SHARE

Dilahirkan di Banda Aceh pada 13 Oktober 1973, Teuku Ardiansyah merupakan sosok yang kerapkali bersinggungan dengan dunia professional bidang pengawasan dan perencanaan pembangunan di Aceh. pun demikian, ia adalah sosok yang memulai karir secara berjenjang dari tahap bawah.

Ardi adalah nama panggilan dari rekan sejawat dan orang-orang yang lebih senior dari Ketua Badan Pengurus Katahati Institute, yang sudah dipegang olehnya sejak Juni 2007 hingga saat ini.

Saat ini Ardi adalah praktisi konsultan perencanaan strategis. Sebagai konsultan, dia telah memberikan dukungan teknisnya kepada berbagai pihak dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Pada pertengahan 2010-2014, lelaki murah senyum ini bergabung dengan The World Bank dalam program penguatan perdamaian Aceh dengan konsentrasi utama mendorong terintegrasinya penguatan perdamaian dalam berbagai dokumen perencanaan pembangunan Aceh. Frasa perdamaian yang tercantum dalam dokumen RPJP Aceh 2012-2032 dan RPJM Aceh 2012-2017 tak terlepas dari kontribusinya sebagai konsultan Bank Dunia.

Mengecap pergaulan hingga tingkat dunia, diraih oleh Ardiansyah berkat kerja keras dan belajar yang tiada henti. Sejak 1999 ia sudah aktif di dunia gerakan masyarakat sipil di Aceh, bersama Yayasan matahari, dan kemudian mendirikan Katahati Institute pada 2001. Lembaga swadaya masyarakat yang bergerak pada riset pembangunan itu, merupakan organisasi yang Ardi rintis dengan semangat semangat kesukarelawanan. Kerja advokasi, kampanye public dalam isu demokrasi dan pemenuhan hak-hak dasar warga negara, ia lakoni dengan penuh dedikasi. Bahkan, ia semenjak dulu sudah memiliki bakat yaitu kemampuan memperkuat proses interaksi antara masyarakat sipil dan negara.

Karena pengalamannya itu, Ardi mendapatkan undangan dari pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2004, untuk mengikuti International Visitor Programme (IVP) yang bertujuan mendorong akselerasi serta memperkuat berbagai calon pemimpin dunia. Pada 2007 ia kembali mendapatkan undangan untuk menghadiri World International on Future Democracy di United State of Amerika (USA), mewakili Indonesia.

Sejauh ini, Ardi adalah sosok yang kaya pengalaman kerja di tingkat para pengambil keputusan dan pembuat kebijakan serta perencanaan di Aceh. sejak Maret-Desember 2015 Ardi dipercaya sebagai tenaga Ahli Sekretariat DPRA, dengan ruang lingkup tugas membantu mempersiapkan konsep pidato, makalah, karya ilmiah yang relevan dengan keahliannya sebagai bahan untuk pimpinan DPRA. Ia juga berperan memberikan pertimbangan kepada pimpinan dan anggota DPRA terkait masalah hokum, politik, sosial kemasyaraatan dan budaya di Aceh. serta membantu tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris DPRA guna kelancaran tugas dan fungsi Sekretariat DPRA.

Pada September-Desember 2015, ia juga Tenaga Ahli Bidang Tata Ruang Dinas Cipta karya Provinsi Aceh, dengan ruang lingkup tugas membantu proses legislasi RTRWA di tiga kabupaten, yaitu Aceh Selatan, Nagan Raya dan Aceh Tengah.

Masih pada tahun yang sama, Ardi dipercaya sebagai Tenaga Ahli Fraksi Partai Golkar DPRK Aceh Jaya. Maret hingga Oktober 2014 sebagai Tenaga Ahli Bidang Tata Ruang Dinas Cipta karya Propinsi Aceh. Kemudian ia juga dalam tahun yang sama tepatnya Oktober hingga Desember sebagai tenaga Ahli Fraksi Golkar di DPRK Aceh Jaya.

Sebelumnya, pada Mei hingga April 2014, Ardiansyah merupakan Penasehat Teknis Pemerintah Aceh untuk Pengarusutamaan Perdamaian dalam Pembangunan, CPDA-The World Bank. Kemudian pada 2009 duduk sebagai Manager Resource Centre, Perkumpulan IMPACT Banda Aceh.

Konsultan Spesialis

Sebagai professional muda nan energik, Ardi juga sempat malang melintang sebagai konsultan di berbagai proyek/program lembaga internasional maupun nasional. Ia pernah menjadi Konsultan Election Specialist AIPRD-LOGICA, Banda Aceh. pekerjaan ini dilakoni olehnya pada Oktober hingga Maret 2009.

Kemudian Konsultan Planning Action CIM-GTZ, Banda Aceh pada Oktober hingga Desember 2007. Masih pada tahun yang sama, pada bulan Februari- Maret, ia menjadi Konsultan Teknis Bupati Aceh Jaya. Mei 2006 sebagai Konsultan German Agro Action (GAA) Banda Aceh. Pada Maret tahun yang sama ia juga sebagai konsultan Bina Swadaya Banda Aceh. Dia juga menjadi Konsultan Badan Reintegrasi Aceh (BRA) pada Februari hingga Maret 2006.

Tahun 2005 ia pernah menjadi konsultan pada LGSP-USAID pada program LG-RAM dan juga konsultan pada ERTR-UNDP, pada bulan yang berbeda. []

Komentar