SHARE

Pada Hari Jumat yang penuh berkah, tanggal 18 Agustus 2017, Kampus Universitas Malikussaleh (Unimal) di Reuleut, Muara Batu, Aceh Utara, dibakar oleh seorang mantan pekerja honorer bernama Safwandi Nurdin. Dengan bermodalkan satu liter minyak pertalite yang ia beli dari stasiun penjualan bahan bakar, ia kemudian dengan gagah berani menyulut api di beberapa sudut pusat data akademik dan administrasi kampus Unimal yang merupakan kampus kebanggaan masyarakat Aceh bagian utara. Kampus —yang berdiri tahun 1969 dan dinegerikan tahun 2001 sedikit demi sedikit mulai berbenah dan mulai tampak hijau pepohonan rimbun— ini pun terbakar. Api segera melahap hampir semua bagian vital dari dayah manyang (kampus) yang mengambil nama Sultan Malikussaleh. Setelah lidah api berkobar dan menjilat seluruh gedung rektorat, pemadam kebakaran datang meninjau memadam si jago merah. Sebagai arsonist sejati, Safwandi pun menyerahkan diri ke polisi dengan penuh kepuasan dan dengan lancar menyatakan alasannya membakar kampus itu.

Safwandi kecewa karena status hubungan industrialnya dengan kampus Unimal berakhir dan istrinya, yang juga bekerja di kampus yang sama, tidak diangkat sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil). PNS adalah status yang diidam-idamkan oleh setiap pekerja di industri pendidikan, sebuah status yang nyaman dengan gaji yang relatif cukup dan kemudian bisa santai berleha-leha tanpa bisa dipecat walau oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sekalipun! Menjadi pekerja honorer adalah menjadi budak dari PNS yang setiap saat disuruh untuk disiplin, hormat dan bekerja hingga tetes darah penghabisan. Menjadi honorer sama sekali tidak terhormat (dishonour) dan Safwandi sudah hampir sepuluh tahun menunggu diangkat menjadi PNS.

Namun, sungguh sayang, ketika lowongan PNS dibuka, banyak tenaga honor yang sudah mengabdi lama untuk kampus banyak yang tidak lulus tes, yang lulus justru yang fresh graduate yang tidak sengaja pulang kampung dan ikut tes untuk iseng-iseng saja. Akhirnya Safwandi dan 502 pekerja honor lainnya terpaksa memperpanjang sabar dan kembali mengabdi untuk para PNS di kampus itu. Negara tidak menghargai penantian panjang para pengabdi institusi ini. Tidak pernah ada reformasi birokrasi yang turun menyirami kegersangan status industrial mereka yang rentan ini. Negara ini seakan tidak punya inovasi untuk menjawab problema ini. Negara abai terhadap jiwa-jiwa kaum honorer yang terbakar oleh emosi. Negara yang tanpa inovasi bisa mengorbankan banyak sekolah, kampus, rumah-sakit, dan fasilitas apapun milik rakyat jika negara dikelola tanpa reformasi birokrasi dan jauh dari good-governance.

Negara seakan hadir dengan wajah yang jumawa dan keras. Kampus yang sebenarnya menjadi oposisi negara sejak dulu hingga sekarang, dianggap telah bersekutu dengan setan birokrasi negara. Maka, pagi itu Safwandi pun melampiaskan emosinya ke kampus yang dianggap sebagai wakil negara yang paling vulnerable (mudah diserang). Sebagai objek yang paling rentan dan terbuka untuk semua orang, kampus sering menjadi obyek pelampiasan semua kekecewaan. Kampus tidak hanya menjadi lembah silikon ilmu pengetahuan yang bisa diakses siapa saja, namun juga menjadi lembah durjana yang siapa saja bisa terjun berpartisipasi di dalamnya. Kampus Unimal sering menjadi obyek pelampiasaan semua emosi semenjak masa konflik antara GAM dan Pemerintah RI dari tahun 1989-2005, hingga sekarang.

Ide membakar kampus tumbuh subur di semua masyarakat beradab hingga yang kurang beradab. Di Amerika Serikat, ketika demo-demo anti-Trump terjadi dimana-mana dengan begitu meriah dan gempitanya, ide ini pun sempat mencuat meskipun kemudian batal. Pembakaran ban, poster dan umbul-umbul serta fasilitas publik terjadi secara merata. Warga Amerika kecewa negaranya dipimpin oleh seorang rasis dan intoleran yang dipilih oleh sistem demokrasi populis. Para demonstran anti-Trump bahkan mengajukan usul nyeleneh (indecent proposal) untuk membakar kampus sebagai simbol runtuhnya ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam peradaban Amerika. Eleanor Hamel, seorang dosen di Orlando segera menjawab, If the public wants to protest, perhaps burning a college campus is where we are today, but do we need to encourage that act? Sad. (Jika publik ingin protes, membakar kampus adalah hal yang sedang keren sekarang ini, tapi apakah kita perlu mendukung ide ini? Menyedihkan!)

Ada satu hal yang justru lebih menyedihkan ketimbang yang terjadi di Amerika. Beberapa (untuk tidak menyebut banyak) mahasiswa dan dosen Unimal tiba-tiba mendukung tindakan Safwandi dan menduga bahwa ia hanya korban dari kejamnya sistem hubungan industrial di kampus. Para mahasiswa dan dosen itu bahkan menduga ada hal-hal yang penuh konspirasi sedang terjadi di kampus ini, di samping beberapa cerita takhyul yang marak berkembang. Padahal dari dulu hingga sekarang, Unimal adalah kampus yang humble and sorrowful dan sering ditipu serta dikacak oleh masyarakat yang sangat cerdik di sekitarnya. Kasihan sekali Unimal, kini bahkan mahasiswa dan dosen yang merupakan aliansi utama civitas akademika bagi benteng terakhir ilmu pengetahuan pun sudah berkhianat mendustai periuk nasinya sendiri. Ada apa dengan komunitas terpelajar yang seharusnya sudah tidak lagi percaya dengan hal-hal konspiratorial dan takhyul, kok justru yakin adanya konspirasi di balik pembakaran tersebut.

Seharusnya, kaum terpelajar membakar semangat sivitas akademika yang jumud dalam pemikiran dan beku dalam pengabdian masyarakat. Boris Yeltsin, yang pernah memimpin Uni Soviet yang kemudian terpecah belah pernah mengatakan: Seorang intelektual harus hidup seperti nyala api yang hebat dan membakar secerah yang dia bisa. Tentunya yang dimaksudkan adalah makna konotatif bahwa seorang akademisi haruslah bisa membakar semangat sivitas akademika untuk meraih ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjawab rahasia alam. Mengapa para mahasiswa dan sebagian dosen memandang seruan Boris Yeltsin atau Mahdi Warjio temannya Safwandi secara denotatif: membakar kampus dengan api yang menyala-nyala, bukan dengan semangat anti kejumudan. Akademisi bukanlah seorang arsonist (penyulut api kriminal), melainkan seorang ilmuwan yang mengerti seni artistik. Mari kita “membakar” karma dan kejumudan yang ada di kampus-kampus kita dengan terobosan teori dan metodologi.

Di tengah duka yang mendalam ini dan pengkhianatan internal (beberapa) warganya, Unimal mendapatkan empati dari berbagai kalangan yang sama derasnya dengan empati yang mengalir untuk Safwandi. Bupati Aceh Utara, Cek Mad, dan juga Kepala Pemerintahan Aceh, Irwandi Yusuf, berjanji akan membantu Unimal dengan mebelier, server dan juga gedung. Syukur-syukur jika gedung bekas Kantor Bupati bisa dihibahkan untuk kampus Fakultas Kedokteran Unimal. Semoga.****

*)Al Chaidar, dosen Antropologi, FISIP, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

Komentar