SHARE

Oleh: Nezar Patria

Sejarah memang membawa banyak keajaiban. Zaman bergerak, orang-orang berubah, peradaban baru ditegakkan menggantikan yang lama. Apa yang dulu menjadi tabu, oleh gerak sejarah, menjadi sesuatu yang kelak mendapat kemuliaan. Ketika diadili oleh rezim diktator Batista, pemberontak Kuba Fidel Castro berujar “Kutuklah aku, tak soal. Sejarah kelak akan membebaskanku”. Dan sejarah membuktikan: Castro menjatuhkan Batista sampai sang diktator terpaksa jalan melata dan si pemberontak itu lalu berkuasa lebih setengah abad di Kuba.

Sejarah memang berputar dan memberikan banyak kejutan. Megawati Soekarnoputri dizalimi pada zaman diktator Suharto, dan tak ada yang yakin bahwa kekuasaan rezim tiga dekade itu bisa diruntuhkan oleh eskalasi politik yang tak terbendung dalam hitungan bulan sejak awal 1998. Lalu reformasi membalikkan segalanya, Megawati menjadi pemimpin RI, yang dulu dicaci kemudian dipuji, yang dulu dihormati lantas menjadi jatuh dan dihinakan.

Apa yang menggerakkan sejarah berubah barangkali menjadi eksplorasi banyak pemikir politik, misalnya Rousseau menyebutnya sebagai hasil gerak dari kehendak umum atau publik, Marx menyebutnya sebagai keniscayaan dari perubahan material sejarah, yang mengguncang sendi-sendi formasi kekuasaan lama. Di luar itu saya kira juga sejarah digerakkan oleh kekecewaan dan harapan. Kekecewaan membuat orang meninggalkan yang lama dan melihat harapan lain pada sesuatu yang baru. Atau mungkin juga, dalam konteks kekuasaan, sang alternatif itu tak sepenuhnya baru, namun hanya belum terbukti ia mengecewakan. Ada kalanya harapan menggumpal dan lalu membatu sebagai sebuah bentuk keimanan politik, yang tak bisa dikritik dan seakan dunia hanya akan menjadi baik jika dan hanya jika kelompok saya yang berkuasa.

Sepuluh tahun yang lalu gambar pemimpin Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Teungku Hasan di Tiro dilarang hadir di tempat publik, tapi politik Aceh telah berubah setelah perdamaian. Kini gambar “Sang Wali” itu dengan mudah ditemukan di stiker, poster, dan kaos banyak remaja Aceh, seperti halnya gambar kartun TinTin yang pernah digemari satu generasi lalu. “Tiroisme” menjadi kosakata baru yang menarik, meskipun bukan sebuah ajaran yang komplit merujuk persis seperti yang dipikirkan oleh Teungku Hasan di Tiro, tapi ia mungkin semacam harapan atau juga kebanggaan. Di Aceh, kini partai lokal dengan warisan gagasan “Tiroisme” memegang kendali pemerintahan, sesuatu yang dulu mustahil secara politik.

Mungkin sejarah bisa juga diam jika tak ada unsur yang membuatnya bergairah, atau mungkin juga para aktornya terlalu mengada-ada, berlebihan, dan membuat mereka kurang jujur dengan kenyataan. Mungkin juga kita harus bersikap lebih natural, seperti ucapan polos Zakaria Saman seorang “old crack” GAM yang kini menjadi kandidat gubernur di Pilkada Aceh: “Lagee na aju” (Seperti apa adanya).

Sejarah dan kekuasaan adalah dua sekawan yang mungkin ikut menentukan gerak zaman. Tak ada yang menduga Trump menang di Amerika Serikat, atau ISIS sempat mengambil alih sebagian Irak dan Suriah. Kita bisa menyusun kekuatan, tapi memenangkannya menjadi kekuasaan mungkin baru sebatas titik pandang.

Sejarah adalah juga biang untuk masa depan, dan di situlah ia menjadi misteri. Kita yang hidup hari ini, berusaha keras membaca ke mana ia bergerak dalam tiga langkah ke depan. Mungkin sebuah usaha yang tak sepenuhnya sia-sia. Mereka yang membaca gerak sejarah, dan bergerak untuk mengubah keadaan dengan penuh keyakinan, biasanya akan lebih siap menyongsong perubahan. Setidaknya cukup untuk menghindari kutukan zaman bahwa sejarah datang mengetuk pintu, tapi sayangnya di dalam hanya ada orang-orang kerdil.
– [ ]

Tulisan ini juga dipublikasi di acehkita

Komentar

SHARE
Redaksi
aceHTrend menghadirkan berita dan opini yang dibutuhkan warga. Media ini didirikan oleh PT. Aceh Trend Mediana sebagai perusahaan pers untuk menjadi sarana berbagi informasi dan promosi bagi warga masyarakat, pebisnis, serta instansi pemerintahan yang ada di Aceh dan sekitarnya. Hubungi kami: [email protected]