Sumber Foto: selidiki.com

Saya semakin yakin bahwa kehidupan di zaman android adalah kehidupan yang selalu terkejut-kejut. Zaman ini selalu saja menghadirkan kejutan-kejutan yang tiada henti. Dengan peralatan android, kejutan-kejutan ini terdistribusi dengan cukup merata ke seluruh pelosok negeri. Pendistribusian kejutan-kejutan ini juga terus bergerak cepat dengan dukungan fasilitas internet wifi yang telah menerobos lorong-lorong kecil di perkampungan.

Di zaman ini, kenikmatan kopi pun sudah hilang sama sekali jika tidak didukung oleh password wifi. Satu-satunya alasan ke kedai kopi bagi yang “miskin” paket data adalah demi password, sementara kopi hanya sebagai pintu masuk untuk mendapatkan password. Akhirnya, password dan paket data menjadi kunci untuk dapat hidup di zaman ini. Hidup dalam keterkejutan.

Baru-baru ini kita juga dikejutkan dengan “keterkejutan” sebagian warga Pidie Jaya terkait bantuan dari Budha Tzu Chi. Para perawi berita mengabarkan bahwa telah terjadi penolakan dari warga Pijay terhadap bantuan pembangunan Kampus Akademi Komunitas Negeri (AKN) dari Yayasan Budha Tzu Chi Indonesia. Informasi yang berkembang menyebut bahwa penolakan ini salah satunya didasari oleh adanya simbol-simbol agama Budha dalam prosesi peresmian.

Bupati Pijay sebagaimana dilansir oleh beberapa media mengaku bantuan tersebut adalah bantuan kemanusiaan dalam rangka membantu Pidie Jaya pasca gempa pada 2016 lalu. Menurut Bupati, bantuan tersebut murni aksi kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan misi tertentu. Hal ini kemudian juga diperkuat dengan pernyataan dari Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pidie Jaya. Adapun terkait logo yang sempat memicu reaksi publik, menurut Bupati logo tersebut milik yayasan, bukan simbol agama.

Seperti telah disinggung di awal, berkat fasilitas android akhirnya berbagai informasi tak jelas pun bertaburan via media sosial. Dan tombol share pun memainkan fungsinya dengan cukup baik sehingga berita-berita miring terhadap bantuan tersebut pun menyebar merayap mengunjungi beranda-beranda facebook yang memang tak pernah sepi dengan lalu-lintas informasi yang bersumber dari “antah-berantah.”

Akhirnya debat kusir pun tak dapat dihindari dengan ragam sudut pandang. Sebagian kalangan menggunakan dalil-dalim agama guna menolak segala bantuan yang disebutnya berasal dari kafir. Sementara beberapa pihak lainnya mencoba menggunakan neraca politik untuk menghakimi pemkab Pidie Jaya. Sedangkan selebihnya adalah “pengikut” kedua kubu ini.

Uniknya lagi, ada pula netizen yang menggunakan sudut pandang perasaan dalam melihat penolakan terhadap bantuan Budha Tzu Chi di Pidie Jaya. Netizen tersebut terlihat mencoba mencari alasan-alasan logis guna melakukan pembenaran terhadap gerakan penolakan pembangunan Kampus AKN. Dia menyatakan bahwa penolakan kampus tersebut didasari oleh kekhawatiran, kekhawatiran dan kekhawatiran akan begini dan begitu.

Tentu tidak ada yang salah dengan segudang kekhawatiran yang ditawarkan oleh nitezen di laman facebooknya. Tidak ada larangan untuk khawatir. Namun kita akan sangat menyayangkan jika kekhawatiran tersebut hanyalah kekhawatiran buta tanpa didasari oleh pengetahuan yang cukup. Apalagi jika kekhawatiran dimaksud hanya didasari oleh keterkejutan, tentu akan menghadirkan kebingungan baru. Kekhawatiran dalam kondisi terbatasnya pengetahuan alias kekurangan data akan membuat si pelakunya sesuka hati mengubah asumsi menjadi kesimpulan.

Namun demikian, pada prinsipnya kita mendukung segala jenis kekhawatiran asalkan saja berbasis riset, bukan hasil perenungan seorang diri di kamar sepi. Sebab persoalan sosial hanya bisa diselesaikan oleh praktisi dengan kerja-kerja nyata, bukan oleh filsuf dengan segudang argumen yang mengapung.

Mengakhiri coretan ini, saya mengajak diri sendiri dan kita semua untuk secerdas mungkin mengelola keterkejutan agar ia tidak berubah menjadi kekhawatiran tanpa alasan sehingga kita terjebak dalam khawatirisme yang berterusan. Semoga saja polemik pembangunan AKN di Pidie Jaya dapat segera terselesaikan dengan cara-cara yang beradab dan bermartabat tanpa dinodai oleh kepentingan politik pihak tertentu.

Komentar

Khairil Miswar
Khairil Miswar saat ini berstatus sebagai Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Pada saat konflik Aceh berkecamuk penulis aktif dalam gerakan mahasiswa khususnya dalam aksi-aksi kemanusiaan dalam menangani pengungsi dan korban konflik. Pasca konflik penulis pernah terlibat dalam partai politik lokal sebagai Ketua Partai SIRA Bireuen. Saat ini penulis juga mengabdi sebagai seorang guru di sekolah rendah di perkampungan.