SHARE
Penulis bersama Toke Abu

Kami tiba di Teupin Manee sekira pukul 15.00 Wib (20/08/17). Setelah memarkir kenderaan, saya, Azmi Abubakar dan Tu Lem langsung masuk ke sebuah rumah kecil yang sudah terlihat tua. Kami disambut dengan hangat oleh seorang lelaki sepuh bertubuh kecil, tapi kekar. Lelaki tua yang tetap terlihat energik ini bernama Abu Bakar Amin. Masyarakat sekitar sering memanggilya dengan sebutan Toke Abu.

Ini adalah kunjungan kedua kami ke rumah Toke Abu. Sebulan yang lalu kami juga sempat singgah di tempat beliau. Waktu itu, kami mendapat banyak cerita dari beliau tentang keberadaan Lapangan Udara Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di Desa Teupin Manee, Kecamatan Juli Kabupaten Bireuen.

**********

Dalam kunjungan kali ini, kami ingin memperdalam cerita-cerita lama itu untuk ditulis dengan sedikit rapi. Sambil menikmati hidangan ringan – pisang goreng dan kopi, Toke Abu pun mulai bercerita kepada kami. Dulu, kata Toke Abu, di Teupin Manee pernah berdiri sebuah Lapangan Udara militer milik Angkatan Udara RI. Lapangan Udara ini, adalah peninggalan Jepang – yang menurut Toke Abu belum selesai dibangun. Waktu itu, akibat serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang terpaksa menyerah dan meninggalkan Indonesia.

Pasca kepulangan Jepang – masih menurut Toke Abu, Lapangan Udara Teupin Manee tersebut kemudian digunakan oleh Angkatan Udara RI. Toke Abu sempat bekerja sebagai Pegawai Harian Tetap di Lapangan udara tersebut selama tujuh tahun. “Saya bekerja dari tahun 1950 sampai tahun 1957”, kata Toke Abu.

Dalam surat yang diperlihatkan kepada kami, tertera bahwa Toke Abu bekerja di Lapangan Udara Teupin Mane dari tanggal 10 Oktober 1950 sampai dengan 3 Agustus 1957. Pada saat itu, lelaki tua yang saat ini berusia 93 tahun digaji sebesar Rp. 250,- oleh pemerintah. Saat bekerja sebagai Pegawai Harian Tetap di Lapangan Udara ini, Toke Abu masih berusia 26 tahun.

Pada tahun 1957 beliau meminta kepada pemerintah untuk berhenti secara hormat dengan alasan ingin mengurus orang tuanya yang sudah berusia lanjut. Meskipun pada tahun 1957 beliau sudah tidak lagi bekerja di Lapangan Udara Teupin Mane, namun surat pemberhentian secara hormat baru dikeluarkan pada 1 Maret 1984.

Surat keterangan pemberhentian ini ditandatangani oleh Kapten Ali Akbar, Kepala Personalia Pangkalan Udara Kutaraja dan Lettu Zainuddin Luthfy yang menjabat sebagai Komandan Datasemen Udara Pangkalan Udara Bireuen. Surat pemberhentian Toke Abu ini juga turut ditandatangani oleh Letkol M. Sodik atas nama Panglima Komando Daerah Udara.

*********

Lapangan Udara AURI yang terletak di Teupin Manee ini memiliki panjang 1,5 km dan lebar 50 meter. Pada waktu itu, dalam ingatan Toke Abu – ada lima orang warga Bireuen yang menjadi Pegawai Harian Tetap. “Sekarang mungkin mereka semua sudah meninggal”, kata Toke Abu yang lahir pada tahun 1924 ini. Kantor AURI sendiri, menurut penuturan Toke Abu, berlokasi di pusat Kota Bireuen.

Sambil mengepul asap rokok Gudang Garam Merah, lelaki sepuh ini mengatakan bahwa pesawat mendarat di Lapangan Udara Teupin Manee pada setiap hari Sabtu. Pesawat-pesawat ini menurutnya berangkat dari Medan, kemudian singgah di Bireuen sebelum meneruskan penerbangan ke Banda Aceh.

Lapangan Udara Teupin Manee juga menyimpan banyak cerita. Salah satunya, seperti dikisahkan Toke Abu, bahwa dulunya tidak hanya orang, tapi ternak seperti lembu juga sering diangkut menggunakan pesawat. Lembu-lembu ini menurut Toke Abu dibawa ke arah Medan menggunakan pesawat tentara.

Sambil mengerutkan kening, Toke Abu menyebut nama seorang oknum tentara yang saat itu sering meminta lembu kepada masyarakat. “Namanya Simbolon, dia bukan angkatan udara, tapi angkatan darat”, kenang Toke Abu. Tapi sayangnya, Toke Abu tidak mampu lagi mengingat pangkat dan jabatan oknum tentara tersebut. Oknum tentara ini sering meminta lembu melalui kepala desa saat itu yang bernama Kechik Do Halim.

********

Dalam ingatan Toke Abu, Lapangan Udara Teupin Manee ini juga sering disebut dengan Lapangan Udara Iskandar Muda. Sementara Bandara di Aceh besar yang saat ini dikenal dengan Bandara Sultan Iskandar Muda, seperti dituliskan Sjamaun Gaharu (1995) dalam biografinya – dulunya bernama Lapangan Udara Blang Bintang.

Di Aceh sendiri, seperti disebut dalam buku Profil Propinsi Republik Indonesia terdapat beberapa bandara perintis, di antaranya: Lapangan Udara Lhok Nga Aceh Besar, Lapangan Udara Cut Nyak Dhien Meulaboh, Lapangan Udara Lasikin Sinabang, Lapangan Udara Cot Bak U Sabang, Lapangan Udara Tanjung Seumantok Langsa, Lapangan Udara Socfindo Singkil dan Lapangan Udara Malikussaleh di Lhokseumawe. Kondisi lapangan udara ini masih belum memadai dan hanya bisa didarati jenis pesawat kecil seperti SMAC atau Twin-Otter.

Saat ini, tanah luas bekas lapangan udara di Teupin Mane, sebagiannya telah dipenuhi dengan bangunan-bangunan pemerintah dan sebagian lainnya terlihat kosong. Tidak ada tanda-tanda bahwa kawasan ini pernah digunakan sebagai lapangan udara. Bahkan ramai masyarakat Bireuen yang tidak mengetahui keberadaan lapangan udara di Teupin Mane.

Komentar

SHARE
Khairil Miswar
Khairil Miswar saat ini berstatus sebagai Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Pada saat konflik Aceh berkecamuk penulis aktif dalam gerakan mahasiswa khususnya dalam aksi-aksi kemanusiaan dalam menangani pengungsi dan korban konflik. Pasca konflik penulis pernah terlibat dalam partai politik lokal sebagai Ketua Partai SIRA Bireuen. Saat ini penulis juga mengabdi sebagai seorang guru di sekolah rendah di perkampungan.