Oleh : Bustanul Aulia*

SUNMOR, atau Sunday Morning Market adalah pasar minggu pagi yang berdiri sejak krisis moneter Indonesia. Pasar ini sudah mulai diketahui keberadaannya sebelum krisis moneter, hanya saja pihak UGM dengan cermat mengelola pasar ini dengan baik untuk menghadapi krisis moneter pada saat ini.

Namun hingga kini pasar pinggu pagi ini terus berkembang hingga menjadi tradisional market place terbesar di Yogyakarta setelah Malioboro. Pasar ini tidak ubahnya seperti Gasibu di Bandung, Tangor di Pekan Baru atau Sempur di Bogor. Pasar ini mungkin bisa saja kita dapati dipelbagai belahan Indonesia dengan kreativitas yang beragam, namun di Yogja tentu berbeda.

Umumnya masyarakat di sekitar Yogyakarta mengunjungi area pasar setelah melakukan aktivitas olahraga di lapangan Graha Saba Pramana UGM. Jarak Sunmor yang hanya berkisar antara 300 hingga 500 meter dari lapangan GSP ini membuat kalangan masyarakat lebih tertarik untuk berbelanja dan berkumpul bersama keluarga di tempat ini dibandingkan tempat belanja lainnya.

Kabarnya pengunjung di pasar Sanmor pada hari-hari biasa mencapai 25,000 hingga 30,000 orang setiap harinya, bayangkan saja berapa jumlah uang beredar di pasar ini. Daerah ini adalah potensi pertumbuhan ekonomi masyarakat terefektif yang pernah ada dan pastinya daerahnya pun akan pasti maju dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

Hal ini dibuktikan dengan kuatnya PDRB Kecamatan Depok pada tahun 2011, pada sektor perdagangandan jasa mencapai 47% dari keseluruhan pendapatan bruto yang diterima kecamatan ini termasuk dari pendapatan belanja Sunmor UGM.

Pengelolaan pasar ini ternyata tidak hanya melibatkan para komunitas pedagang, namun juga kepedulian mahasiswa di sekitar pasar yang ikut menata pengelolaan pasar Sunmor seperti Komunitas Peduli Pasar Sunmor (Komppas) dan Asosiasi Pedagang Sunmor.

Dari kreativitas mahasiswa ini juga banyak melahirkan pedagang-pedagang kreatif yang umumnya mahasiswa untuk menghasilkan produk-produk baru yang lebih populer bahkan mampu bersaing di pasar global.

Pasar yang terletak di jalan Notonagoro, Bulasukmur Yogyakarta ini menjual aneka kuliner, fashion dan barang-barang lainnya yang bervariatif. Beberapa makanan yang populer di pasar ini adalah gudeg, lontong, ketupat, opor, batagor, gimbab, teokpokki (Korea), bakso tusuk, kunyit asam, beras kencur, sosis bakar, siomay, ketoprak telor, jamur crispy, es lilin goreng, tempura, otak-otak dan banyak lainnya.

Biasanya tempat kuliner terletak berjejer dibagian lembah UGM yang sejuk sehingga dapat membuat penjajal kuliner nyaman menikmati santapannya. Tak ayal di di sepanjang lorong hingga penghujung jalan yang diperkirakan lebih dari 2 kilometer itu, pengunjung akan menemukan berbagai macam fashion maupun barang barang unik lainnya yang bervariasi.

Meski pasar ini tergolong periodik, komoditas yang ada dipasar ini sangat bervariasi dan bahkan dapat melengkapi semua kebutuhan pengunjung. Para pedagang umumnya menjual pakaian, sepatu, topi, aksesoris, peralatan dapur, meja belajar, tanaman hias, hewam peliharaan dan lainnya.
Namun juga terdapat dagangan lainnya seperti kerajinan khas jogja, pernak pernik untuk kado, ukiran bambu, walpaper, batik Yogja, tas kulit hewan dan aneka kreativitas masyarakat lainnya yang mempu menghipnotis pengunjung hingga banyak sekali wisatawan manca negara yang membeli segala kebutuhan di pasar Sunmor Yogyakarta.

Inilah yang saya sebut potensi penggerak ekonomi masyarakat dan juga ekonomi daerah yang patut di contoh oleh masyarakat Aceh dengan dukungan dari pemerintah. Tentu dengan masyarakat yang sejahtera akan meningkatkan pertumbuhan bagi suatu daerah.

Saat ini di Pekan Baru juga melakukan hal yang sama dengan sedikit inovasi, para rekan-rekan komunitas Sunmor di Pekan Baru terus mengupayakan agar produk-produk lokal di pasar Sunmor mampu bersaing ke tingkat nasional maupun global.

Sejak beberapa tahun lalu, ekonomi kreatif terbukti mampu menjadi penyumbang terbesar bagi Indonesia, pada tahun 2016 jumlah PDB nasional mencapai Rp 922,58 triliun dengan nilai kontribusi sebesar 7,44 persen.

Aceh yang memiliki kekayakaan alam yang luar biasa dapat menjadikan ini sebagai potensi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah. Seperti diketahui, saat ini Aceh masih sedikit sekali perusahaan inti yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Ekonomi kreatif seperti ini menjadi solusi paling tepat untuk mengatasi masalah perekonomian masyarakat saat ini.

Berdasarkan pengamatan saya selama dua tahun berada di Yogyakarta, pasar kreatif seperti di Sunmor UGM tidak lagi hanya bersaing dengan produk nasional, bahkan rata-rata pedagang mahasiswa yang berdagang di Sunmor sudah mengekspor barang hingga ke luar negeri dengan fasilitas dan keunggulan dari era perkembangan teknologi saat ini.

Terkhusus Aceh, lokasi paling strategis untuk menangkap peluang ini terletak pada dua opsi; pertama di jalan sepanjang jembatan Lamnyong menuju Rukoh atau, kedua di jalan lingkar lapangan utama Darussalam yang menghubungkan antara dua perguruan tinggi terpopuler di Aceh yaitu Unsyiah dan UIN Ar-Raniry.

Pemerintah Aceh perlu menata ulang area ini dan membangun komunikasi dengan beberapa pihak seperti komunitas pedagang, organisasi sosial mahasiswa dan masyarakat sekitar. Ini diperlukan untuk upaya membuat kebijakan, sosialisasi, dengar pendapat, peran sosial pemuda/mahasiswa dan usaha bersama untuk meningkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Aceh serta menjadikan produk-produk Aceh lebih unggul hingga mampu bersaing ke tingkat global.

*Penulis adalah Mahasiswa S2 dan Peneliti Ekonomi Kreatif. Saat ini menjabat sebagai Ketua Umum GeMI Aceh (Generasi Muda Inspiratif Aceh) dan juga Menteri Publikasi dan Jurnal Ilmiah IKMP UIN Yogyakarta.

Komentar

Redaksi
aceHTrend menghadirkan berita dan opini yang dibutuhkan warga. Media ini didirikan oleh PT. Aceh Trend Mediana sebagai perusahaan pers untuk menjadi sarana berbagi informasi dan promosi bagi warga masyarakat, pebisnis, serta instansi pemerintahan yang ada di Aceh dan sekitarnya. Hubungi kami: redaksi@acehtrend.co