ACEHTREND.CO, Singkil – Diskusi dan bedah buku “Singkel Sejarah, Etnisitas, dan Dinamika Sosial” karya Muhajir al-Fairusy digelar di Stand atau booth Pameran Pulau Banyak, GOR Kasim Tagok, Singkil Utara, Aceh Singkil, Senin (1/5/2017).

Diskusi dan bedah buku setebal 360 halaman itu diprakarsai oleh Komunitas Pencinta Sejarah (KPS), Komunitas Literasi, dan Anak Muda Penggiat Seni Aceh Singkil.

Bedah dan diskusi buku dihadiri langsung penulisnya Muhajir al-Fairus kandidat Doktor dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dengan panelis Sadri Ondang Jaya S Pd, seorang penulis dan guru di Aceh Singkil.

Yudistira penggagas dan moderator diskusi dan beda buku mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk membentangkan sejarah, etnisitas dan dinamika sosial Singkil kepada generasi muda.

Sehingga generasi muda memiliki pengetahuan luas tentang Singkil. Mereka pun diharapkan nanti lebih percaya diri dan memiliki identitas “kesingkilan”.

Sementara itu Sadri Ondang Jaya mengulas, buku Singkel yang ditulis Muhajir al-Fairusy cocok untuk dijadikan referensi.

Karena isinya merupakan “liputan pandangan mata” penulisnya selama dua tahun.

Apalagi buku yang diterbitkan Pustaka Larasan Bali ini, kaya dengan data dan foto-foto pendukung peristiwa.

Selain itu, tambah Sadri, buku  ini juga patut dijadikan acuan dan “kitab sakti’ dalam membangun Aceh Singkil dengan karakter budaya masyarakat yang khas Singkil.

“Isi buku ini tergolong konprehensif. Memuat hasil potretan Aceh Singkil masa lalu, sekarang dan prediksi Aceh Singkil masa depan,” ujar Sadri.

Muhajir al-Fairusy dalam paparannya menjelaskan, buku setebal 368 halaman dan terdiri dari enam bagian ditulis Muhajir selama dua tahun dengan pencarian data bolak-balik Banda Aceh-Singkil.

Buku ini menggunakan kata titel SINGKEL, dengan mengunakan hurup ‘e’ tidak ‘i’, seperti lazimnya penulisan yang digunakan sekarang, Muhajir punya alasan yang kuat.

Menurutnya, kata Singkel sejatinya mengandung pengertian dan makna sosial kultural, identitas suku bangsa, dan nilai-nilai falsafah hidup.

Sedangkan pengunaan kata Singkil dengan hurp ‘i’ mengandung makna dan penegasan geografis administratif belaka dari sebuah pemerintahan di level kabupaten.

Pengertian kata singkil dalam kamus Bahasa Indonesia pun, tambah Muhajir, sedikit ambigu dan maknanya tak “rancak”, yaitu tali ikat pinggang dan suara orang mengikis besi.

“Jadi penggunaan kata Singkel dengan hurup ‘e’ lebih baik dari kata Singkil menggunakan huru ‘i’. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tutur Muhajir.

Muhajir putra kelahiran Banda Aceh cucu dari ulama Dayah Tanoh Abee Aceh Besar ini menegaskan, berdasarkan penelitian yang dilakukannya, Singkil merupakan negeri yang pernah muncul di panggung sejarah Islam di Nusantara bahkan dunia.

Singkel telah memiliki peradaban dan entitas bangsa dan budaya yang tinggi. Ketingian ini bisa disaksikan dengan perjalanan sejarah Aceh Singkil.

“Buktinya, kehebatan dan ketinggian ilmu yang dimiliki Syekh Abdurrauf al-Singkili dan Syekh Hamzah Fansuri yang notabene putra kelahiran Singkel–yang telah menjadi icon Aceh– tak bisa terbantahkan. Ulama ini bukan saja tersohor di Aceh dan Nusantara tetapi juga sampai ke mancanegara dalam pentas keilmuan dan keagamaan,” tutur Muhajir ilmuan Humaniora dan Antropologi UGM.

Diskusi dan bedah buku dihadiri berbagai kalangan yang digelar di tengah-tengah hiruk pikuk pengunjung pameran, mendapat sambutan hangat dan antusias dari peserta.

Saat berlangsung sesi diskusi dan tanya jawab, banyak muncul pertanyaan yang cerdas dan menukik dari peserta.

Sehingga diskusi dan beda buku, terlihat seru dan mendapat aplus dari peserta.

Di penghujung acara menjelang tengah malam, peserta diskusi dan bedah buku bertekad dan tidak menutup kemungkinan akan terus mengelorakan kajian-kajian seperti ini di Aceh Singkil ke depan.

“Tidak terbatas pada diskusi dan beda buku saja tapi persoalan-persoalan lain akan dicoba bedah,” pungkas seorang peserta.[]

 

Komentar

Sadri Ondang Jaya
Sadri Ondang Jaya adalah wartawan aceHTrend untuk wilayah Aceh Singkil dan sekitarnya. Di samping itu pria yang gandrung membaca ini, suka menulis esai, puisi, dan cerpen. Sarjana FKIP Unsyiah ini telah berhasil menerbitkan buku "Singkil Dalam Konstelasi Sejarah Aceh". Juga aktif di blogger Aceh.