Daud Pakeh, kankememnag Propinsi Aceh. Foto: Irwan Saputra/aceHTrend.

ACEHTREND.CO, Banda Aceh- Masyarakat Aceh dalam tiga hari ini sedang dihebohkan dengan rencana Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu terkait wacana investasi di lokasi lahan dan aset wakaf Baitul Asyi di Mekkah Al Mukarramah.

Menanggapi kehebohan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh Daud Pakeh menilai jika wacana tersebut adalah sesuatu yang baik.

“Rencana BPKH itu baik, walaupun siapapun yang melakukan investasi katakanlah nazhir wakaf menyetujui wacana investasi oleh BPKH, ini suatu kebaikan menurut kami,” katanya saat ditemui aceHTrend di kantornya, Senin (12/3/2018).

Daud Pakeh menjelaskan, tanah tersebut merupakan wakaf dari Habib Abdurrahman Al-Habsyi alias Habib Bugak Asyi, seorang ulama dan pengusaha asal Aceh yang mewakafkan tanah di komplek Masjidil Haram untuk kepentingan rakyat Aceh melalui Mahkamah Saudi Arabia ratusan tahun lalu.

Adapun kewenangan tanah tersebut, katanya, berada di tangan nazir seperti halnya juga yang diatur dalam UU No 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.

“Tanah wakaf di Arab Saudi dibangun rumah dan beberapa titik hotel, terdapat 1.800 kamar yang sekarang termasuk dalam perluasan Masjidil Haram. Setahu kami tidak ada lagi tanah yang kosong untuk bisa di bangun hotel yang baru,” katanya.

Untuk itu dia berharap agar rencana BPKH tersebut tidak perlu dihebohkan, apalagi pengelolaan tanah wakaf tidak bisa sembarangan.

“Kita harus memberi penghormatan pada Habib Bugak yang luar biasa kontribusinya untuk Aceh melalui tanah wakaf tersebut,” katanya.

Menurut Daud Pakeh, tujuan diwakafkan tanah tersebut dalam ikrarnya jelas untuk ditempatkan jamaah haji Aceh sebagai tempat tinggal orang Aceh yang belajar di Mekkah. Ketika orang Aceh tidak ada lagi maka manfaatnya tanah tersebut diberikan atau ditempati oleh orang Melayu.

“Kalau bicara Melayu maka hingga ke Brunai Darussalam. Jika pun orang Aceh tidak ada dan orang Melayu tidak ada maka tanah itu dimanfaatkan untuk kepentingan Masjidil Haram,”katanya.

Untuk itu katanya, dari wakaf Habib Bugak maka jamaah haji asal Aceh mendapat kompensasi dan tempat tinggal. Dia juga menjelaskan, bahwa yang mewakafkan tanah di Arab Saudi bukan hanya Habib Bugak dari Aceh melainkan juga cukup banyak tanah-tanah wakaf dari negara -negara lain ratusan tahun lalu.

Menurut Daud Pakeh, tanah wakaf itu dikelola dengan sistem produktif maka semakin berkembang yang manfaatnya diberikan untuk jamaah maka sejak 2007 sampai saat ini setiap jamaah Aceh tetap mendapatkan kompensasi dari nazhir bukan yang lain.

“Karena pegangan dari nazhir dari ikrar wakaf yang tidak boleh meleset,” katanya. []

Komentar