BERBAGI
Foto: http://www.lampost.co

Belasan waria dari dari beberapa salon di Kabupaten Aceh Utara berhasil diamankan oleh pihak kepolisian. Antaranews.com (29/01/18) dengan mengutip pernyataan Kapolres Aceh Utara menyebut belasan waria tersebut dijaring dari lima salon yang tersebar di Lhoksukon dan Panton Labu. Berhembus kabar bahwa pihak Polres Aceh Utara juga berupaya melakukan pembinaan kepada para waria agar mereka “kembali ke habitatnya.”

Sebaliknya, kabar dengan nada berseberangan datang dari bbc.com (31/01/18). BBC dengan mengutip pernyataan Hartoyo menuding aksi penangkapan oleh Polres Aceh Utara telah menimbulkan ketakutan bagi pengusaha salon. Menurut Hartoyo, tindakan penangkapan ini telah menghilangkan pekerjaan pengusaha salon. Aksi protes, masih menurut BBC, juga datang dari Komisi Nasional Hak Azasi Manusia yang mengecam tindakan kepolisian terkait penangkapan terhadap para waria. Menurut Komnas HAM, tindakan tersebut telah merendahkan martabat manusia.

Menyimak kutipan ringkas di atas, ada beberapa hal yang penting diluruskan, itu pun kalau mereka masih mau lurus, jika tidak maka biarkan saja mereka abadi dalam kebengkokan. Pernyataan Hartoyo yang menyebut tindakan Polres Aceh Utara telah menghilangkan pekerjaan pengusaha salon adalah pernyataan yang bertentangan dengan akal sehat, itu pun jika “Nyonya” Hartoyo masih sehat. Sebab yang dilarang warianya, bukan salonnya.

Hartoyo secara tidak sadar telah “mengawinkan paksa” antara waria dan salon. Artinya, Hartoyo telah memunculkan kesan bahwa salon identik dengan waria. Padahal tidak semua salon menggunakan waria sebagai pekerja. Dan untuk bekerja di salon tidak harus menjadi waria.

Kemudian pernyataan Komnas HAM yang menyebut tindakan penangkapan waria telah merendahkan martabat manusia. Lagi-lagi ini adalah pernyataan konyol yang terus diulang-ulang dari tahun ke tahun. Di sini juga terlihat ketidakmampuan oknum Komnas HAM untuk mencari jawaban lain yang lebih modern dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Martabat manusia hanya akan tinggi jika ia mampu menjadi manusia seutuhnya. Sebaliknya, martabat manusia itu akan tenggelam terbenam jika dia tidak mampu memanusiakan dirinya. Dalam hal LGBT, justru mereka sendiri yang merendahkan martabatnya. Lantas bagaimana pula mereka berharap orang lain mengangkat martabat mereka? LGBT tidak hanya bertentangan dengan ayat-ayat Tuhan, tapi ia juga bertubrukan dengan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Namun di sebalik itu, hendaknya penangkapan terhadap para waria tidak dirayakan layaknya pesta. Artinya, hak-hak mereka sebagai manusia dan makhluk Tuhan pun harus tetap dijaga. Secara pribadi, saya sangat tidak sepakat dengan penyebaran foto-foto waria yang dilakukan oleh siapa pun, sebab penyebaran foto tersebut pada prinsipnya juga “kejahatan.” Bagaimana jadinya jika para waria ini benar-benar “bertaubat” dan kembali ke “habitatnya”, sementara foto-foto tak layak itu sudah terlanjur tersebar luas di media sosial? Apakah adil jika aib itu tersebar terus menerus tanpa henti?

Sementara itu, dalam keterangannya yang dirilis serambinews.com (30/01/18), Kapolres Aceh Utara menyebut para waria tidak hanya mengingkari kodrat sebagai lelaki, tapi juga menentang ciptaan Tuhan. Sebagai seorang muslim yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan bahwa makhluk ini diciptakan berpasang-pasang, maka saya sepakat dengan pernyataan Kapolres bahwa LGBT telah mengingkari kodratnya.

Tapi, saya sedikit terkejut membaca statemen Kapolres Aceh Utara: “Kalau saya jadi Tuhan saya akan ubah merek jadi kodok atau batu.” Dalam pandangan awam saya, ini adalah sebuah ketergelinciran yang mungkin tidak disengaja atau mungkin karena ketidaktahuan. Tanpa bermaksud menafikan semangat dan kerja keras dari beliau, pernyataan serupa ini tentu tidak layak diucapkan oleh seorang muslim, meskipun hanya anda-andai. Sebab ini adalah andai-andai yang sangat-sangat mustahil.

Mengandaikan diri menjadi Tuhan sama saja dengan mengingkari Keesaan Tuhan. Sebab sungguh aneh jika di satu sisi kita mengakui Tuhan sebagai Esa, tapi di sisi lain kita masih berandai-andai menjadi yang esa. Ini adalah andai-andai yang tidak dapat dimengerti sampai kapan pun.

Demikian pula dengan pernyataan  bahwa “jika saya menjadi Tuhan saya akan ubah mereka jadi kodok atau batu.” Pernyataan ini juga sebuah lelucon yang sama sekali kurang lucu. Jika memang Tuhan ingin menjadikan LGBT sebagai kodok atau batu, maka sudah dari dulu Tuhan lakukan itu. Dan seandainya LGBT sudah menjadi kodok dan batu, maka peran kita untuk meluruskan mereka sudah selesai. Sebab LGBT dari kalangan kodok dan batu tidak bisa dihukum.

Kemudian, pernyataan tersebut secara tidak langsung juga telah mencurigai bahwa Tuhan “telah silap.” Artinya, tanpa sengaja kita telah “menyalahkan” Tuhan karena tidak menjadikan LGBT sebagai kodok atau batu sehingga kita pun berandai-andai menjadi Tuhan. Tentunya keyakinan serupa ini sangat tidak layak dianut oleh seorang muslim.

Dengan tetap memberikan apresiasi kepada Kapolres atas kerja kerasnya, hendaknya kita semua tidak larut dalam eforia sehingga tenggelam dalam sanjung puji yang berujung pada munculnya “keangkuhan” dan “ketergelinciran” tanpa kita sadari. Wallahu A’lam.

Komentar

BERBAGI
Khairil Miswar
Khairil Miswar saat ini berstatus sebagai Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Pada saat konflik Aceh berkecamuk penulis aktif dalam gerakan mahasiswa khususnya dalam aksi-aksi kemanusiaan dalam menangani pengungsi dan korban konflik. Pasca konflik penulis pernah terlibat dalam partai politik lokal sebagai Ketua Partai SIRA Bireuen. Saat ini penulis juga mengabdi sebagai seorang guru di sekolah rendah di perkampungan.