BERBAGI
Fajri, penulis adalah kepala MAS Imam Syafi'i Sibreh Aceh Besar.

Oleh Fajri*)

Pengumuman legalisasi homo oleh pemerintah Amerika Serikat disambut sukacita oleh seluruh pengidap homo di seluruh dunia. Pengakuan homo oleh AS menjadi spirit baru bagi pengidap homo untuk menjajakan homo ke seantaro bumi tak terkecuali Indonesia.

Sampai saat ini tercatat ada 22 negara yang melegalkan LGBT dipelopori oleh Belanda (1996) disusul oleh Belgia (2003), Spanyol (2005), Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Norwegia (1993), Swedia (2008), Portugal (2009), Meksiko (2009), Islandia (2010), Argentina (2010), Uruguay (2010), Slandia Baru (2013), Perancis (2013), Denmark (2013), Inggris dan Wales (2013), Skotlandia (2014), Vietnam (2015), Israel (2015), Brazil (2013), Luksemburg (2014), Finlandia (2014), Irlandia (2015) dan Amerika Serikat (2015). (sindo.news.com)

Isu LGBT kembali menggema setelah pemerintahan Barack Obama mengumumkan bahwa praktek LGBT adalah sah dan legal di Amerika Serikat pada Juni 2015 silam. Keputusan pemerintah presiden Barack Obama terkait pengakuan LGBT tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi kebijakan negara lain terkait LGBT yang semula melarang kemudian berbalik arah menjadi mendukung.

Asal Muasal Homo

Tidak diketahui pasti kapan pertama kali penyimpang gender mewabah dan menginveksi manusia. Namun jika merujuk kitab suci Alquran kita akan menemukan kisah penyimpangan orientasi seksual kaum Nabi Luth yang di azab dengan cara kota Sodom yang mereka tempati dibalik oleh para malaikat hingga menewaskan mereka secara tragis.

Dikisahkan bahwa saat Allah mengutus dua malaikat kepada Nabi Luth dalam wujud manusia, kaum Luth justru meminta Nabi Luth untuk menyerahkan kedua tamunya tersebut kepada mereka untuk dijadikan sebagai pelampiasan hasrat sexsual yang menyimpang. Perilaku kaum Luth yang melampaui batas dan membangkang kepada dakwah Nabi Luth membuat meraka ditimpa azab.

Kisah lain adalah penyimpangan Seksual yang terjadi di kota Pompei, Italia. Penyimpangan seksual warga kota Pompei menyebabkan gunung Vesuvius meletus saat mereka sedang kenikmatan melakukan praktik homosek. Ini terbukti ketika mayat mereka yang telah menjadi fosil ditemukan dalam keadaan sedang berhubungan badan sesama jenis.

Dokter Dr. K.M Kertebeny berkebangsaan Jerman-Hungaria pada tahun 1869 menciptakan istilah homoseks atau homosekskualitas. Kata homo berasal dari bahasa yunani yang berarti sama, sedangkan seks berarti jenis kelamin. Kata homoseks bermakna penyimpangan kebiasaan seksual seseorang yang menyukai jenisnya sendiri.

Praktik LGBT di Abad Modern

Pada abad ke 20 semakin banyak homo atau bahasa gaulnya maho-maho bermunculan, sehingga munculnya komunitas homoseksual di kota-kota besar di Hinda-Belanda sekitar pada tahun 1920an.

Kemudian pada 1968 dikenal istilah wadam yang diambil dari nama Adam dan Hawa. Istilah wadam digunakan untuk menggambarkan perilaku menyimpang seorang pria (Adam) yang berkelakuan seperti Wanita (Hawa). Istilah Wadam membuat sebagian pemimpin Islam keberatan karena ada nama Nabi Adam di dalamnya dan kemudian diganti dengan kata waria yakni wanita pria.

Pada 1982 organisasi gay mulai berani menampilkan diri secara terbuka tanpa tabir, muncullah organisasi gay seperti  Persasudaraan Gay Yogyakarta (PGY), Indonesian Gay Society (IGSI), dan Gaya Nusantara (GN). Merebaknya komunitas gay di tanah air secara terbuka tak lama kemudian disusul oleh mewabahnya komunitas gay dikota-kota lain di tanah air seperti Jakarta, Pekanbaru dan kota-kota besar lain. Di samping itu untuk memuluskan propaganda homo mereka juga menerbitkan buletin Gaya Hidup Ceria. Kondisi demikian tentu saja membuat ormas-ormas Islam resah.

Dr Hamid Fahmi Zarkasyi dalam artikelnya Nurani Homo menyebutkan bahwa Asal muasal praktek homo (hubungan sejenis) di zaman ini tidak dapat dilepaskan dari gerakan feminism dan kesetaraan gender di Barat. Kelompok yang paling keras memperjuangkan hal ini adalah feminis radikal libertarian radikal.

Alibi Kaum Homo

Dr Hamid Fahmi Zarkasyi dalam artikelnya Nurani Homo menyebutkan Aan Koedt dalam bukunya The Myth Of Orgasm berargumentasi begini: “jika laki-laki berhak memperoleh kepuasan seksualnya sendiri tanpa memperdulikan kepuasan wanita, maka wanita pun berhak memperoleh kepuasan seksualnya tanpa laki-laki”. Argumen inilah yang menjadi embrio mewabahnya LGBT.

Di samping itu pula dalam artikelnya Nurani Homo Dr Hamid Fahmi Zarkasyi menyingkap tidak konsistennya kaum feminis dalam berargumentasi. mereka beralasan bahwa gerakan mereka berdasarkan keyakinan bahwa gender ditentukan oleh konstruk social. Artinya seseorang itu menjadi laki-laki atau perempuan karena masyarakat menginginkan demikian. Mengapa laki-laki macho dan maskuli sedang perempuan itu feminin adalah karena masyarakat. Itulah di antara alasannya mengapa gerakan femenisme dan kesetaraan gender mencoba mengubah masyarakat agar memperlakukan laki-laki dan perempuan setara.

Namun saat membela membela kaum lesbi, gay, biseksual dan transgender, keyakinan mereka itu berubah. Seseorang menjadi homo itu adalah bawaan sejak lahir dan tidak dapat diubah. Misi yang mereka perjuangkan pun berganti yaitu agar pelaku homo, biseksual dan transgender ini diterima oleh masyarakat. Mengapa harus minta diterima masyarakat jika mereka lahir karena konstruk sosial?

Masih dalam artikelnya Dr Hamid Fahmi Zarkasyi menyebutkan bahwa di kalangan psikolog di Amerika perubahan yang terjadi lebih aneh lagi. Jika sebelum ini mereka sepakat bahwa perilaku homoseks dan lesbi itu dianggap abnormal, maka kini mereka sepakat bahwa perilaku itu dianggap normal belaka. Tidak puas dianggap normal kini berkembang menjadi tuntutan agar mereka dibolehkan menikah dengan sesama jenis.

Upaya kaum Homo

Dalam banyak kesempatan kaum homo selalu memposisikan diri sebagai komunitas yang termarginalkan dan diperlakukan secara tidak adil oleh kalangan agamis fundamentalis dan reaksioner. Mereka pun berupaya dengan banyak cara termasuk memplintir interpretasi ayat suci agar hak asasi dan keberadaan mereka sah dan diakui ayat suci dan konstitusi. Intinya mereka ingin diperlakukan seperti masyarakat normal biasa.

Dr Adian Husaini dalam artikelnya LGBT : Belajar dari Yahudi menyebutkan Bagaimana bangsa AS yang pernah menegaskan sebagai bangsa Kristen itu kemudian bisa diubah persepsi dan sikapnya dalam kasus perkawinan sesama jenis? Ternyata, prosesnya tidak sederhana. Pada 22 Mei 2013, Wakil Presiden AS Joe Biden memberikan pujian kepada tokoh-tokoh Yahudi yang telah berjasa dalam mengubah persepsi bangsa AS tentang perkawinan sejenis. Harian Israel, Haaretz menulis sebuah berita berjudul: “Biden: Jewish leaders drove gay marriage changes”. Dikatakan, bahwa, “Vice President Joe Biden is praising Jewish leaders for helping change American attitudes about gay marriage and other issues.

Dr Adian Husaini juga menyebutkan bahwa Pernyataan Joe Biden itu tidak dapat dipandang enteng. Bahwa, para tokoh Yahudi-lah yang telah mendorong terjadinya perubahan sikap bangsa Amerika terhadap perkawinan sejenis. Bahwa, budaya dan kesenian adalah media yang ber hasil mengubah sikap dan perilaku masyarakat. Ia pun menyebut peran penting media sosial dan satu film serial TV Will and Grace di NBC-TV. Biden berani bertaruh bahwa 85 persen perubahan itu dimainkan oleh para tokoh Yahudi yang berperan besar di Hollywood atau media sosial.

Masih dengan artikel itu, Dr Adian Huasaini  menyebutkan pengaruh tokoh-tokoh Yahudi dalam mempromosikan legalisasi perkawinan sejenis – seperti disebutkan Joe Biden – tentu tak lepas dari proses liberalisasi pemikiran tentang homoseksual dalam ajaran Yahudi. Dan Cohn-Sherbok, dalam bukunya, Modern Judaism, (New York: St Martin Press, 1996, hlm. 98), mengungkapkan perkembangan pemikiran kalangan Yahudi reformis terhadap status hukum homoseksual. Menurut mereka, perumusan hukum-hukum Yahudi modern harus memperhitungkan aspek psikologis. Homosek sual misalnya, meskipun dilarang dalam Bibel, saat ini perlu dibolehkan, sebab saat ini manusia telah memiliki pemahaman terhadap seksualitas yang lebih tercerahkan (a more enlightened understanding of human sexuality)

Faktor lain yang mustahil dipungkiri adalah peran media. Media berperan sangat penting dalam pembentukan mindset tentang LGBT. Serial-serial televisi di negara barat dan Amerika Serikat menayangkan hubungan cinta sejenis sebagai sesuatu yang yang wajar. Seperti film Sex and The City dan Game of Thrones.

Selain media televisi, media cetak juga mempunyai kontribusi besar terhadap perkembangan LGBT. Harian New York Times dalam kolom Wedding rutin mempublish pasangan-pasangan homoseksual yang akan menikah sejajar dengan pasangan heteroseksual yang normal. Contoh kasus adalah pernikahan desainer Joseph Altuzarra dengan Seth Weismen menghiasi pemberitaan kolom wedding New York Times dan majalah Vogue.

Perkembanganan LGBT di Tanah Air

Sebelum reformasi bergulir pada 1998 gerak langkah kaum homo dalam memperjuangkan hak-hak mereka sudah ada. Walau pada masa itu rezim Soeharto sama sekali tidak memberikan ruang untuk komunitas maksiat ini. Mengutip Mutiara Ika Pratiwi dalam artikelnya Membangun Kekuatan Untuk Perjuangan Idenditas Homoseksual menyebutkan list kampanye kaum LGBT di tanah air sebagai berikut;

• 1969, Organisasi Wadam pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) berdiri. Antara lain difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta Raya, Ali Sadikin. Wadam diciptakan sebagai kata pengganti yang dianggap lebih positif bagi istilah banci atau bencong;

• 1 Maret 1982, berdiri organisasi Gay terbuka pertama di Indonesia dan Asia, bernama Lambda Indonesia yang bersekretariat di Solo. Paska itu segera terbentuk cabang-cabang di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan tempat-tempat lain. Terbit juga buletin G: gaya hidup ceria (1982-1984);
• 1985, Kaum Gay di Yogyakarta mendirikan Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY) dengan terbitan Jaka;

• 1 Agustus 1987, berdiri Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara yang kemudian disebut GAYa Nusantara (GN) di Pasuruan, Surabaya, sebagai penerus Lambda Indonesia. Mempunyai terbitan bernama GAYa Nusantara;

• Desember 1993, Kongres Lesbian dan Gay Indonesia (KLGI) diselenggarakan di Kaliurang, DIY. Diikuti sekitar 40 peserta dari Jakarta hingga Ujungpandang. Menghasilkan 6 butir ideologi pergerakan gay dan lesbian Indonesia. GAYa Nusantara mendapat mandat untuk mengkoordinasikan Jaringan Lesbian dan Gay Indonesia (JLGI);

• Desember 1995, KLGI II diselenggarakan di Lembang, Jawa Barat;

• 1996, Partai Rakyat Demokratik (PRD) menjadi partai pertama dalam sejarah Indonesia yang mencantumkan “hak-hak homoseksual dan transeksual” dalam manifestonya;

• 1998, Kongres Perempuan Indonesia yang melahirkan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) mengakomodir kepentingan kelompok lesbian, biseksual, dan transjender perempuan;

• Juni 1999, Gay Pride dirayakan di Surabaya, kerja sama antara GAYa Nusantara, Persatuan Waria Kota Surabaya (PERWAKOS) dan Pusat Kebudayaan Prancis (CCCL);

• 2000, Swara Srikandi menjadi representative ILGA Asia-Pasific;

• 2007, lahir beberapa organisasi LGBT di Indonesia seperti Ardhanary Institute, Arus Pelangi, Institute Pelangi Perempuan, dll.

Pasca reformasi dengan tumbangnya rezim Soeharto komunitas LGBT seperti mendapatkan hembusan harapan indah baru dan semakin memantapkan langkah dalam memperjuangkan hak-haknya. Geliat komunitas LGBT semakin berani dan terbuka acara serupapun semakin banyak dihelat.

Namun Rencana- rencana aksi kaum LGBT kerap kali tidak berjalan mulus sesuai rencana karena sering mendapatkan hambatan dari kalangan ormas-ormas Islam. Seperti rencana rapat kerja nasional JLGI (jaringan lesbian dan gay indonesia) mendapat warning dari FPI Surakarta. Selain itu acara kerlap kerlip warna kedaton (KKWD) juga bubar setelah diobrak abrik ratusan pria berpakaian muslim tradisional.

Kongres International Lesbian, Gay Association (ILGA) pada maret 2010 juga mendapat hambatan dari MUI yang memberi dukungan poltabes Surabaya untuk tidak memberikan izin. Hambatan lain juga datang dari Forum Umat Islam Indonesia (FUI) yang mendatangi penginapan peserta konferensi.

Hambatan lain juga datang dari FPI yang mengadakan sweping dibeberapa tempat dijakarta terkait rencana pemutaran film LGBT dalam rangka qifilm festival.

Isu LGBT hingga saat ini masih menjadi topik yang diperbincangkan banyak kalangan pro dan kontra di tanah air dari waroeng kopi hingga dialog-dialog di televisi. Apalagi setelah pernyataan ketua MPR Zulkifli Hasan saat kunjugannya ke Universitas Muhammadiyah Surabaya bahwa ada lima fraksi di DPR yang menyetujui LGBT berkembang namun beliau enggan merinci fraksi apa saja.

Tak ayal pernyataan Zulkifli Hasan menjadi bola liar dan membuat panas kuping anggota DPR dari fraksi lain. tak mau disebut pendukung LGBT merekapun ramai-ramai menegaskan komitmen melawan LGBT dan membantah pernyataan Zulkifli Hasan.

Mengamati data dan uraian diatas nampaknya gerak laju perkembangan LGBT di tanah air akan terus mendapatkan hambatan dan rintangan. Namun demikian semestinya setiap kita tidak bisa berpangku tangan tanpa melakukan sesuatu untuk pencegahan mengingat kampanye dan propaganda komunitas maksiat ini sangat rapi masif dan terstruktur.

LGBT Dalam Timbangan Syar’i

Allah menciptakan dua jenis manusia laki-laki dan perempuan adalah untuk melestarikan manusia itu sendiri. Perilaku seks menyimpang seperti homosek dan lesbian akan merusak kelestarian manusia itu sendiri.
Praktik LGBT adalah sesuatu yang terlarang dalam islam. Nabi pernah bersabda bahwa Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.(HR. Bukhari). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa rasul memerintahkan para sahabat untuk mengasingkan seorang waria ke Baqi’.

Selain itu nabi juga pernah bersabda barangsiapa yang kedapatan melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah keduanya.
Dalam surat Al-a’araf ayat 80 dan 81 Allah menyebutkan bahwa perilaku homoseks kaum Luth adalah perbuatan yang melampaui batas. Dan masih ada lagi nash-nash syar’i yang mengutuk homoseks dan lesbian.
Praktik LGBT juga bertentangan dengan undang-undang pernikahan nomor satu tahun 1974 yang berbunyi “… .ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Selain nash-nash syar’i dan undang-undang diatas pertimbangan lain kenapa LGBT harus dilawan adalah sebuah fakta pada tahun 1980 Munculnya gejala penyakit baru yang kemudian dinamakan AIDS. Penyakit ini pertama kali ditemukan di kalangan gay di kota kota besar Amerika Serikat, Kemudian ternyata diketahui bahwa HIV adalah virus penyebab AIDS. Penularan HIV / AIDS pertama kali ditularkan melalui hubungan seks anal antara laki laki.

Jika memang praktik LGBT adalah bawaan lahir dan sunnatullah sebagaimana yang didakwa oleh pengagumnya selama ini, kenapa mereka harus dilaknat dengan virus mematikan HIV/AIDS?

Solusi

Cara terbaik menghindari generasi muda dari pengaruh LGBT adalah memperkuat kembali pendidikan agama, menyadarkan generasi muda akan efek bahaya LGBT dan mensterilkan lingkungan dari pengaruh LGBT. Upaya pencegahan lainnya yang dapat dilakukan adalah mensterilkan siaran televisi dan media lain dari tayangan yang mengandung unsur negatif LGBT. Para pembuat regulasi juga perlu mengundangkan praktik LGBT sebagai pidana dan dapat dikriminalkan. (Ben Hamid, 31 Januari 2018)

*)Penulis adalah kepala MAS Imam Syafi’i Sibreh Aceh Besar.

Komentar

BERBAGI
Redaksi
aceHTrend menghadirkan berita dan opini yang dibutuhkan warga. Media ini didirikan oleh PT. Aceh Trend Mediana sebagai perusahaan pers untuk menjadi sarana berbagi informasi dan promosi bagi warga masyarakat, pebisnis, serta instansi pemerintahan yang ada di Aceh dan sekitarnya. Hubungi kami: redaksi@acehtrend.co