SHARE

Pengantar: Tindakan kekerasan yang terjadi atas Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar telah menimbulkan keprihatinan luas, termasuk publik di Aceh. 

Ragam berita yang hadir di media, bahkan disertai foto-foto yang diklaim sebagai peristiwa kekerasan atas Muslim Rohingya menimbulkan penasaran, kemarahan, dan bahkan kutukan. 

Apa yang sebenarnya sedang terjadi di Myanmar, dan apakah benar Muslim Rohingya mengalami kekerasan dan kekerasan? Serta bagaimana sosok Aung San Su Kyi, benarkah ia mulai menjadi sosok yang rasis?

Saran pembaca, redaksi aceHTrend, melalui Lilianne Pan, Direktur Yayasan Geutanyo, yang sedang berada di Aceh, melakukan wawancara dengan Kyaw Win, Direktur Eksekutif Burma Human Right Network/ Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (BHRN), berikut penjelasannya.

Baca juga: Muslim Rohingya, Pemicu Islamophobia dan Bisnis Militer di Myanmar

images-7

Apa yang terjadi dengan Muslim Rohingya di Rakhine?

Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine telah menghadapi penganiayaan berat sejak tahun 1978 di bawah diktator Jenderal Ne Win, dan di bawah 1982 UU Kewarganegaraan mereka tidak diakui sebagai warga negara Myanmar. 

Rohingya bukan satu-satunya kelompok yang menghadapi penindasan dari militer, ada juga etnis minoritas baik lainnya yang menghadapi penganiayaan di Myanmar oleh militer termasuk kaum Muslim, Kristen dan banyak lainnya selama bertahun-tahun. Namun, seperti apa yang telah dinyatakan oleh PBB, Rohingya adalah salah satu populasi paling teraniaya di dunia karena mereka telah ditolak hak asasi manusia mereka selama beberapa dekade, termasuk akses ke pelayanan kesehatan, pendidikan dan kebebasan dalam bergerak. 

Di Rakhine, Rohingya telah tinggal di bawah isu apartheid dan diskriminasi ekstrim. Itulah sebabnya ratusan ribu Rohingya telah melarikan diri Rakhine ke negara-negara tetangga, termasuk Bangladesh, Malaysia, Indonesia, Thailand dan India.


Pada tanggal 9 Oktober, militer Myanmar melancarkan operasi kontra-pemberontakan secara brutal setelah sekelompok kecil militan Rohingya menyerang tiga pos penjaga perbatasan di Maungdaw. Aksi dari militer Myanmar tersebut telah berlebihan dan tidak pandang bulu. Mereka para Rohingya telah dikurung di daerah Maungdaw, dan militer telah melakukan pembunuhan sewenang-wenang terhadap warga sipil termasuk anak-anak, membakar desa-desa, memperkosa wanita dan penyiksaan. 

Mereka memblokir bantuan kemanusiaan dan mengakses media daerah. PBB melaporkan bahwa lebih dari 150.000 orang sekarang menderita. kurangnya bantuan termasuk bantuan pangan dan obat-obatan, dan 30.000 orang yang telah mengungsi sejak operasi dimulai. Ini adalah di atas 120.000 orang ang masih dalam pengungsian akibat kekerasan pada tahun 2012.

Apa benar ada pembantaian terhadap muslim, siapa pelakunya?  Militer saja,  atau melibatkan juga pemerintah dan rakyat?

Kami telah memantau dan mendokumentasikan beberapa pembantaian yang telah dilakukan di negara bagian Rakhine sejak 9 Oktober. Tindakan-tindakan brutal telah dilakukan oleh militer. Namun, militer juga mulai mempersenjatai dan melatih warga Rakhine, tindakan yang sangat berbahaya karena akan menciptakan perang saudara yang panjang. Kita perlu memahami suasana politik di Myanmar. 

Sejak tahun 1962, pemerintah Myanmar dijalankan oleh orang orang yang sentimen, anti-Muslim di kalangan penduduk Budha di Myanmar. Militer telah berhasil membingkai Rohingya sebagai imigran ilegal dari Bangladesh meskipun beberapa bukti telah jelas menyatakan bahwa mereka ada sejak beberapa abad di negara bagian Rakhine. 

Tentara juga telah berhasil mencuci otak para masyarakat setempat bahwa Rohingya dan Islam adalah ancaman bagi Buddhisme. Sejak masyarakat percaya akan tuduhan yang tidak berdasar tersebut, itu membuat lebih mudah bagi tentara menargetkan orang-orang Rohingya. Jadi, tentara dengan mudah mendapatkan dukungan publik untuk menargetkan Rohingya. Sayangnya, itu menjadi pekerjaan rumah yang baik untuk tentara.

Myanmar pada hari ini, tentara masih merupakan entitas yang paling kuat, bahkan lebih kuat dari pemerintah. Pemerintah Myanmar yang baru tidak ingin merusak hubungan baik dengan tentara sehingga pemerintah telah diam diri tentang masalah ini dan bahkan membela perilaku tentara. 

Meskipun Daw Aung San Su Kyi berusaha untuk memecahkan masalah ini dengan menunjuk Mantan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan sebagai ketua Komisi Rakhine, bahkan komisi ini sekarang tidak memiliki akses ke daerah operasi militer dan telah kehilangan kredibilitas. 

Pemerintah Myanmar menyangkal bahwasanya kejahatan terhadap kemanusiaan yang telah dilakukan di negara bagian Rakhine terhadap Rohingya bukan berdiri untuk orang yang paling rentan namu guna membela reputasi militer.

Sayangnya, tidak setiap kelompok HAM Myanmar bersimpati dengan Rohingya. Yang sangat Mengejutkan bahkan beberapa aktivis Demokrasi yang menonjol dari Mahasiswa Generasi 88 yang menghabiskan bertahun-tahun di penjara telah terbuka membantah adanya orang Rohingya di Myanmar. Jadi, sayangnya, di Myanmar, pemerintah dan sebagian besar dukungan publik telah menargetkan Rohingya dan Muslim lainnya.

Berapa sebenarnya korban dipihak Muslim Rohingya?  Apa betul hanya berjumlah 130 orang? 

Karena pembatasan akses untuk masuk kedalam daerah yang krisis dan kurangnya investigasi independen, sulit untuk memverifikasi jumlah pasti para korban. 

Namun, serangan yang terjadi sesungguhnya dalam skala yang amat besar, dan kami mampu mewawancarai 30 orang yang berhasil melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. Menurut kesaksian mereka, ratusan jiwa tewas sejauh ini dan puluhan orang telah diperkosa dan disiksa.

Apa betul ada pembakaran rumah-rumah, dan pembakaran manusia?

Kami menerima beberapa bukti berupa foto yang diambil secara langsung yang mana menunjukkan tubuh manusia dibakar. Namun, sulit untuk memverifikasi bahkan oleh sumber kita sendiri karena pemerintah telah menerapkan secara Total atas aksi blokade media. Di antara yang kami wawancarai ada beberapa orang yang melihat rumah-rumah mereka dibakar oleh tentara.

Bagaimana sebenarnya kebijakan pemerintah atas Muslim Rohingya?

Niat pemerintah Burma baru, dari partai NLD, sangat dipertanyakan kepada Rohingya. Menyuarakan spirasi untuk Rohingya adalah bunuh diri politik di Burma. Ini adalah bagaimana yang telah dirasakan Rohingya sebagai ancaman. 

Selama waktu pemilu partai NLD melarang anggota Muslim sebagai kandidat pemilihan dan akibatnya kita memiliki parlemen bebas Muslim. 4% populasi Muslim tidak memiliki perwakilan di parlemen dan tidak ada suara untuk mengangkat isu-isu anti Muslim.

Bagaimana posisi Aung San Su Kyi dalam konflik atas muslim,  sikapnya dan usahanya mengakhiri kekerasan,  apa benar dia rasis terhadap muslim?

Menurut pendapat saya, Aung San Suu Kyi tidak lah seorang yang rasis. Sayangnya, dia adalah pemimpin dari masyarakat yang paling rasis. Sejauh ini, sikapnya sangat dipertanyakan mengenai Muslim. 

Sebagai peneremi dari Nobel Laureate dia tidak harus berdiam diri ketika setiap orang dari Burma telah dibantai oleh tentara Burma, terlepas dari agama atau etnis mereka. Dengan memilih untuk diam terhadap pembantaian dan gagal untuk mengutuk atau menghentikan mereka, meskipun dia memiliki kewenangan atau kekuasaan sebagai pemimpin partai yang berkuasa dia juga bertanggung jawab untuk kejahatan tersebut.

Bagaimana pihak-pihak HAM Myanmar sendiri,  dan pihak negar luar. Apa benar tidak diberi akses untuk membantu?

Pemerintah memberlakukan blockade atas bantuan kemanusiaan, dan Rohingya di bagian utara Rakhine menghadapi kelaparan. Tentara juga menghancurkan tempat penyimpanan makanan untuk orang-orang yang melarikan diri. 

WFP kini telah diizinkan untuk mengirim beberapa pengiriman kecil makanan untuk Maungdaw, tetapi mereka masih tidak dapat mencapai ratusan ribu orang yang membutuhkan makanan. Bahkan, semua orang di daerah yang terkena dampak tersebut harus menerima penjatahn makanan karena tidak ada cara lain untuk bertahan hidup tanpa bantuan. blokade bantuan itu sendiri merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.


Ini sebabnya kami sangat membutuhkan bantuan dari negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN dan negara yang telah sangat baik menyambut pengungsi Rohingya.

***

Kyaw Win merupakan Direktur Eksekutif Burma Human Right Network/ Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (BHRN), sebuah organisasi yang resmi terdaftar di Inggris pada tahun 2015, yang mana telah mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar.

Kyaw Win telah muncul di berbagai media termasuk BBC dan ABC Australia. Kyaw Win juga telah menerbitkan artikel di Asia Times dan New Mandela. Beliau juga pernah muncul di jaringan Radio Muslim di Afrika Selatan.

Selama sebulan terakhir Kyaw Win dan Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (BHRN), telah memantau dan mendokumentasikan sejumlah pelanggaran HAM yang begitu berat di Myanmar tepatnya di negara bagian Rakhine, di mana warga Rohingya (kelompok minoritas Muslim yang tertindas) telah menghadapi tindakan kekerasan yang luar biasa oleh militer dan polisi menyusul serangan pada tiga pos polisi di perbatasan Myanmar-Bangladesh pada 9 Oktober. BHRN menggunakan jaringan bawah tanah yang dipercaya untuk membantu koordinasi wawancara dengan beberapa saksi mata dan korban pelanggaran HAM.

BHRN mewawancarai salah seorang wanita yang menyatakan diri bahwasanya ia telah diperkosa dan dipukuli oleh dua tentara Myanmar. Wanita tersebut sedang hamil pada saat tindakan kekerasan itu, dan dampak dari tindakan kekerasan itu wanita tersebut mengalami keguguran pada kehamilanya. keguguran disebabkan oleh infeksi berat pada wanita itu, dan dia sekarang masih dalam masa pemulihan. BHRN juga memiliki beberapa akses dokumen medisnya. Pada saat yang sama BHRN memperoleh daftar 10 perempuan yang mengaku mereka telah diperkosa oleh pasukan Myanmar.

BHRN juga telah mewawancarai lebih dari 30 warga Rohingya yang mana telah melarikan diri melintasi perbatasan Bangladesh dan hingga sekarang masih dalam persembunyian. Para Korban telah mengatakan kepada BHRN bahwa mereka menyaksikan secara langsung pembakaran rumah-rumah,penyiksaan, pemerkosaan, kuburan massal, dan pembunuhan warga sipil tanpa pandang bulu, termasuk warga sipil yang ditembak secara langsung ketika berusaha melarikan diri dari tentara Myanmar. BHRN telah berbicara dengan beberapa warga sipil yang mana terdapat beberapa luka yang terlihat sangat jelas. Mereka mengatakan memeperoleh luka tersebut ketika ditembaki oleh tentara Myanmar.

BHRN telah melacak meningkatnya Islamofobia dan pidato bernada kebencian oleh negarawan maupun aktor non-negara. Nasionalisme keagamaan meningkat di Myanmar, dan BHRN mengkhawatirkan bahwa pidato kebencian di Negara tersebut telah memicu kerusuhan dan tindakan main hakim sendiri oleh sebagian kelompok (oknum), yang mana telah terjadi pada tahun 2012 dan 2013.

BHRN baru saja menyelesaikan sebuah pernyataan pers berdasarkan kesaksian dari saksi-saksi baru yang pernah melarikan diri ke Bangladesh, dimana mereka mengklaim melihat beberapa kuburan massal, penghancuran tempat persediaan makanan warga rohingya oleh militer Myanmar, pembakaran yang dilakukan oleh pasukan keamanan, pembunuhan warga sipil yang melarikan diri dari tentara, dan warga sipil yang dibunuh langsung oleh tentara Myanmar dengan cara menikam dan menggorok leher mereka. Tampaknya perbuatan itu menjadi bagian dari kampanye penghukuman besar-besaran secara brutal.

BHRN juga telah melacak perkembangan milisi Rohingya yang terlibat pertempuran dengan tentara Myanmar dan polisi.

Untuk informasi mengenai peristiwa ini, BHRN mengundang pers untuk mewawancarai Direktur Eksekutif mereka Kyaw Win yang dapat menjelaskan secara jauh lebih detail tentang peristiwa ini, bagaimana situasi daerah saat ini dan hal yang kita percaya mungkin akan terjadi berikutnya jika situasi ini tidak ditangani oleh Pemerintah Myanmar dan masyarakat internasional. []

Komentar