indonesia yang berada di antara lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Samudra Pasifik yang terdapat banyak aktivitas pergerakan lempeng bumi dan aktivitas gunung berapi yang masih aktif atau runtuhan batuan. Gempa bumi dan tsunami merupakan salah satu bencana alam yang tak terduga.Bencana ini dapat merusak dan menghancurkan bangunan dalam waktu yang sangat cepat dan dapat melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada di saat gempa dan tsunami itu terjadi.

Gempa bumi merupakan getaran dalam bumi yang terjadi sebagai akibat dari terlepasnya energi yang terkumpul secara tiba-tiba dalam batuan yang mengalami deformasi (Djauhari Noor,2006: 136) dan juga berlandaskan hukum pada UU nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. Bencana gempa bumi dan tsunami merupakan suatu gangguan serius terhadap masyarakat yang menimbulkan kerugian secara meluas. Pengenalan kondisi daerah sekitar terhadap potensi gempa bumi dan tsunami merupakan salah satu upaya dalam pengurangan risiko bencana.Bencana gempa bumi dan tsunami tidak akan memilih-milih korbannya Semua akan terkena bencana tersebut, jika korban berada pada posisi dimana bencana itu terjadi.

Kota Meulaboh termasuk salah satu wilayah administratif Kabupaten Aceh Barat yang mempunyai luas wilayah keseluruhan 2.442,00 Km2. Wilayah ini terletak pada 04006’ -04047’ Lintang Utara dan 95052’ – 96030’ Bujur Timur. Wilayah Aceh Barat merupakan bagian pantai barat dan selatan Pulau Sumatera yang membentang dari barat ke timur dengan panjang garis pantai sejauh ±73 km. Secara administrasi Kabupaten Aceh Barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Jaya, Pidie, Aceh Tengah dan Nagan Raya Pada tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi dahsyat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa terjadi pada waktu 7:58:53 WIB. Pusat gempa terletak pada bujur 3.316° N 95.854° E Koordinat: 3.316° N 95.854° E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer. Gempa ini berkekuatan 9,3 menurut skala richter dan merupakan gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Srilangka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Menurut U.S Geological Survey “di Indonesia, gempa dan tsunami menyebabkan lebih dari 126.000 korban jiwa meninggal dunia, puluhan gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatra. Di Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak terkena tsunami”. Tsunami menghantam pantai barat Aceh dan Sumatra Utara, sehingga banyak menimbulkan korban jiwa dan bangunan.

Beberapa Para ilmuwan juga pernah menemukan bukti-bukti bahwa tsunami 2004 hanya perulangan dari kejadian lalu. Dengan melacak deposit tsunami di Meulaboh, Aceh Barat, dan Pulau Phra Thong, Thailand, dua tim peneliti menemukan, dalam kurun 1.000 tahun terakhir, kawasan Samudra Hindia pernah dilanda dua tsunami raksasa sebesar 26 Desember 2004.

Tujuh peneliti menggali deposit tsunami di Phra Thong. Adapun peneliti yang melakukan penggalian di Meulaboh adalah Katrin Monecke, Willi Finger, David Klarer, Widjo Kongko, Brian G McAdoo, Andrew L Moore, dan Sam U Sudrajat. Tim yang menggali di Phra Thong menemukan jejak tsunami raksasa terjadi sekitar tahun 1300-1450, sementara tim di Meulaboh menemukan jejak tsunami pada 1290-1400. Mereka juga menemukan tsunami terjadi dalam kurun 780-900. Hasil riset kedua tim yang bekerja terpisah itu dipublikasikan di majalah Nature Vol 455 edisi 30 Oktober 2008.

Sekitar 10 menit Pasca gempa sebelum kejadian Tsunami, dominan masyarakat meulaboh khususnya yang berdomisili dekat dengan pesisir pantai, beramai-ramai mengambil ikan di laut karena surutnya air laut dan ketidaktahuan masyarakat akan terjadinya bencana Tsunami. Fenomenal kejadian tersebut menyedihkan kita betapa pentingnya belajar ilmu tentang kebencanaan agar masyarakat teredukasi dan meningkatnya kapasitas diri untuk melakukan kesiapsiagaan terhadap bencana yang akan terjadi dan kita tahu apa saja tanda-tandanya sebelum bencana tersebut akan terjadi.

Kondisi seperti di atas mendorong masyarakat untuk meningkatkan kapasitas diri dalam menghadapi suatu bencana, pengurangan risiko bencana gempa bumi dan tsunami hendaknya diterapkan sejak dini. Hal ini dilakukan agar anak bangsa sebagai bagian dari masa depan negara dapat mengurangi risiko bencana yang sewaktu-waktu mengancam mereka dan orang-orang di sekitar mereka, maka dari itu perlu dilakukan langkah kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami yang bertujuan meningkatkan keselamatan baik harta maupun nyawa saat terjadi bencana.

Peningkatan pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami, kesiapsiagaan merupakan salah satu bagian dari proses manajemen bencana dan di dalam konsep pengelolaan bencana yang berkembang saat ini, peningkatan kesiapsiagaan merupakan salah satu elemen penting dari kegiatan pengurangan risiko yang bersifat pro-aktif, sebelum terjadinya bencana (Jan Sopaheluwakan, 2006:6).

Kita sering sekali takut dengan bencana, Indonesia dan Aceh memang sangat rentan terjadinya bencana maka kedepan kita harus lebih semangat lagi membangun karakter masyarakat dengan gerakan “mari bersahabat dengan bencana” jangan kita lari dari bencana tapi terus kita cari solusi yang terbaik untuk masyakarat agar tidak takut dan panik dalam menghadapi bencana, terkadang yang merusak bumi itu karena ulah manusia juga ayo kita kampanye selamatkan bumi dari oknum manusia yang tidak bertanggung jawab.

Pengalaman pribadi, banyak hal penting yang sudah saya dapatkan pada prodi ilmu kebencanaan walaupun baru menempuh pendidikan sekitar 6 bulan yang lalu, pemahaman dan karakter kita dalam menyikapi bencana harus lebih serius agar bencana tersebut tidak menjadi marabahaya bagi masyarakat melainkan sebuah fenomenal yang harus kita hadapi dengan penuh keikhlasan, tabah dan istiqomah atas cobaan dari Allah SWT.
Semoga ilmu yang saya dapatkan mudah-mudahan dapat diimplementasi di bumi Teuku Umar yang kita cintai ini, linieritas ilmu kebencanaan mencakup semua aspek kehidupan baik instansi Pemerintahan maupun non Pemerintahan, harapannya semoga masyarakat sadar akan bencana, masukan dari saya semoga semua instansi harus menggabungkan program dengan manajemen bencana, agar kita terus waspada dan selalu siap ketika bencana itu datang.

*)Guru Geografi SMAN 1 Meulaboh – Aceh Barat. Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) Banda Aceh Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan.Email:desijumaidir@gmail.com

Komentar