ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Buku Ragam Citra Kota Banda Aceh yang ditulis oleh Dr. Kamal A. Arif akan dibedah, Jumat, (28/), pukul : 14.00 WIB di Aula Lt. III, Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh.

Buku yang akan meneropong Banda Aceh apakah masih menjadi pusat peradaban atau hanya sekedar kota biasa akan dibedah oleh dua ahli, yaitu Tarmizi A. HAMID (Kolektor Manuskrip dan budayawan Aceh), Dr. Husaini Ibrahim
(Pakar Sejarah dan Arkeolog) itu menjadi sumbangan pemikiran bagi usaha Aceh menata ulang dirinya.

Lalu, bagaimanakah isi buku itu? Berikut resensi ringan yang dilakukan oleh Tuanku Warul Waliddin, Pang Ulee Komandan Al-Asyi dan Ketua ALIS Aceh.

Berawal dari sebuah disertasi program doktoral seorang arsitek asal aceh, Kamal Abdullah Arif menghadirkan buku berjudul “Ragam Citra Kota Banda Aceh.”

Buku “Ragam Citra Kota Banda Aceh” yang diterbitkan oleh BRR Aceh-Nias bekerja sama dengan Yayasan Bustanussalatin ini mengupas seluk beluk Kota Banda Aceh sejak awal pendiriannya di masa Sultan Ali Mughayatsyah.

Buku ini menarik untuk dikaji dan dijadikan referensi bagi generasi Aceh hari ini yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Banda Aceh sebagai Pusat Peradaban Kesultanan Aceh sejak Awal berdirinya dikawasan Darul Makmur (TPA Kp.Jawa saat ini), hingga dipindahkan ke Daruddonya di lokasi Pendopo Gubernur Aceh sekarang.

Ada kalimat menarik di dalam buku ini: “Dari Istana ke Kolam Tinja”. Apa maksudnya. Mari sejenak menyimak.

Letak Kota di Pesisir Pantai yang berhadapan dengan Selat Malaka dan dibelah oleh sungai yang bersih dan berkelok-kelok, ditambah hadirnya sebuah pulau gajah di tengah-tengahnya yang lokasinya saat ini sekitar Hotel Medan makin menarik pembaca untuk mengikuti alur perubahan Kota Banda Aceh yang elok nan permai seperti yang dipemaparan di dalam buku ini.

Sebagaimana lazimnya kota-kota besar dunia seperti London dengan sungai Thames, Paris dengan sungai Seine, Amsterdam dengan sungai amstel ,Istanbul dengan Selat Bosphorusnya, dan Kairo dengan sungai Nilnya sungguh membawa pembaca ke era kemahsuyuran kota Banda Aceh yang ternyata peradabannya sejajar dengan kota-kota besar dunia tersebut.

Silsilah sultan yang memimpin sejak dari awal hingga terakhir masa Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah juga dipaparkan di dalam buku ini.

Tentunya buku bercover ekslusive ini menjadi sangat penting saat ini bersebab kehadiran pemimpin baru Kota Banda Aceh, plus Gubernur baru. Jadi sangat layak untuk menjadikannya sebagai referensi arah pembangunan Kota Banda Aceh yang saat ini telah mulai tergerus identitas dan jati dirinya.

Karena ternyata Citra Kota Banda Aceh bukan hanya Mesjid Raya Baiturrahman yang dibangun kembali oleh Belanda pasca dibakarnya mesjid kesultanan tersebut. Namun Banda Aceh punya juga sebuah tapak istana yang cukup indah di muara sungai Krueng Aceh tepatnya TPA Gampung Jawa yang saat ini juga sudah dijadikan tempat pengolahan air limbah dan tinja warga Banda Aceh.

Selamat membaca dan sangat direkomendasikan untuk akademisi dan generasi muda Aceh secara umum untuk memiliki buku ini.

Komentar

Redaksi
aceHTrend menghadirkan berita dan opini yang dibutuhkan warga. Media ini didirikan oleh PT. Aceh Trend Mediana sebagai perusahaan pers untuk menjadi sarana berbagi informasi dan promosi bagi warga masyarakat, pebisnis, serta instansi pemerintahan yang ada di Aceh dan sekitarnya. Hubungi kami: redaksi@acehtrend.co