SHARE

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Yap Thiam Hien (YTH), putra Aceh keturunan Tionghoa disebut sebagai sosok yang sangat mencintai Aceh. Pejuang keadilan dan Hak Azasi Manusia (HAM) asal Aceh itu juga disebut sangat percaya jika Aceh memiliki masa depan yang gemilang.

Hal itu disampaikan oleh Todung Mulya Lubis saat memberi sambutan di acara Yap Thiam Hien Human Rights Lecture di Gedung Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Rabu (6/12) pagi.

Gambaran tentang Aceh dari YTH itu disampaikan Todung saat menceritakan kedatangan pertamanya ke Aceh yang ditemani oleh YTH untuk keperluan membuka kantor Lembaga Bantuan Hukum di Aceh.

“Pak Yap itu sangat mencintai Aceh,” sebut Todung.

Bukan hanya soal cinta, Todung juga menyampaikan pandangan YTH tentang Aceh. Menurut YTH, sebut Todung, masyarakat Aceh itu sangat demokratis.

“Dia ingat pada masa dia masih hidup di Aceh tidak ada ketegangan horizontal, ketegangan antaragama, antarsuku, dan dia juga menceritakan bahwa dia merasakan ada basis demokrasi yang sangat kuat pada masyarakat Aceh. Karena itu dia percaya bahwa Aceh itu punya masa depan yang gemilang,” sebut Todung.

Todong berterimakasih kepada Unsyiah yang sudah menjadi mitra dalam melaksanakan Yap Thiam Hien Lecture.

Todung menyebut bahwa Yap Thiam Hien Lecture yang diadakan di Unsyiah adalah Yap Thiam Hien Lecture yang ketiga. Sebelumnya, untuk yang pertama diadakan tahun 2015 dan yang kedua diadakan di Jakarta dan Universitas Gajah Mada pada 2016.

Acara yang dilaksanakan di Gedung Dayan Dawood, Unsyiah itu terlihat hadir Yusni Sabi, Ketua KKR Aceh, Soraya Kamaruzzaman, dan Fuad Mardhatillah dan civitas akademika Unsyiah serta ratusan mahasiswa.

Dalam acara Yap Thiam Hien Lecture di Unsyiah hadir Prof. Eric Stover dari BarkeleyLaw University of California yang memberikan kuliah umum dengan tema Unquite Grave, The Forensic Investigation of The Dissapeared Argentina to Bosnia.

Siapa Prof Eric Stover?
Eric Stover adalah pelopor dalam memanfaatkan metode penelitian empiris untuk menangani isu-isu yang muncul dalam hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional.

Sebelum di Berkeley, Stover menjabat sebagai Direktur Eksekutif Dokter untuk Hak Asasi Manusia dan Direktur Program Ilmu Pengetahuan dan Hak Asasi Manusia dari Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan. 

Stover disebut pernah bertugas di beberapa misi forensik untuk menyelidiki kuburan massal sebagai “Ahli Misi” ke Pengadilan Pidana Internasional untuk bekas Yugoslavia dan Rwanda. 

Pada awal 1990-an, Stover melakukan penelitian pertama mengenai konsekuensi sosial dan medis dari ranjau darat di Kamboja dan negara-negara pasca-perang lainnya. 

Penelitiannya membantu meluncurkan Kampanye Internasional untuk Melarang Tambang Lahan, yang menerima Hadiah Nobel pada tahun 1997.

Dia telah menerbitkan enam buku, termasuk The Witnesses: Kejahatan Perang dan Janji Keadilan di Den Haag dan Pelanggaran terhadap Benda dan Pikiran: Penyiksaan, Penyalahgunaan Psikiatri, dan Profesi Kesehatan. []

Komentar