SHARE
Ekspedisi Amerika Serikat di Pelabuhan Kuala Batu, Kerajaan Kuala Batee (Foto: Wikipedia)

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Pelabuhan Kuala Batu pernah menjadi pusat perdagangan internasional, namun pelabuhan itu kemudian luluh lantak diserang oleh armada Amerika Serikat dengan Kapal Potomac pada tahun 1832.

Ihwal penyerangan tersebut disebabkan karena awal abad 12 Masehi, misi dagang Inggris, Amerika dan Belanda saat sangat leluasa memasuki pelabuhan-pelabuhan di pantai barat daya Aceh.

Hal itu diakui oleh John Anderson yang pernah menyinggahi pelabuhan Manggeng, Susoh, Kuala Batu dan Semayam, seperti dikutip dari buku Negeri dan Rakyat Aceh Barat Daya Dalam Lintas Sejarah (17:2009).

Akibat keleluasaan tersebut, pada 3 Februari 1813 kapal dagang Amerika Serikat Friendship diserang oleh penduduk Kuala Batu (sekarang Kuala Batee) dan menyandra kapal tersebut karena hendak menyelundupkan lada dari pelabuhan Kuala Batu.

Akibat peristiwa tersebut, Bandar Kuala Batu kemudian diserang hingga hancur oleh Armada Amerika Serikat “Potomac” pada 6 Februari 1832.

•••

Mulanya, wilayah Kuala Batu termasuk bagian dari negeri Susoh. Namun, ketua kelompok petani dari Pidie, Keuchik Karim, meminta izin kepada Datuk Susoh, Datuk Bagak atau Datuk Tuha yang berasal dari Suku Barat Pariaman, untuk membuka perkebunan lada di daerah Lama Inong (sekarang Kuta Bahagia), pedalaman Kuala Batu. Permintaan itu disetujui dengan syarat harus membayar pajak kepada Datuk Susoh dan Sultan Aceh.

Tuanku Samike, ayah dari Raja Basa Bujang, yang memerintah di negeri Trumon, merupakan wakil Sultan Aceh untuk mengutip pajak. Keuchik Karim yang bergelar Teuku Lama selama ini rutin membayar pajak dari hasil panen yang menjadi kewajibannya. Namun, kewajiban tersebut lambat tidak lagi ditunainya, begitu juga dengan kapal-kapal yang seharusnya memuat lada di Susoh dialihkan ke Kuala Batu, sehingga Susoh mengalamai kerugian.

Dalam usaha prdagangan, Tuanku Samike mendapat laba banyak dari komisi dan ongkos angkutan kapal. Dia berunding dengan Datuk Susoh untuk menjadikan Kuala Batu sebagai pelabuhan resmi.

Tugas itu kemudian diserahkan kepada anaknya Teuku Nyak Haji dan Raja Bujang. Namun, cukup disayangkan karena ia lebih dulu meninggal sehingga menjadi terhalang pelaksanaan perjanjian tersebut.

Kuala Batu akhirnya diserang oleh Datuk Susoh dibantu oleh Raja Trumon. Dalam peperangan itu, kemenangan berlangsung secara bergantian dan konflik tersebut baru berakhir dengan berlangsungnya perkawinan antara putera Teuku Lama bernama Raja Kuala dengan cucu Datuk Bagak dari Susoh.

Perjanjian antar Tuanku Samike dengan Datuk Susoh, diputuskan bahwa Kuala Batu dijadikan sebagai pelabuhan Internasional. Setelah Teuku Lama meninggal, kekuasaan dipegang oleh saudaranya, Raja Pidie.

Raja Pidie sendiri semenjak remaja memang telah berpengalaman dalam bidang pemerintahan dan telah terlibat dalam usaha perdamaian antara Kuala Batu dengan Susoh dan Trumon.

Setelah merasa dirinya kuat, ia pun menghadap Sultan di Banda Aceh untuk memisahkan Kuala Batu dari Susoh. Raja Pidie kemudian menikahi seorang wanita yang berasal dari Air Bangis dan mendapat keturunan seorang laki-laki yang diberi nama Raja Sulaiman.

Raja Sulaiman kemudian memerintah di daerah sebelah kiri Sungai Batu, sedangkan daerah sebelah kanan sungai dikuasai oleh Pucut Hasan, anak laki-laki dari Pocut Abdullah yang berasal dari daerah XXXVI Mukim, Aceh Besar. Mereka sebenarnya pada mulanya datang bersama-sama dengan Pocut Kuala pada masa pemerintahan Pidie.

Raja Sulaiman tetap memerintah kerajaan negeri Kuala Batu hingga tahun 1881 dengan tiga wilayah pemerintahan, yaitu Raja Sulaiaman wilayahnya terdiri dari Madat Manyang, Sarulah, Terbui, Lama Inong dan Siangen-Angen. Pocut Hasan wilayahnya terdiri dari Lhok Ek, Kuta Raya, dan Kuta Cot Dulah. Sedangkan daerah yang tunduk kepada Kuala Batu adalah negeri Semayam, Surin, Lama Tuha, dan Lama Muda.

Mata pencaharian penduduk Kuala Batu saat itu adalah berkebun lada, menanam padi, mengumpulkan hasil hutan dan usaha di bidang perdagangan yang berpusat di pelabuhan Kuala Batu. Namun sayang, pelabuhan tersebut hancur diserang armada Amerika Serikat dengan Kapal Potomac pada 1832 silam.[]

Komentar