SHARE

gemuruh rindu belum reda, masing-masing kita bercengkrama di sudut labirin masalalu tanpa jeda.

apa yang membuat waktu tercekat hingga rasaku masih terikat?

katamu; kau tak usah mencariku, sebab aku yang akan menemukanmu.

dibaris-baris malam yang merangkak menuju pagi, aku melafazkan namamu bersama ayat-ayat cinta.

kekasih hati, jemput aku dipersimpangan pagi nanti dengan tarian daun dan kicauan burung.

aku mampu menjadi tempat sandaranmu, menjadi teman yang memilih mendengar ketimbang memotong keluh kesahmu.

tidak ada tempat terindah untuk merebahkan lelah selain sujud kepada-Nya, sebab pada akhirnya kau akan pulang.

titip salam rindu disudut hatimu, jelang senja aku berdiri didepan pintu menunggumu berkata; “silahkan masuk cintaku”.

bila rindu tak boleh terkata, maka ia akan menjadi gelembung-gelembung doa untuk kekasih tercinta.

kenangan tumbuh saat kita belajar melupakan. seakan ketiadaan pun bertanya. untuk apa? hanya menyisakan duka dan airmata.

kau tak perlu menetap, singgah saja bila kau jenuh dengan dunia, agar aku menyisakan sedikit ruang untukmu.

Komentar

SHARE
Asnidar
Asnidar adalah perempuan Aceh penikmat senja. Penyuka warna merah ini lahir 18 April 1982 di Banda Aceh, kini buka praktek bidan mandiri, tinggal di Jakarta dan aktif di kegiatan medis kemanusiaan.