BERBAGI
Nurul Amalia (9) - Dokumen Rumah Kita

Adalah Nurul Amalia (9) namanya. Nurul disebut Anak Hebat karena ia sosok yang menginspirasi, bukan hanya kepada adik kecil dan mereka yang seusia dengannya tapi juga kepada mereka yang dewasa, yang selama ini menjadi pendamping hari-harinya di Rumah Kita.

Rumah Kita adalah rumah singgah tempat Nurul dan lainnya melewati hari-hari mereka menjalani masa pengobatan. Nurul sendiri adalah anak yang sedang menjalani ujian kesehatan yang tidak ringan. Nurul di vonis sakit Leukimia ALL. Sejak terdeteksi pada Agustus 2017 Nurul sudah mengalami kemoterapi 17 kali. 

“Nurul sudah boleh pulang dari kemoterapi ke-18 kali,” kata Cut Thara baru-baru ini.

Di dalam surat yang ditulisnya kepada ibu yang disebutnya “Ibu Wangi”, Nurul berkisah bahwa ia tiba-tiba jatuh saat menghadiri karnaval dan dibawa ke rumah sakit. Sesudah sembuh lalu sakit lagi. Berikut isi lengkap surat Nurul yang disampaikan kepada Ibu Darwati A Gani, yang disebutnya “Ibu Wangi.”

Surat Nurul untuk Ibu Wangi

Buat Ibu Darwati yang Nurul Sayang
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Nama saya Nurul, saya ingin bercerita, tentang pertama Nurul sakit. Pertama Nurul sakit Nurul ikut karnaval. Tiba-tiba jatuh di karnaval, terus itu dibilang sama Wak Wak Nurul sakit ya. Ia, terus Nurul dibawa ke rumah sakit Cut Meutia, setelah dirawat di sana, setelah itu Nurul sehat. Tiba-tiba Nurul sakit lagi dibawa ke rumah sakit Cut Mutia lagi. Di rujuk ke Banda Aceh, ketemu Ibu dibilang harus Kemo. Setelah itu Nurul bilang sama ayah, dibilang sama ayah tidak dikasih kemo Nurul. Nurul tetap berobat sendiri karena Nurul pingin sembuh, kalau kita sudah sembuh kita bisa sekolah dan juga bisa pergi ngaji. Nurul sekarang botak karena di kemo, tapi Nurul tidak malu dan sedih karena nanti akan tumbuh kembali rambutnya. Nurul senang Ibu datang dan jalan-jalan naik mobil bagus dan Ibu Darwati lebih wangi dari Ibu Nur, suka kali ciumnya. Nurul cium ibu Nur waktu tidur dan bangun pagi. Ini saja yang Nurul sampaikan terimakasih cerita dari Nurul dan juga mendengar cerita dari Nurul.

Nurul sahabat Ibu Darwati.

Begitulah Nurul. Dan dirinya memiliki teman curhat bayi berusia tujuh bulan, Muhammad Fajar Ramadhan. “Sambil bermain, kami merekam pengaduan kepedihan hidupnya kepada Fajar,” kata Nurjannah Husien yang akrab disapa Kak Nu. 

Kepada Fajarlah ia berkisah tentang kepedihan dirinya dengan cara membanding-bandingkan hidupnya dengan Fajar. “Fajar lebih beruntung karena masih didampingi ibu, sedangkan dirinya yang sakit tidak ada ibu disampingnya karena merantau,” kata Kak Nu merekam pengaduan Nurul kepada Fajar. 

Rumah Kita sejak dihadirkan Juni 2017 sudah merawat 54 pasien. Sebelumnya, sejak 2016 Rumah Kita bernama Rumah Harapan. Di Rumah Kita semua relawan berkerja dengan sukarela. Di Rumah Kita yang kini ada 8 pasien menerapkan sistem Lingkaran Kebaikan. “Semua orang berkesempatan untuk melakukan kebaikan, dan kebaikan tidak mesti selalu dalam bentuk materi dan benda, saran juga sebuah kebaikan,” sebut Kak Nu yang sudah mendampingi pasien thalassemia selama 5 tahun. 

Menurut Kak Nu, pasien yang pernah didampinginya berasal dari berbagai daerah di Aceh, tapi yang paling banyak berasal dari Aceh Utara. “Saat ini ada juga dari Subulussalam dan Singkil,” sebut Kak Nu yang tidak menyebut Rumah Kita sebagai rumah singgah. Baginya Rumah Kita yang terletak di Simpang Tujoh Ulee Kareng, Banda Aceh harus menjadi rumah yang nyaman bagi semua pasien, termasuk rumah yang nyaman bagi pasien anak-anak. Disebut nama Rumah Kita agar bisa menumbuhkan circle of goodness atau lingkaran kebaikan. “Kami ingin semua kita bertemu di frekuensi yang sama yaitu di lingkaran kebaikan,” jelas Kak Nu. 

Di circle of goodness diharapkan orang akan datang karena ada dorongan empati yang sama. Ada juga kedermawanan yang tidak selalu bermakna uang dan materi. “Kasih saran juga sudah generousness,” tegas Kak Nu seraya menambahkan satu sikap lagi yaitu kesediaan untuk memperioritaskan untuk mendampingi pasien daripada yang lainnya. []

Komentar