SHARE

MANUSIA dalam perjalanan hidupnya senantiasa dihiasi dengan berbagai interaksi antar satu sama lainnya. Tak ayal Aristoteles mengatakan manusia ini adalah zoon politicon (makhluk sosial). Kebutuhan manusia terhadap manusia lainnya merupakan sebuah aksioma. Namun setiap relasi interaksi antar manusia juga tak terlepas dari konflik yang menyertainya.

Dalam kajian ilmu-ilmu sosial modern melihat bahwa konflik merupakan suatu keniscayaan sejarah. Konflik hadir, menjalar dan redup dalam realitas kemasyarakatan, penyebab yang memicunya sangat lah kompleks.

Gramcy mengatakan adanya hegemoni kelas penguasa sebagai pangkal masalah dan sekaligus sumber konflik yang potensial, sementara Karl Marx mengatakan sumber konflik adalah pada sistem penguasaan alat-alat produksi, dan penulis sendiri berpandangan salah satu sumber konflik adalah perbedaan dan pertentangan cara pandang teologis.

Cara pandang teologis yang fanatik, sempit dan eksklusif menjadi telur-telur konservatisme yang akan pecah menjadi sikap ekstrimisme sehingga berujung pada kekerasan dan konflik. Para ekstrimis yang mengaku sebagai pejuang-pejuang Tuhan semakin membooming akhir-akhir ini, apalagi sedang maraknya pembubaran pengajian oleh sebagian orang yang mengklaim dirinya paling benar dan nasionalis.

Maraknya kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan merupakan konsekuensi logis dari sikap memonopoli kebenaran (claim truth) sehingga memberi kesimpulan bahwa hanya menurut pandangan kelompoknya lah yang paling benar. Fenomena inilah yang mengajak kita untuk berpikir kembali bagaimanakah sikap keberagamaan yang ideal dizaman postmodern ini. Sehingga perilaku keberagamaan yang ingin dibangun adalah perilaku yang ramah bukan marah.

Islam dan Keindonesiaan

Indonesia dengan falsafah Pancasilanya begitu menginspirasi hak-hak individu dalam menganut keyakinan serta dengan kebinnekaannya menggambarkan bagaimana kondisi kemajemukan kultur, ras, agama, etnis dan golongan seharusnya menjadi contoh untuk dunia bagaimana pluralitas dapat menciptakan kesatuan dalam bingkai harmoni keindonesiaan.

Kokohnya landasan filosofis Pancasila merupakan hasil dari dalam dan luasnya pemahaman ke-Islaman dari pendiri bangsa kita, walaupun Pancasila telah melewati beberapa ancaman-ancaman dari pemberontakan PKI, DI/TII, dan gerakan-gerakan separatis lainnya yang dapat menggerogoti eksistensi Pancasila dan NKRI.

Buya Hamka pernah mengatakan bahwa sumber kekuatan Pancasila karena adanya prinsip ketuhanan yang maha esa, Buya Hamka menganalogikan bahwa Pancasila seperti angka 10.000. Sila pertama adalah angka satu dan pada sila kedua hingga kelima adalah angka nol yang tidak ada artinya tanpa angka satu yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Seberapa banyaknya angka nol maka tetap hasilnya nol. Jika masih ada beberapa orang yang mempertentangkan Pancasila dengan Islam, maka sesungguhnya orang tersebut sudah jauh ketinggalan zaman, karena seluruh sila-sila dari Pancasila merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai Islam yang menghargai keadilan sosial, kesetaraan, kegotongroyongan dan tentunya Ketuhanan yang Esa.

Saat ini kita memang sepatutnya mensyukuri keberadaan Indonesia sebagai negara yang memiliki dimensi teo-sosio-kultur yang plural ini relatif “adem” artinya tidak berkecamuk layaknya di sebagian wilayah jazirah Arab yang senantiasa berkonflik.

Walau demikian, kita juga jangan tuna sejarah, fakta berbicara bagaimana pernah terjadi kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan dan agama seperti halnya konflik penganut islam-kristen di Poso pada tahun 1998-2000, Bom Bali 2002 yang menewaskan ratusan manusia, Bom Jw Mariot dan Rizt Carlton, konflik Sampang antara Sunni-Syiah, penyerangan terhadap muslim Papua ketika shalat Idul Fitri, pembakaran tiang pembangunan Masjid di Samalanga Aceh dan maraknya pembubaran pengajian oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab menjadi catatan bahwa masyarakat kita yang plural ini tidak terlepas dari kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan dan Agama.

Tuhan dan Agama yang pada dasarnya menjadi sumber inspirasi kekuatan moral agar berwelas-asih sesama manusia berubah menjadi sumber imoralitas jika berada ditangan orang-orang yang memiliki sikap keberagamaan yang ekstrem ini. Hal tersebut sudah cukup rasanya menjadi catatan reflektif kita untuk senantiasa berkontemplasi dan merubah sikap agar tak terulang lagi peristiwa-peristiwa yang menyayat dimensi kemanusiaan ini.

Arus sikap keislaman yang moderat dan “menyejukkan” telah ada diwakili oleh beberapa organisasi keislaman terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah, Nahdlatul ‘Ulama dan juga organisasi-organisasi Islam moderat lainnya yang ada di Indonesia. Peran organisasi-organisasi moderat ini sangat lah besar bagi terjaganya stabilitas keberagamaan di Indonesia.

Kedepannya kita banyak berharap kepada Muhammadiyah, NU dan organisasi Islam lainnya untuk saling bersinergi dalam membina umat Islam Indonesia agar senantiasa bersikap sejuk, inklusif (terbuka) dan tentunya senantiasa cinta tanah air Indonesia. Serta kita berharap dimasa yang akan datang, umat Islam di nusantara adalah umat Islam yang berkemajuan.

Antara Sikap Eksklusivisme, Inklusivisme dan Paralelisme?

Dunia diciptakan oleh Tuhan dengan kondisi yang beranekaragam. Keanekaragaman tersebut begitu gamblang Tuhan pesankan dalam firmannya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…” (Q.S Al-Hujurat/13).

Doktrin teologis diatas merupakan gambaran bagaimana pluralitas itu merupakan kehendak Tuhan (sunnatullah) sehingga manusia wajib untuk mengadakan proses interaksi agar saling mengenal (ta’aruf) satu sama lainnya. Saling mengenal tersebut termanifestasi dalam sikap kita dalam mengadakan interaksi kepada lintas golongan dan lintas agama secara toleran.

Dalam penelitian ilmu-ilmu agama, paling tidak ada tiga sikap keberagamaan: yaitu eksklusivisme, inklusivisme dan paralelisme.

Pertama, sikap eksklusif adalah sikap keberagamaan yang tertutup dan cenderung untuk menghindari proses-proses dialogis lintas agama bahkan lintas aliran, kalaupun ada proses dialog sudah tentu dialog yang terjadi adalah dialog-dialog yang bersifat apologetis, reaktif dan mau menang sendiri.

Sikap keberagamaan eksklusif ini pada umumnya tumbuh subur pada kalangan akar rumput (grassroot) dan sikap eksklusif ini sangat dominan pada umat muslim saat ini. Sikap-sikap ini membawa pada cara pandang yang konservatif sehingga menghambat proses pembaharuan pemikiran Islam yang berkemajuan.

Diantara organisasi-organisasi di Indonesia yang memiliki sikap eksklusif ini diantaranya adalah Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Jema’ah Islamiyah, yang sangat terpaku pada formalisme-simbolisme Islam, mudah menjustifikasi orang yang memiliki pandangan ideologis berbeda, tertutup dengan wacana-wacana postmodern seperti humanisme, HAM, feminisme dll serta cenderung bersikap reaktif.

Sudah banyak usaha-usaha dari cendekiawan muslim dalam menyebarluaskan gagasan segar untuk mereduksi sikap-sikap eksklusif ini, seperti halnya yang dilakukan intelektual-intelektual dari yayasan Paramadina yang di prakasai oleh Nurcholish Madjid.

Buya Syafii Maarif dan kawan-kawan dengan buku Fiqh Lintas Agama-nya, kemudian pada tahun 2015 juga terbit buku Fikih Kebinekaan yang merupakan kumpulan artikel-artikel intelektual muslim Indonesia dalam acara Halaqah yang disponsori oleh MAARIF Institute, dan banyak lagi langkah-langkah konkrit yang dilakukan untuk menjaga hubungan harmonis lintas agama dan lintas sektarian. Walau sudah banyak usaha-usaha, namun hal tersebut tidaklah begitu terasa hasilnya pada kalangan awam (grassroot).

Kedua, sikap inklusivisme adalah antitesis dari sikap eksklusif, dimana pada sikap inklusif ini memiliki karakter terbuka terhadap pendapat-pendapat yang berbeda serta senantiasa mengadakan proses-proses dialogis yang inklusif, objektif dan toleran. Sikap inklusif tersebut lebih berkembang bagi kalangan menengah keatas baik dari segi ekonomi maupun kualitas pendidikan.

Nurcholish Madjid menjadi pemikir dan reformis Islam yang sangat aktif dalam menyebarluaskan gagasan inklusivisme ini di Indonesia. Hal tersebut dapat kita lihat didalam buku-bukunya seperti buku Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan, dan Islam Doktrin dan Peradaban.

Dalam konteks organisasi keagamaan, Indonesia memiliki dua organisasi Islam terbesar yang bernuansa inklusif yaitu Muhammadiyah dan NU. Begitupun jika kita melihat secara historis, kemajuan-kemajuan umat muslim pada abad pertengahan merupakan konsekuensi logis dari adanya sikap inklusif dalam mengadakan interaksi dengan ilmu Filsafat, tradisi intelektual dengan lintas bangsa, serta perjumpaan dengan kebudayaan Hellenisme Yunani.

Ketiga, sikap Paralelisme adalah sikap yang mengakui bahwa kebenaran juga terdapat pada pelbagai ajaran-ajaran agama. Inilah yang menurut penulis sikap paralelisme ini sangat mendukung paham Pluralisme Agama. Sikap ini memang sedikit kontroversial karena kurang membumi dengan masyarakat grassroots.

Didalam pandangan paralelisme ini melihat agama dari dua dimensi yaitu dimensi esoterik dan dimensi eksoterik. Dimensi esoterik adalah dimensi substansial agama yang pada dasarnya menyuruh kebaikan dan dimensi eksoterik adalah dimensi luar agama yang memiliki keanekaragaman bentuk dan kerangka antar setiap agama. Sehingga pada dimensi esoterik semua agama memiliki kebenaran transenden yang menjadi sumber inspirasi bagi moral manusia.

Berbagai perbedaan hanya terdapat pada dimensi eksoterik, bahasa sederhananya: substansinya sama namun bentuk atau kerangkanya yang berbeda. Ciri khas kategori ini penurut pengamatan penulis adalah bersifat substansialisitik dan menentang cara beragama yang formalisitik-coverlistik. Diantara komunitas yang paling aktif dalam menyuarakan gagasan ini adalah komunitas cendikiawan liberal Indonesia yaitu Jaringan Islam Liberal (JIL).

Penulis juga beranggapan bahwa Nurcholish Madjid termasuk dalam kategori ini, walau gagasannya adalah inklusivisme namun secara substansial gagasan tersebut bernuansa pararelisme, begitu pula halnya dengan Ahmad Wahib, Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Ahmad Syafi’i Maarif dan Moeslim Abdurrahman yang menjadi founding fathers gagasan ini di Indonesia.

Islam Berkemajuan Sebagai Wacana dan Aksi

Sebagai sebuah agama, Islam merupakan agama yang menginspirasi segala aspek kehidupan manusia dan memberi perhatian begitu besar bagi kemajuan-kemajuan agar manusia mencapai modernitas.

Bahkan kebebasan manusia dalam membangun suatu peradaban tercermin ketika Tuhan berfirman didalam surat Al-Ra’d ayat 11 “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika ia sendiri tidak merubahnya”. Ini merupakan suatu keharusan bagi umat Islam untuk bersikap aktif dalam berkehidupan di dunia.

Adalah kebodohan jika umat Islam hanya menyerah serta bersikap apologetis-fatalistis (mencari pembelaan dengan takdir) terhadap dunia dan menyerahkan dunia dipegang non muslim dengan beranggapan bahwa umat Islam akan mendapatkan kejayaan di akhirat. Hal tersebut merupakan degradasi mental akut yang terjadi umat Islam dizaman postmodern ini.

Padahal jika kita telaah, usaha membangun kembali spirit modernitas atau spirit Islam berkemajuan sudah ada melalui ikhtiar yang dilakukan oleh pembaharu-pembaharu muslim seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, KH Ahmad Dahlan, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Nurcholish Madjid dan sekarang ini di Indonesia juga dislogankan oleh Persyarikatan Muhammadiyah dengan gagasan Islam Berkemajuannya.

Namun pertanyaannya adalah apakah usaha-usaha tersebut sudah memberikan dampak bagi umat Islam secara universal? Kenapa masih banyak umat Islam yang bertikai antar sesama? Bagaimana mungkin sikap berkemajuan tersebut lahir jika dalam kondisi yang seperti ini?.

Nurcholish Madjid sudah lama menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan hal tersebut terjadi karena “kemodernan itu tidak tumbuh secara organik dari keislaman itu sendiri”. Artinya kemodernan itu tidak didasari oleh kesadaran seluruh dari elemen masyarakat muslim itu sendiri, masih banyak umat muslim yang terjebak dengan pemahaman yang menyerahkan pada takdir (fatalistis), mistisme, terlalu tekstual, fanatik (taklid buta)-jumud, dan tidak mau terbuka dengan gagasan-gagasan kontemporer.

Sikap keberagamaan yang moderat adalah keharusan dan penulis berpandangan sikap keberagamaan yang moderat itu adalah sikap yang inklusif, tidak over reaktif, dan tentunya senantiasa melakukan kesalehan transformatif untuk membangun kehidupan yang berkemajuan.

Untuk mencapai sikap keberagamaan yang moderat maka caranya dengan memberikan interpretasi Islam yang rasional-kontekstual, karena sikap keberagamaan muslim yang moderat itu hadir ketika pemahaman atau interpretasi terhadap ajaran Islam itu bersifat rasional, progresif, dan kontekstual.[]

Oleh : Muhammad Ikhsan Rizky Zulkarnain
*Penulis adalah salah seorang Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Komentar

SHARE
Redaksi
aceHTrend menghadirkan berita dan opini yang dibutuhkan warga. Media ini didirikan oleh PT. Aceh Trend Mediana sebagai perusahaan pers untuk menjadi sarana berbagi informasi dan promosi bagi warga masyarakat, pebisnis, serta instansi pemerintahan yang ada di Aceh dan sekitarnya. Hubungi kami: [email protected]