SHARE

Hari hampir asar. Baru membaringkan badan sebelum menjemput anak-anak sekolah. Ada telpon masuk. “Tengku, pukul lima kita ke Medan ya”, demikian suara di seberang. Saya tercekat, anak-anak masih ada sisa campak di badan yang belum mengering. Rencana hari ini mengantar mereka untuk berobat. “Saya telpon balik lima menit Tengku”, demikian jawab saya.

Setelah meletakkan telepon, saya sampaikan kepada istri akan ke Medan 30 menit lagi. “Ada acara apa Baba Yasmina?”, tanya istri. Saya menjawab, “bertemu dengan kawan-kawan Myanmar, untuk solidaritas Rohingya”.

Baca juga: Muslim Rohingya, Ini Penjelasan Utuh Kyaw Win, Direktur Eksekutif Burma Human Right Network

Istri mengangguk langsung menyetrika baju. “Cukup satu stel saja?”, saya mengangguk.

Memang yang menelpon barusan adalah Tengku Asrizal Asnawi. Anggota DPRA dari partai PAN. Orangnya ramah dan suka mengikuti perkembangan politik dunia. Tengku Asrizal salah seorang di Aceh yang saya tahu mengeluarkan statemen resmi atas nama fraksinya di DPRA mengutuk kebiadaban yang terjadi atas masyarakat Rohingya di Myanmar dalam kasus kekerasan beberapa hari lalu.

Tengku Asrizal, seperti saya, merasa sangat susah atas kekerasan yang menimpa saudara se-agama itu. “Tengku, kondisi di sana seperti Aceh di tahun 80an, rakyat terisolasi, kekerasan terjadi atas mereka, dan orang luar tidak tahu”, demikian penegasannya sewaktu kami duduk minum kopi di warung SMEA, sehari sebelumnya.

“Kita di Aceh wajib berbuat sesuatu”, sambungnya. Saya mengiyakan. Saya sepakat dengan niat dan semangatnya. Saya memandang matanya berkaca-kaca ketika melihat photo dan video tentang penyiksaan masyarakat Rohingya. Saya menambahkan, “benar Tengku, ketika kita berkonflik dan dianiaya, demikian juga terkena tsunami, semua orang membantu. Banyak orang menanam budi kepada kita. Kita berhutang kepada dunia. Nah, ini salah satu kesempatan kita untuk membayar hutang, berdiri dan membela rakyat tertindas di Rohingnya semampu kita”.

Kemudian kurang dari setengah jam kami berangkat ke airport, dan menunggang Citilink ke Medan.

Keesokan harinya, kami menunggu di Kuala Namu, kami janjian bertemu dengan Kyaw Win Executive Director, Burma Human Rights Network (BHRN) dan Lilianne Fan, kenalan lama sejak tahun 2000, seorang putri Malaysia yang sangat serius membantu pengungsi Aceh di masa konflik, dan kini menjadi seorang konsultan di Inggris, sekaligus Direktur pada Yayasan Geutanyoe, sebuah yayasan yang sangat aktif membantu pengungsi Burma yang terdampar ke Aceh. Yayasan yang ber-moto “Humanising Humanity (Memanusiakan Manusia)” ini bergerak di bidang kemanusiaan, mempromosikan HAM serta melindungi korban kekerasan dan bergerak di bidang bantuan bencana di berbagai daerah. Lilianne Fan adalah International Director pada yayasan tersebut.

Mereka berdua berangkat dari Langsa dengan darat setelah mengunjungi pengungsi Burma yang masih ada di sana.

Ketika berjumpa kami langsung mengadakan rapat kecil dan sangat serius. Kyaw Win memaparkan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh lembaganya, khususnya pengumpulan data dan verifikasi kejadian dan insiden di lapangan.

“Banyak data palsu dan hoax yang beredar, tujuannya menyesatkan dan mengurangi solidaritas orang ramai kepada konflik Rohingya. BHRN bertugas untuk mengumpulkan data yang valid bersumber langsung dari lapangan, kemudian data-data tersebut digunakan untuk memperkuat perlawanan berbagai pihak atas kejahatan yang dilakukan kepada masyarakat Rohingya”, demikian papar Kyaw Win.

“Kawasan Rakhine juga ditutup, berbagai lembaga tidak bisa akses ke sana”, tambahnya.

Saat itu langsung terbayang keadaan Aceh sewaktu konflik, kekerasan terjadi dan akses media dan lembaga internasional dibatasi sehingga sangat sedikit yang mengetahui keadaan Aceh saat itu.

“Indonesia negara yang bersahabat dengan Burma, ada harapan negara ini bisa berbuat banyak membantu kami. Masyarakat Aceh juga sangat dekat dengan kami, bahkan nelayan Acehlah yang menyelamatkan manusia perahu dan melindungi pengungsi Rohingya ketika semua negara lain menolaknya. Untuk itu, kami berharap, Aceh harus di depan dalam membantu kami. Aceh harus mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang menyelamatkan Rohingya dari genosida”, demikian Kyaw Win memohon.

Kita harus menyambut ini. Wajib kita tunjukkan kepada dunia, bahwa Rohingya masih ada saudara yang membela mereka. []

Banda Aceh, 21 November 2016

Komentar