ACEHTREND.CO, Aceh — Target Kongres Peradaban Aceh (KPA) adalah agar anak-anak muda Aceh kembali bangga dengan bahasa-bahasa yang ada di Aceh.

“Kita tidak boleh malu dengan bahasa yang ada di Aceh. Orang muda harus bangga kembali dengan bahasa ibunya,” kata Mustafa Ismail.

Tujuan kedua agar bisa hadir kamus bahasa-bahasa yang ada di Aceh.

“Nanti ada Dewan Bahasa di daerah-daerah untuk tujuan riset dan pengadaan kamus bahasa di Aceh, termasuk mempromosikannya,” kata Mustafa lebih lanjut.

Mustafa juga menjelaskan bahwa KPA konsep kerjanya adalah kesukarelaan dan meuripe.

“Kegiatan-kegiatan yang di buat oleh KPA pendanaannya dari meuripe dan panitianya berkerja secara sukarela,” pungkas sekretaris KPA itu,  Selasa (8/12/2015) pagi di Skala Coffee & Tea.

Panitia KPA, hadir ke Aceh untuk mengadakan Kongres Peradaban Aceh yang akan berlangsung tanggal 9-10 Desember 2015 di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh.

Ahmad Farhan Hamid yang menegaskan bahasa sebagai bukti peradaban mengatakan pada saat acara Wali Nanggroe Aceh akan menyampaikan sarakata. Acara kongres juga turut hadir menteri Pendidikan Anies Rasyid Baswedan dan Gubernur Aceh.

Menurut Panitia KPA, Cut Aja Muzita, salah satu topik bahasan KPA adalah bahasa lokal dalam perspektif kebijakan dan politik, yang akan disampaikan oleh Prof Mahsum, M.S, Drs. Zulkifli Hs, MM, dan Prof. Rod Emery dan Dr. Zulfadli.

Turut hadir dalam temu ngopi dan bincang peradaban adalah Zulfikar W. Eda, Moreng Beladro, Reza Vahlevi dan Fadjri Alihar. Acara kongres juga akan diisi gelar kesenian, termasuk monolog Ine Febrianti. []