SHARE

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Allan Nairn kembali bikin panas sejumlah jenderal di Indonesia. Lewat artikel makar berjudul “Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar” jurnalis investigasi asal Amerika Serikat itu melempar kesimpulan bahwa gerakan melawan Presiden Jokowi diorkestrasi dari belakang layar oleh beberapa jenderal aktif dan pensiunan.

“Allan Nairn penulis berani, apalagi ketika dia menyebut Ahok cuma pintu masuk, gula-gula rasa agama buat menarik massa. Ini kesimpulan dia, bukan saya, dan saya paham arah yang dia mau, apalagi artikel ini dipublis bukan sebelum Pilkada DKI Jakarta, ini strategi memukul ilalang untuk mengeluarkan ular,” sebut Kepala Badan Intelijen Strategis (Ka-BAIS) TNI 2011-2013, Soleman B Ponto, Minggu (23/4) jelang siang.

Artikel terkait makar oleh Allan Nairn dipublih oleh The Intercept dan Tirto pada Rabu (19/4) persis pada hari pemilihan di Pilkada DKI Jakarta. Ponto seperti hendak mengatakan bahwa artikel ini sama sekali bukan untuk menolong Ahok dari prediksi kekalahannya berdasarkan sejumlah lembaga survey, melainkan Ahok sebatas menjadi “ilalang” untuk mengeluarkan “ular-ular” yang berpotensi akan ikut Pilpres ke depan.

Soleman B Ponto adalah salah satu dari tujuh narasumber yang digali informasi oleh Allan Nairn. Ponto, kepada aceHTrend melalui WhatsApp dan telepon mengakui bahwa dirinya pernah bertemu dengan Allan Nairn.

“Sekitar Januari di Jakarta, saya diskusi dengan dia sambil ngopi, temanya tentang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang ikut kontestasi Pilkada DKI Jakarta, sekali lagi bukan wawancara resmi,” sebut Ponto lagi.

Berikut keterangan utuh Ponto yang pernah bertugas 880 hari di Aceh pra dan paska MoU Helsinki.

“Dalam diskusi tersebut, saudara Allan bertanya apakah seorang dengan pangkat Mayor cukup “kuat” untuk ikut Pilgub DKI. Saya bilang kalau Mayor murni tentunya tidak cukup “kuat”.

Lalu Allan bertanya lagi, kenapa AHY “kuat”? Saya bilang, Yah karena sebagai anak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dapat dipastikan bahwa ia dibantu SBY. Adalah wajar kalau seorang ayah membantu putranya.

Pertanyaan Allan bertambah, bagaimana dukungan para purnawirawan terhadap SBY? Saya jelaskan sebagai purnawirawan sangat mungkin akan mendukung SBY dalam mewujudkan tujuan politik anaknya. Terlebih di militer ada l’esprit de corp. ada sentimen angkatan juga. Jadi wajar jika ada dukungan dari para purnawirawan.

Allan lalu mencari tahu dari mana diketahui dukungan itu? Saya jawab dari percakapan di WAG OSG sangat terlihat dukungan kepada SBY.

Bahwa dikatakan SBY secara tidak langsung menyumbang untuk aksi protes Fron Pembela Islam (FPI) lewat masjid dan sekolah, itu adalah kesimpulan dari saudara Allan Nairn.

Saya hanya mengatakan bahwa seorang AHY yang sedang berkontestasi di Pilgub, ketika berkunjung ke masjid apakah hanya sekedar datang dan sholat? Silahkan tafsirkan sendiri. Selanjutnya ia menafsirkan dengan logika bahwa adalah fakta dimana FPI saat itu menuntut agar Ahok dipecat. Artinya FPI membantu AHY dan Anis. Kalau FPI membantu AHY, maka sangat mungkin AHY juga membantu FPI. Bila AHY setiap mengunjungi sekolah dan masjid juga memberi bantuan, dimana AHY sendiri dibantu oleh SBY, maka dapat dikatakan bahwa secara tidak langsung SBY membantu FPI lewat bantuan ke mesjid dan sekolah. Itulah logikanya saudara Allan.

Lalu terkait adanya purnawirawan yang ditangkap karena akan melakukan makar. Allan bertanya apakah ada rencana makar? Saya bilang, makar itu hanya alasan petugas untuk menangkap para aktifis pada saat terjadi aksi 212.

Dan bagi saya, penangkapan itu wajar mengingat ada jutaan orang di jalan tentunya ada potensi chaos, berkaca pada aksi 411.

Hemat saya, para aktivis yang ditangkap dengan alasan makar nanti bisa membela diri di pengadilan.

[Redaksi: Melalui telepon kami berkisah bagaimana zaman dahulu liarnya penangkapan diluar pendekatan hukum. Berbeda jika ditangkap dengan alasan hukum, termasuk makar, karena orang yang ditangkap bisa membela diri. Jika ditangkap secara liar bisa jadi terulang peristiwa hilangnya orang yang ditangkap.]

Terkait statement saya bahwa ‘sasarannya sebenarnya adalah Jokowi’, Saya tegaskan lagi, saat itu kami diskusi soal situasi aksi 411 dan 212. Faktanya adalah sasaran aksi ke Istana Merdeka, dimana demonstran menuntut Jokowi memecat Ahok. Saya katakan, ini menjadi pressure bagi RI 1.

Lalu dikatakan bahwa People Power sudah ada yang mengongkosi dan militer tinggal tidur, saya tegaskan ini adalah kesimpulan saudara Allan. Saya tidak bicara soal hubungan militer dengan makar.

Saya hanya menjelaskan bahwa TNI tidak dominan saat itu karena sudah diatur oleh Undang-undang nomor 34 tahun 2004 tentang TNI, dimana Panglima TNI hanya dapat mengerahkan pasukan TNI apabila ada kebijakan dan keputusan politik negara. Tidak hadirpun Panglima TNI saat itu, tetap dapat dibenarkan, sebagaimana diatur oleh Undang-undang no 34 tahun 2004 tentang TNI.

Demikian penjelasan saya. Mari tetap jaga NKRI, Pancasila, Konstitusi, dan kebhinekaan kita.”

Berikut tulisan Allan Nairn yang menyebut nama Soleman B. Ponto hasil terjemahan Tirto:

Tujuh staf intelijen/militer aktif dan pensiunan menyatakan kepada saya bahwa SBY memang menyumbang untuk aksi protes FPI, tetapi menyalurkannya secara tidak langsung. Salah satu informan tersebut adalah Laksamana (Purn) Soleman B. Ponto—bukan pendukung gerakan makar—mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan penasihat aktif Badan Intelijen Negara (BIN). “SBY menyalurkan bantuannya lewat masjid dan sekolah,” kata Soleman.

Hampir semua pensiunan tentara dan sebagian tokoh militer, menurut Soleman, mendukung tindakan SBY tersebut. Ia mengetahui hal ini karena—selain keterlibatannya di dunia intelijen—jenderal-jenderal pro makar adalah rekan dan kawan-kawannya, banyak di antara mereka berhimpun dalam grup WhatsApp “The Old Soldier”.

Menurut Soleman, para pendukung gerakan makar di kalangan militer menganggap Ahok cuma pintu masuk, gula-gula rasa agama buat menarik massa. 

“Sasaran mereka yang sebenarnya adalah Jokowi,” katanya.

Caranya tentu bukan serangan langsung militer ke Istana Negara, melainkan “kudeta lewat hukum”, mirip-mirip kebangkitan rakyat yang menggulingkan Soeharto pada 1998. Hanya, kali ini publik tidak berada di pihak pemberontak—dan tentara nasional Indonesia, alih-alih melindungi Presiden, lebih senang ikut menggerogotinya.

“Makar ini bakal kelihatan seperti pertunjukan People Power,” ujar Soleman. “Tetapi karena semuanya sudah ada yang mengongkosi, militer tinggal tidur,” dan presiden sudah terjengkang saat mereka bangun.

Komentar