SHARE
Ikhwan Muslim

SUATU ketika saya bertemu dengan salah seorang alumni SMK (Sekolah menengah kejuruan). Saya melihat dia bekerja sangat rajin dengan menjual dagangan makanan menggunakan becak.

Dia pun menyapa dengan penuh hormat dan takzim. Sebagai guru yang pernah mengajarnya, tentu saya sangat tersentuh melihat akhlak siswa tersebut. Namun dibalik cerita yang mengharu biru itu, saya menyimpan rasa sedih mendalam, karena harus melihat anak tersebut bekerja tidak sesuai dengan keahliaan saat bersekolah di SMK. Dulu dia mengambil jurusan teknik kendaraan ringan.

Sekelumit cerita ini adalah pengantar bagaimana relevansi SMK di Aceh dengan bidang kerja masih menjadi pekerjaan rumah besar.

SMK merupakan sekolah yang mempersiapkan lulusannya mempunyai kompetensi tertentu sesuai bidang keahlian. Dengan adanya sekolah ini kita berharap tingkat pengangguran akan berkurang karena terserap oleh lapangan kerja.

Jika dilihat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Aceh pada Agustus mencapai 6,57 persen. Angka itu lebih rendah 0,82 persen dibanding Februari 2017 yang ketika itu sebesar 7,39 persen.

Selain itu, juga lebih rendah 1 persen dibanding TPT Agustus 2016 yang ketika itu 7,57 persen. Sedangkan TPT tertinggi di Aceh adalah angkatan kerja lulusan SMK yang mencapai 10,95 persen.(serambi Indonesai 7/11/2017).

Fakta lainya adalah Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan kualitas lulusan smk belum penuhi kebutuhan industri (Republikaonline 7/11/2017). Kita kemudian bertanya dan terheran, kenapa hal tersebut terjadi.

Padahal jika ditelisik lebih dalam bahwa seharusnya SMK menyediakan lulusan yang berkompeten dan sesuai dengan dunia kerja. SMK, dengan program link and matchnya dengan industri seharusnya telah mencipatakan tenaga yang terampil dan dan dapat bersaing dalam dunia kerja.

SMK seharusnya memperhatikan sektor unggulan yang dikembangkan oleh pemerintah provinsi Aceh, serta sektor unggulan kabupaten. Sehingga lulusannya dapat terserap dalam dunia kerja. Di samping itu pengembangan SMK juga perlu melihat skala prioritas pembangunan nasional.

Berbicara SMK di Aceh tentu harus dipandang dalam beberapa aspek. Setelah peristiwa tsunami yang melanda Aceh diakhir tahun 2004, progam rehabilitasi dan rekontruksi mulai dilaksanakan. SMK termasuk salah satu sekolah yang masuk dalam program tersebut. Bantuan yang sangat melimpah pada masa tersebut membuat banyak SMK baru yang didirikan.

Hal ini juga ternyata berdampak pada jurusan baru yang dibuka. Banyak jurusan yang kemudian dibuka tanpa memperhatikan sumber daya pendidik. Akibatnya setelah program rehab rekon selesai maka banyak SMK yang masih belum mempunyai guru jurusan yang permanen. Akibatnya lulusan yang dikeluarkan tidak kompeten.

Kendala

Banyak kendala dalam mengembangkan SMK. Disini penulis menganalisis secara umum saja. Yang pertama Akibat jurusan yang dibuka beraneka ragam, sehingga kendala yang dihadapi adalah tidak adanya guru produktif/bidang yang cakap.

Sehingga produk akhir dari SMK sama seperti produk akhir SMA atau sekolah lain yang sederajat. Akibatnya pembelajaran yang berlangsung banyak teori dari pada prakteknya.

Kemudian, yang kedua masalah sarana juga menjadi masalah yang sangat serius dalam pelaksanaan pembelajaran. Kurangnya alat praktek membuat kemahiran dari peserta didik juga berkurang.

Masalah berikutnya atau yang ketiga adalah leadership dari kepala sekolah. Seorang kepala sekolah kejuruan harus seorang yang berjiwa enterprenuer. Blo siploh publo sikureung didalam rueng meuteume laba. Demikian bunyi salah satu hadih maja Aceh. Dengan mengambil hikmah dari hadih maja tersebut dapat kita simpulkan bahwa seorang kepala sekolah harus mempunyai jiwa wirausaha yang kuat, menjemput peluang dan mengadakan MOU dengan perusahaan-perusahaan sebagai mitra kerja.

Solusi
Dari sekian banyak analisa masalah diatas, maka menurut saya solusi dalam membangun SMK adalah sebagai berikut. Pertama Pemerintah Aceh dalam hal ini dinas pendidikan harus menertibkan jurusan yang ada di SMK. Setiap jurusan diwajibkan mempunyai guru produktif yang handal. Apabila tidak ada guru produktif, maka lebih baik jurusan tersebut ditutup.

Kemudian setiap jurusan yang dibuka harus mempunyai korelasi dengan pengembangan sektor unggulan daerah, sehingga lulusan dapat diterima dipasar kerja. Kedua, seorang kepala sekolah yang dipilih untuk SMK adalah seorang yang paham tentang SMK dan mempunyai jiwa wirausaha yang kuat.

Sehingga hal ini dapat mendorong iklim wirausaha untuk lingkungan pendidikan yang dia pimpin. Ketiga, tenaga ahli dalam hal ini guru perlu diupgrade sesuai dengan bidangnya. Jika memang tidak memadai bisa didatangkan tenaga ahli dari luar.

Walaupun sekarang pemerintah sedang mengadakan program keahlian ganda bagi guru SMK dalam rangka memenuhi kuota guru produktif, namun lulusan program tersebut tentu harus terus ditingkatkan kemampuannya melalui berbagai pelatihan.

Solusi lainnya adalah menyekolahkan alumni sekolah untuk menjadi guru. SMK perlu melakukan kerjasama dengan industri dalam hal penerimaan tenaga kerja. Sehingga alumninya dapat terserap pada bidang kerja masing-masing. Dan yang terakhir adalah memerger SMK yang terlalu banyak dalam satu kabupaten. Sehingga sekolah yang tidak layak dipertahankan dapat disatukan dalam rangka efisiensi dana pendidikan.

Peran SMK dalam mengatasi pengangguran sangat dinantikan. Aceh masih sangat butuh SMK dalam rangka mempersiapkan angkatan kerja terampil. SMK yang berkualitas dapat menjadi solusi pengangguran. Jelas Aceh masih sangat perlu SMK![]

Oleh : Ikhwanul Muslim, S.Pd., M.Pd (Guru SMK Negeri I Aceh Barat Daya).

Komentar

SHARE
Redaksi
aceHTrend menghadirkan berita dan opini yang dibutuhkan warga. Media ini didirikan oleh PT. Aceh Trend Mediana sebagai perusahaan pers untuk menjadi sarana berbagi informasi dan promosi bagi warga masyarakat, pebisnis, serta instansi pemerintahan yang ada di Aceh dan sekitarnya. Hubungi kami: [email protected]