BERBAGI
dr. Purnama Setia Budi (kanan).

Ia muncul pada Pilkada Bireuen 2017. Dipilih sebagai pendamping Teungku H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tusop) pada pemilihan Bupati dan wakil Bupati Bireuen yang lalu, telah melambungkan namanya. Ia adalah dokter muda yang bermental pengabdi. Kini, ia lebih dikenal sebagai dokter rakyat, yang terkadang siap dibayar dengan ucapan terima kasih.

“dokter adalah sebuah profesi yang seutuhnya bekerja atas nama kemanusiaan. Untuk itu, seorang dokter harus memiliki semangat humanisme dalam bekerja. Saya sudah dilatih semenjak kecil untuk selalu peduli kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan, tentu sesuai kemampuan yang saya miliki,” ujar dr. Purnama Setia Budi, Sp.OG, pada suatu ketika, saat berbincang dengan Muhajir Juli dari aceHTrend.

dr. Pur, begitulah lelaki kelahiran 5 Maret 1978, itu dipanggil. Putra dari alm. M. Nurdin dan almarhumah Maimunah merupakan seorang dokter spesialis kandungan, yang memilih pensiun muda dari Pegawai negeri Sipil (PNS) Rumah Sakit Umum dr. Fauziah, Kabupaten Bireuen, karena ikut bertarung pada Pilkada Bireuen 2017.

Ayahnya merupakan prajurit Resimen para Komando Angkatan Darat (RPKAD) sebuah kesatuan elit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang kini menjadi Kmando Pasukan Khusus (Kopassus) yang bermarkas di Cijantung, Jakarta Timur. Sedangkan ibunya adalah seorang cekgu SMA dan sempat menjadi anggota DPRK Aceh Utara mewakili dapil Peudada, saat Bireuen masih merupakan bagian dari kabupaten Petro Dollar.

“Karena tugas ibu di Aceh Lhokseumawe, maka jenjang pendidikan mulai SD hingga SMA saya selesaikan di Lhokseumawe.SD Negeri 2 Lhokseumawe, dilanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Lhokseumawe dan kemudian SMA Negeri 1 Lhokseumawe,” ujarnya sembari tersenyum.

Kemudian, karena prestasinya di sekolah, Purnama muda mendapatkan undangan masuk ke Universitas Sumatera Utara. Ia memilih Fakutas kedokteran. Selama perkuliahan pula saya melibatkan diri aktif di sejumlah organisasi, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) FK-USU, PEMA USU, ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia) dan juga Sekjend di Kelompok Aspirasi Mahasiswa FK-USU. Dan selesai pendidikan kedokteran pada 2004, ia memilih pulang mengabdi di kabupaten Bireuen.

Di Bireuen, selain menjalankan tugas sebagai ASN di RS Fauziah, ia juga melibatkan diri dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bireuen (2007-2010). Sebelumnya Purnama terlibat dalam tim relawan kemanusiaan bencana tsunami pada 2004. Pada tahun 2007, dengan bantuan beasiswa Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) NAD-Nias, melanjutkan pendidikan spesialis Obstetri dan Ginekologi di Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang. Selesai pendidikan pada 2012, langsung kembali bertugas RSUD dr. Fauziah sebagai ahli kandungan.

***
Purnama kecil, walau dilahirkan dalam keluarga yang cukup berada, tapi dididik dengan sangat ketat. Perpaduan gaya militer dan sentuhan keguruan dan ilmu pendidikan, telah membuat Purnama sebagai lelaki yang disiplin, memiliki target, serta lemah lembut, memiliki rasa kemanusian yang tinggi serta taat terhadap perintah agama.

“Di keluarga saya, jangan Anda berpikir saya dimanja. Walai ayah dan ibu merupakan orang yang sibuk dan berpangkat, tapi kendali mereka terhadap anak-anaknya patut diacungi jempol. Ayah selaku tentara RPKAD memiliki gaya militer. Pun demikian, antara ayah dan ibu, selalu mencampur gaya mendidik. Sehingga kami terbentuk sedemikian rupa,” kata Purnama mengenang, sembari tersenyum.

Kenapa terjun ke dunia politik?

Bagi Purnama, politik adalah fashionnya. Untuk itu dia rela menanggalkan status sebagai PNS. Ibunya adalah politikus cum seorang guru. Ayahnya seorang tentara elit yang tidak buta politik. “Darah saya ini darah politikus. Di rumah saya ibunda adalah politikus di DPRK Aceh Utara,” ujarnya.

Pun demikian, dalam berpolitik, ia tetap memilih dan memilah. Tidak ada konsep menghalalkan segala cara. “Politik itu seperti pisau. tergantung yang menggunakan. Saya percaya bahwa tanpa melibatkan diri dalam dunia politik praktis, maka ide-ide perubahan yang ada di dalam kepala saya, takkan mungkin dilaksanakan oleh orang lain. Saya ingin melakukan yang lebih untuk masyarakat. Sepertinya ada yang bisa saya lakukan di luar sebagai seorang dokter, dan itu untuk masyarakat,” katanya.

Apakah dia tidak trauma dengan kekalahan di Pilkada lalu? Dengan senyum mengembang ia menjawab, bahwa latar belakang dirinya terjun ke dunia politik, niatnya bukan untuk menambah pundi-pundi uang. Tujuannya murni untuk mengabdi kepada rakyat.

“Apa yang sudah saya lakukan selama ini, rasa-rasanya belum cukup untuk turun tangan membantu rakyat kecil. Niat awal sedari dulu memang ingin mengabdi demi daerah. Mungkin kesannya sok idealis. Hehe, tapi, kalau hanya bicara soal uang, kiranya saya sudah memiliki segalanya untuk ukuran seusia saya. Ini mukan soal uang. tapi tentang keinginan melakukan berlebih,” katanya.[]

Komentar