SHARE
Abdullah Saleh, Anggota DPR Aceh

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Ketua SC sayembara himne Aceh, Abdullah Saleh yang juga Ketua Banleg DPRA mengungkapkan, bahwa penggunaan bahasa Aceh dalam himne merupakan hasil keputusan yang dirumuskan oleh pihaknya setelah melalui beberapa kajian dan pertimbangan.

“Dalam rapat-rapat yang berlangsung baik FGD maupun rapat lainnya, telah dirumuskan terlebih dahulu tentang teknis pelaksanaan sayembara ini, dan disepakatilah bahwa sayembara ini menggunakan bahasa Aceh,” katanya saat ditanyai aceHTrend, Rabu (1/11/2017).

Hal itu diungkapkan Abdullah Saleh untuk menyikapi adanya protes dari beberapa pihak terhadap penggunaan bahasa Aceh dalam himne Aceh yang disayembarakan tersebut.

Abdullah Saleh mengungkapkan, sejak awal Banleg diamanahkan untuk menyiapkan draft qanun himne Aceh, kemudian dalam kajiannya ada tahapan-tahapan yang harus dilalui termasuk dilaksanakan sayembara himne Aceh.

Setelah itru, pihaknya melakukan pertemuan-pertemuan dan FGD hingga menemukan pokok-pokok pikiran dan kriteria apa yang harus dipenuhi dalam himne Aceh tersebut, sebelum dibentuk panitia sayembara, sehingga disepakatilah menggunakan bahasa Aceh.

Lagian, kata Abdullah Saleh, tidak mungkin menggunakan banyak bahasa dalam sebuah himne, walupun nanti setelah selesai jadi himne dan diqanunkan, bisa saja himne itu diterjemah dalam banyak bahasa.

“Tapi pada proses sayembara itu tetap satu bahasa, yaitu bahasa Aceh,” katanya.

Abdullah Saleh juga menyinggung pernyataan Wiratmadinata, salah seorang anggota SC yang membuat pernyataan menolak himne Aceh melalui salah satu media online di Aceh, dikatakan Abdullah Saleh bahwa Wira sering tidak hadir saat rapat-rapat SC dan hal itu diakuinya.

Menurutnya, keberatan-keberatan atau penolakan yang akan muncul sebenarnya sudah dipertimbangkannya jauh-jauh hari dalam rapat-rapat di kepanitian sayembara himne.

“Karena kalau mengacu pada keberatan, kita gunakan bahasa Indonesia juga ada keberatan apalagi kalau kita gunakan bahasa-bahasa daerah lainnya,” kata Politisi Partai Aceh itu.

Sebab, katanya, persoalan adanya keberatan memang tidak bisa dihindari, karena walau bagaiamanapun hal tersebut tetap pasti ada. Akan tetapi dalam kajian pihaknya, mereka harus memilih salah satu bahasa yang sangat kecil potensi terjadinya resistensi. Dan bahasa tersebut adalah adalah bahasa Aceh.

Untuk itu, dirinya memohon penegrtian pada seluruh komponen masyarakat, dalam kerja melahirkan himne Aceh mereka terpaksa harus memilih satu bahasa.

“Kendatipun menggunakan satu bahasa, tapi yang lebih penting adalah bahwa lirik dan lagunya nanti harus mengakomodir etnik music budaya di Aceh, dimana penempatan music seperti serune kalee, dimana penemapatan rapai dan sebagainya,” ujarnya. []

Komentar