BERBAGI
Zaini Djalil, Ketua DPW Partai NasDem Propinsi Aceh. Foto: ANTARA

Maret 1979, terminal Kota Bireuen disengat matahari yang panas. Bocah berkulit hitam dan bercelana pendek itu melangkah menuju halte. Ratusan orang lalu-lalang, ia tak peduli. Sesekali ia menghitung uang receh hasil penjualan rokok batangan.

Bila tak ada yang berbelanja kepadanya, ia mengambil buku tulis dan menyelesaikan PR yang diberikan guru di sekolah. Tentu mengerjakan tugas sekolah sembari berjualan rokok keliling terminal dengan berjalan kaki, bukan pekerjaan yang mudah. tapi bocah berambut lurus keras itu, terlihat enjoy.

Sesekali ia menjadikan jemarinya sebagai alat hitung, kala menyelesaikan PR matematika. Bila ia sedang menyelesaikan PR IPS, ia terlihat memandang langit-langit halte. Ketika kumandang azan ashar terdengar, ia pun bergegas menuju musala terdekat, untuk shalat.

Bocah lelaki itu adalah Zaini Djalil, pria kelahiran Bireuen pada 3 Agustus 1968. “Saya berjualan rokok mulai kelas enam SD hingga kelas II SMA,” kenang advokat senior yang getol membela kekhususan Aceh itu, Rabu (7/2/2018).

Zaini bercerita, waktu itu Bireuen masih bagian dari Aceh Utara. Ayahnya merupakan kepala stasiun salah satu bus yang mangkal di terminal Bireuen. Ia memilih berjualan rokok untuk membantu beban pendidikan yang sedang ia tempuh. Sebagai anak yang lahir dari keluarga sederhana dlaam berbagai hal, Zaini tahu bahwa ayahnya menanggung beban yang tidak sedikit.

Bagi sebagian orang, terminal adalah sebuah dunia yang hitam dan penuh kejahatan. Itu tidak sepenuhnya benar. “Saya besar di terminal sembari berjualan rokok. Tapi hingga tuntas sekolah tingkat SMA, saya tidak merokok. Tidak mabuk-mabukan, serta tetap mengaji. terminal adalah tempat kami mencari rezeki yang halal,” kata Zaini.

Bagi Zaini kala itu, terminal adalah sebuah berkah yang diberikan oleh Allah. Di sanalah ayahnya mencari rezeki yang kemudian dibawa pulang ke rumah. Bahkan dari terminallah, sang ayah ikut membantu orang lain bersekolah. “Ayah saya selalu menggratiskan ongkos kepada pelajar dan mahasiswa. Makanya ketika ayah meninggal dunia tahun 2004, banyak tamu yang datang melayat dan saya tidak mengenali mereka. Dari merekalah saya tahu bahwa ayah selalu menggratiskan ongkos untuk mahasiswa dan pelajar yang kurang mampu,” kenang anak kedua dari enam bersaudara itu.

Hal menarik lainnya, kenang Zaini, walau ayahnya merupakan pekerja di terminal, namun dalam keseharian ia berperilaku lemah lembut. Zaini tidak pernah dimaki oleh sang ayah, apalagi dipukul. Bila ia bandel, sang ayah memanggilnya dan memberikan nasehat.

***
Zaini Djalil merupakan alumni SD Negeri 6 Bireuen dan lulus tahun 1981. Kemudian melanjutkan ke SMP1 Bireuen, lulus tahun 1984. Selanjutnya melanjutkan ke SMA 1 Bireuen dan lulus tahun 1987. Kemudian melanjutkan kuliah ke Fakultas Hukum Unsyiah, lulus tahun 1994.

Di SMA 1, Zaini masuk program A-1 jurusan Fisika. Itu jurusan untuk anak-anak yang berperingkat 1 sampai 3. Walau menyukai ilmu sosial, karena Zaini belia memegang rangking 3, ia pun harus bergabung dengan kelas fisika.

Saat usia SMA itulah, sang ayah memanggil Zaini dan saudara-saudaranya yang lain. Setelah mereka berkumpul di rumah, sang ayah memberikan pesan: ” Ayah tidak punya harta yang berlimpah. Tidak punya uang yang banyak. Mampu memberikan kalian pendidikan yang layak dan makanan serta pakaian yang layak, adalah kebangaan bagi ayahmu ini. Teruslah sekolah setinggi-tingginya agar kelak kalian semua menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.”

Hal yang paling ia kenang adalah ketika seorang instruktur PII dalam sebuah training pernah mengejek dengan kalimat: Seseorang akan kembali ke habitatnya. Anak insinyur akan jadi insinyur. Anak guru akan jadi guru. Anak agen terminal akan menjadi agen terminal.

Kata-kata sang instruktur –Zaini menolak menyebut nama– sangat membuat Zaini Djalil marah. Ia kecewa dengan pernyataan seorang “murabbi” yang melecehkan asal-muasal kehidupan seseorang. baginya itu bukan sekedar pelecehan, tapi juga kekerdilan cara berpikir. “Itu yang membuat saya terlecut dan berontak. Saya ingin buktikan bahwa anggapannya keliru,” kata Ketua DPW NasDem Aceh itu.

***
Sebagai seorang pengacara dan konsultan hukum yang dikenal memiliki nalar yang tinggi dan penguasaan ilmu hukumnya yang mumpuni, Zaini Djalil pernah menduduki sejumlah jabatan penting di Aceh. Baik sebagai politikus maupun profesional. Ia pernah menjadi konsultan hukum PT. Medco & EP Malaka dari tahun 2011-2013. Ia kemudian mundur, walau kontrak yang disediakan per tahun sangat menggiurkan.

“Bagi saya persoalan uang bukanlah segalanya. Saya berjuang dari bawah untuk menjadi seperti saat ini. Saya sudah melihat dan sudah pula menikmati semua itu. Pada akhirnya, saya teringat pesan almarhum ayah bahwa hidup bukan sekedar hidup. Karena kehidupan adalah ladang pengabdian. manusia sejati adalah ianya yang paling banyak manfaat bagi orang lain,” kata Zaini.

Ketika menjadi Ketua Fraksi PDI-P di DPRD Tingkat I Aceh tahun 2003-2004 Zaini Djalil aktif terlibat penyusunan sejumlah kebijakan daerah termasuk rancangan penerapan Syariat Islam di Aceh. Ia juga terlibat sebagai tim penyusun RPP Kewenangan Aceh (UU Nomor 11 Tahun 2006), tim penyusun rancangan qanun pilkada langsung Aceh Tahun 2001, serta ragam hal lainnya termasuk kuasa hukum DPRA untuk judicial review UU Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum (Pengacara UUPA).

***
Sejak 20011 hingga saat ini, Zaini Djalil dipercaya sebagai Ketu DPW Partai NasDem Propinsi Aceh. Ia memilih partai besutan Surya Paloh sebagai pelabuhan politik, karena memiliki idealisme yang sama. Konsep restorasi (Upaya pemulihan kepada kondisi ideal-red) membuat Zaini yakin bahwa inilah jalan politiknya.

“Politik bukan sebuah dunia hitam yang dipenuhi oleh orang jahat. Pendapat yang demikian keliru dan juga sengaja dibuat keliru, agar orang yang merasa dirinya bersih, tidak mau terlibat dalam politik. Mereka lupa bahwa politik sama dengan bahagian lain dari kehidupan, ada orang baik dan ada orang tidak baik. Pilihan hanya dua, membiarkan politik dikelola oleh yang jahat, atau semua orang baik terjun ke politik dan melakukan perbaikan. Saya memilih yang kedua. Saya memilih berbuat ketimbang mengutuk tanpa hasil,” kata Zaini.

Dalam berpolitik, ia menjunjung tinggi sportifitas. Baginya politik adalah pengabdian dan jalan untuk membantu orang lain. “Tanpa kekuasaan kita tidak bisa berbuat banyak,” kata politikus yang selalu kukuh berdiri pada nilai-nilai kebenaran itu. []

Komentar