BERBAGI
Sumber: Wired

Pada tanggal 06 Oktober 2010 Kevin systrom dan Mike Krieger mulai mengembangkan platform berbagi foto yang bernama Instagram. Tahun ke tahun perkembangan Instagram makin meningkat dengan pengguna yang semakin membludak.

Tahun 2012 Mark Zuckenberg, pendiri Facebook mencoba mengakuisi Instagram dengan harga sekitar 1 Miliar dollar. Di bawah pimpinan Marc, perkembangan instagram semakin meningkat dengan beberapa perubahan pada fitur edit foto insta story dan lain sebagainya.

Seiring perkembangan platform media sosial berbagi foto ini, anak muda menjadi pengguna yang paling banyak. Maklum, media sosial ini paling digemari oleh anak muda jaman now untuk berbagi kegiatan dan aktifitas mereka kepada temannya.

Saya termasuk pengguna aktif platform media sosial instagram. Kemarin malam saya kaget ketika membaca artikel berita yang berjudul “Instagram, Media Sosial Paling Buruk bagi Kesehatan Mental”. Dalam artikel berita terebut disebutkan ada sebuah survei di Inggris terhadap 1.500 remaja dan orang dewasa muda di Inggris.

Dari 5 platform media sosial yang dimasukkan dalam survei itu, Youtube menjadi platform media sosial paling positif karena mampu menyehatkan dengan memberikan informasi kesehataan terpercaya.

Selain itu, Youtube juga dianggap platform media sosial yang mampu untuk mengatasi kesepian, depresi dan kecemasan. Twitter berada di urutan kedua, diikuti oleh Facebook, kemudian Snapchat, dan terakhir Instagram.

Selain youtube yang mempunyai dampak positif, dalam penelitian kelima platform media sosial itu juga berdampak negatif bagi penggunanya terutama menurunnya kualitas tidur, bullying, citra tubuh, dan FOMO (Merasa orang lain lebih senang dan menarik dripada kita) . Tidak seperti YouTube, keempat media sosial lainnya terkait dengan meningkatkan depresi dan kecemasan.

Penelitian sebelumnya menyebutkan, orang muda yang menghasikan waktunya lebih dari dua jam sehari untuk berselancar di media sosial cenderung mengalami tekanan psikologis.

“Sering melihat teman atau orang yang selalu bepergian atau bersenang-senang, bisa membuat orang muda merasa ketinggalan karena orang lain seperti sedang menikmati hidup. Perasaan ini akan membuat mereka selalu membandingkan dan merana,” tulis hasil survei itu.

Media sosial juga bisa memberi harapan yang tidak realistik dan menciptakan perasaan ketidakcukupan serta kepercayaan diri rendah. Hal itu bisa menjelaskan mengapa Instagram mendapat nilai terburuk dalam hal citra tubuh dan kecemasan.

Salah satu responden menulis, “Instagram denga mudah membuat gadis dan wanita merasa tubuh mereka kurang ideal sehingga banyak orang mengedit fotonya agar mereka tampak sempurna”.

Semakin sering orang muda membuka media sosial, makin besar pula mereka merasa depresi dan cemas.

Wajar saya kaget dengan survei tersebut, dalam sehari kalau dikalkulasikan mungkin saya menghabiskan sekitar 6 jam hanya untuk membuka intagram. Saya yakin tidak hanya saya, mereka anak muda yang memiliki smartphone juga begitu.

Secara tidak sadar, kita telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk meihat hal yang kurang bermanfaat. Melihat foto mereka yang sedang melakukan perjalanan, foto mereka yang berduan dengan pasangan, foto mereka dengan segala kemewahannya. Tanpa sadar hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi mental dan psikiologis, menganggap mereka yang di foto adalah orang yang paling bahagia atau menarik dibandingkan dengan kita sendiri (FOMO).

Padahal mereka hanya membagikan momen bahagia saja, sementara dibelakang itu banyak momen yang kurang menyenangkan yang tidak mereka bagikan.

Penting untuk mengingatkan para pemuda, terutama diri sendiri supaya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat dan produktif.

Sama sekali tidak ada yang bisa melarang kita dalam penggunaan media sosial karena bermedia sosial menyangkup ruang pribadi. Namun jika penggunaan yang berlebihan dapat mengganggu kondisi psikologis dan mental, lebih baik kita membatasi waktu dalam penggunaan media sosial tersebut terutama instagram yang telah terbukti buruk bagi kesehatan mental.

Komentar