SHARE
KB. PII Aceh. Sumber foto: Zawiyah Miswari.

Oleh Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL, MA*

Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB.PII) Aceh merupakan tempat berkumpulnya anggota PII di seluruh Aceh yang sudah tidak lagi duduk dan aktif dalam kepengurusan PII pada hari ini, baik di pengurus wilayah di peringkat provinsi, pengurus daerah di peringkat kabupaten/kota, pengurus komisariat di peringkat kecamatan, maupun pengurus rayon di peringkat kemukiman. Mereka semua berkumpul dalam wadah perhimpunan KB. PII. Aceh yang merupakan organisasi terpisah dari pengurus PII yang masih aktif di seluruh Aceh. Perhimpunan KB. PII. Aceh juga mempunyai struktur kepengurusan yang sama dengan pengurus-pengurus PII yang masih aktif, yaitu memiliki pengurus wilayah, pengurus daerah, pengurus komisariat, dan pengurus rayon. Namun yang aktif bergerak hanya sampai kepada pengurus daerah saja karena pengurus di bawahnya sudah terkafer oleh kepengurusan PII yang masih aktif.

Semenjak tahun 1950 ketika resmi wujud Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia di Aceh yang diketuai oleh M. Nur Hanafiah sampai hari ini baru lima orang Ketua Umum Perhimpunan KB. PII. Aceh yang tercatat dalam sejarah, yaitu: Abdul Rani Rasyid (A. R. Rasyidi/mantan ketua umum PW. PII. Aceh periode 1964-1967) menjadi ketua umum KB. PII. Aceh periode 1977-1985, Alfian Husin Hitam menjadi ketua umum KB. PII. Aceh periode 1985-1994, A. Malik Raden (mantan ketua umum PW. PII. Aceh periode 1967-1969) menjadi ketua umum KB. PII. Aceh periode 1995-2004, 2004-2008, 2008-2012, Miswar Sulaiman (mantan ketua umum PW. PII. Aceh periode 1972-1973) menjadi ketua umum KB. PII. Aceh periode 2012-2017, dan Muhammad Yus, mantan ketua umum PW. PII. Aceh periode 1979-1981 menjadi ketua umum KB. PII periode 2017. Mereka semua adalah kader-kader terbaik PII. Aceh yang sudah berkiprah di berbagai lembaga dan institusi negara seperti anggota DPR Aceh, Kepala PUSKUD Aceh, anggota DPR. RI., anggota DPD RI, ketua ormas Islam, negosiator perundingan GAM dengan RI., dan sebagainya.

Potensi

Memantau eksistensi kader-kader PII di Aceh nampak mereka sudah lumayan banyak dan berkiprah di berbagai level masyarakat dan lembaga-lembaga negara serta instansi pemerintahan yang memiliki otoritas untuk membangun Aceh dan bangsa Aceh dengan pembangunan yang Islami. Namun sejarah membuktikan ketika para kader PII Aceh menjadi kepala daerah, ketua DPRA, Pangdam Iskandar Muda, kepala dinas, kepala Biro, kepala badan dan sebagainya, tidak jelas sesuatu yang islami yang dikreasikan mereka. Padahal dalam training dahulu mereka sudah berikrar, sudah berbai’at, dan sudah berjanji ingin beramal untuk Islam dan muslimin dengan amalan yang islami. Namun ada di antara mereka yang tersandung dengan korupsi, ada apa dalam training PII sehingga begini yang terjadi.

Padahal anggota KB. PII. Aceh dikenal orang sebagai kader PII yang militan, istiqamah, berani, tegas dan berkepribadian. Namun kenapa ketika mereka menduduki posisi-posisi penting dalam negara ini terkesan tidak beda dengan orang-orang lain yang berbeda latar belakang dengan mereka sehingga ada yang sama-sama menjurus ke lembah hitam kelam yang memalukan dan membahayakan. Belum lagi kita bicara untuk mengajak ummah mewujudkan Islam dan syari’at Islam dalam wilayah kepemimpinannya, belum lagi kita bicara kesiapannya untuk berdiri di hadapan ummah sebagai imam besar dalam perjuangan menegakkan Islam di bumi Aceh tercinta. Belum lagi kita berbicara untuk pergerakan melawan kedhaliman ibu kota Jakarta terhadap Aceh yang selalu didiskriminasinya. Belum lagi kita bicara untuk mewujudkan sebuah negara Islam di atas permukaan bumi ini.

Kalau mau bicara jujur tentang KB. PII. Aceh sesungguhnya di sana tersimpan potensi besar yang belum tentu ada pada organisasi-organisasi lain. Di sana tersimpan potensi luarbiasa yang tidak biasa dimiliki organisasi dan komunitas manusia lain. Di kalangan KB. PII. Aceh terdapat puluhan guru besar terutama sekali di dua perguruan tinggi negeri di Darussalam. Di kalangan KB. PII. Aceh ada birokrat yang memiliki posisi dan jabatan penting dalam pemerintah Aceh. Di kalangan KB. PII. Aceh terdapat para pengusaha sukses yang belum tentu ada dalam komunitas manusia lainnya. Dalam perhimpunan KB. PII. Aceh ada insan-insan professional seperti advokat, pengacara, dokter ahli, para pedagang sukses, para budayawan, muballigh professional, motivator handal, dan lainnya.

Semua itu menjadi modal bagi rakyat PII untuk mewujudkan suatu iklim dan suasana ramah yang berkaitan dengan kesejahteraan ummah dan selaras dengan ketentuan Islam bagi ummat manusia di bumi Aceh. Kalau semua potensi tersebut terorganisir dalam satu ikatan aqidah Islamiyyah selaras dengan ketentuan iman maka rakyat PII di Aceh akan menjadi pemilik sekaligus penguasa dan pengelola bumi Aceh yang makmur ini dengan aplikasi dan implementasi syari’ah Allah sebagai sebuah kewajiban muthlaq bagi bangsa Islam di alam raya ini.

Kenapa deskripsi situasi semacam ini belum wujud di Aceh padahal usia PII terhitung tahun kelahirannya 1947 sudah 60 tahun pada tahun 2017 hari ini. Ada apa yang salah dengan kader PII, ada apa yang tidak benar dengan training PII, ada apa yang tidak selaras dengan ketentuan Ilahi. Mari masing-masing kader PII dalam kepengurusan KB. PII. Aceh periode 2017-2022 yang baru ini sama-sama memikirkannya untuk mencari solusi dan jalan keluar sehingg masyarakat PII ada karya, ada titipan, ada warisan, ada bibit yang ditanam hari ini untuk menjadi bekal bagi anak cucu dan generasi nanti.

Kalau boleh kita transparankan lebih lugas lagi dengan potensi kader-kader PII yang luar biasa di Aceh hari ini, makjun apa yang sudah ditinggalkan untuk menjadi obat bagi anak cucu nanti ketika rumah sakit tidak lagi berfungsi, ketika thabib dan dokter ahli sudah tiada bermakna lagi. Ketika anak cucu terpaksa makan sehari sekali dan minum air-sisa embun pagi. Ataukah kader-kader PII. Aceh hari ini hanya aman memikirkan diri dan keluarga sendiri? Senang dan bangga dengan jabatan sebagai pegawai negeri, dan lezat dengan kecanggihan teknologi yang dapat menghantarkannya ke neraka nanti, sehingga tidak sedikitpun tergores di hati; bagaimana ‘aqidah anak cucu bangsa Islam Aceh dua puluh tahun lagi? Bagaimana syari’ah yang hari ini wujud lima belas tahun lagi? Bagaimana pendidikan mereka di era yang hidupnya nafsi-nafsi nanti.

Jadikanlah pelajaran penting dari negara Somalia yang manusia hidup tidak bergizi, mereka makan sehari hanya setengah kali. Hidup mereka jauh dari pendidikan dan kebahagiaan. Lihat juga jeritan muslim Rohingya di Rakhine State yang dibantai, dibakar, dicencang, dan diusir dari negeri sendiri akibat kelalaian generasi dahulu. Kelalaian generasi hari ini membawa padah kepada generasi nanti, ketidak pedulian generasi hari ini menjadi bencana bagi keturunannya nanti walaupun mereka sudah tidak melihatnya lagi. Na’uzubillah.

Orientasi Khanduri

Rakyat PII. Aceh mempunyai kemampuan, mempunyai peluang, mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semua kemungkinan. Mempunyai masa untuk memperbaiki semua itu kalau mereka mau, mau yang kita maksudkan di sini adalah mau berpikir, mau beramal, mau membantu, mau berkorban harta benda, waktu dan usia, dan yang amat penting adalah mau bersaudara. Selama ini rakyat PII belum mau bersaudara dengan sesama rakyatnya, mereka cenderung siap menjadi pengekor pihak lain yang bukan rakyat PII. Mereka juga senang diperintahkan orang lain ketimbang saling memerintahkan sesam PII sehingga pada musim-musim pemilu, pilkada rakyat PII tidak pernah bersatu untuk Islam dan PII. Mereka senang menjadi babu orang yang bekerja sebagai orang upahan untuk memenangkan kandidat seseorang di luar kalangan PII.

Kalau ada yang mengajak untuk mengangkat kader PII sendiri, serentak rakyat PII menolaknya karena takut kehilangan sedikit jabatan yang sedang dinikmati. Padahal kalau kader PII Berjaya jabatan yang lebih besar dari itu akan diperolehnya. Namun dasar kaum tidak bersatu, tidak mau bersatu, dan tidak mau dipersatukan, maka begitulah jadinya dari zaman ke zaman. Mental baja dari medan training dahulu kini menjadi mental kerja upahan yang hilang dan runyam tidak berbekas. Semangat jihad dari arena training dahulu kini berganti dengan semangat pahat memahat untuk kehancuran ummat sendiri.

Kalau begitu terus menerus perkembangan keberadaan kader-kader PII Aceh maka tidaklah heran kalau kegiatan harian, kegiatan mingguan, kegiatan bulanan sampai kepada aktivitas tahunannya hanya berkisar dari satu khanduri ke khanduri lainnya. Jadilah program kerja utama KB. PII. Aceh yang berorientasi khanduri, dan jadilah para kader PII. Aceh sebagai generasi khanduri. Mereka tidak mampu berpikir dan berbuat lebih dari itu karena sudah terlanjur mensetting bahwa organisasi Perhimpunan KB. PII. Aceh hanya sekedar organisasi silaturrahmi yang kegiatan utamnya adalah makan-makan khanduri, dan program kerja terpentingnya adalah ngekor-ngekor orang yang maju menjadi calon bupati/walikota/gubernur. Ya Allah, ya Rabbi, jadikanlah para kader PII. Aceh sebagai penerus risalah Nabi supaya mereka tidak mendapat azabMu di hari nanti.

Pidato PB. KB. PII Dr. Jayadi Hanan tentang eksistensi PII dan langkah-langkah memajukan PII kedepan dalam acara pelantikan PW. KB. PII Aceh, serta pidato Ketua Umum KB. PII. Aceh yang baru Tgk. Muhammad Yus yang berapi-api ingin menguasai Aceh kembali pada hari Jum’at malam Sabtu 24 November 2017 di Anjong Mon Mata dapatlah dijadikan pijakan untuk meraih masa depan rakyat PII yang bermartabat dan gemilang. Insya Allah.

*)Ketua Umum PW. PII Daerah Istimewa Aceh periode 1986-1988, Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh dan Dosen Siyasah pada Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
[email protected]

Komentar