SHARE
Peserta UKW Utama (belakang) saat berpose bersama para penguji. Hotel Grand Aceh, Senin (4/12/2017)

Seorang lelaki bertubuh kecil, kurus, dan sudah berusia melebihi setengah abad, dengan wajah dingin masuk ke ruangan. Ruang itu adalah kamar hotel yang diubah sementara untuk ruang ujian Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Utama. Di tangannya ia mengapit map plastik warna biru.

Lelaki itu tersenyum kala sudah duduk. Namun bagi saya, senyuman itu hanya sebuah basa-basi biasa, jelang “penjagalan”.

“Segera isi 20 nomor kontak jejaring Saudara,” katanya sembari menyerahkan selembar kertas hvs.

Tujuh orang lelaki –saya yang termuda—terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa uji jejaring dilakukan pada tahapan paling awal. Biasanya uji tersebut dilakukan pada sesi terakhir. Terlihat wajah-wajah pucat, keringat dingin serta hembusan nafas yang kian berat.

Saya sendiri, mengalami perang batin yang luar biasa. Adalah sudah menjadi tabiat saya pribadi, bahwa tidak ada narasumber yang sangat saya istimewakan. Bagi saya jejaring –narasumber–adalah bahagian dari tugas, yang dengannya saya menjaga jarak. 20 nomor kontak bukan jumlah yang sedikit.

Tanpa persiapan khusus. Andaikan mereka tidak menanggapi panggilan telepon dari saya, bagaimana? Saya akan gagal menjadi Wartawan Utama.

Akhirnya nama saya pun dipanggil. DR. Usman Yatim, M. Pd, M.Sc, Dosen FIKOM UPDM (B), yang juga Direktur Uji Kompetensi Wartawan PWI Pusat, sejenak melihat daftar jejaring yang saya ajukan. Pertama dia menunjuk nomor Kepala Dinas Pendidikan Dayah Bustami Usman.

Keringat dingin mengucur dari kepala saya. Bilakah Bustami tidak mengangkat telepon, habislah saya.

“Assalamualaikum, ya ada apa Muhajir? Ada yang bisa saya bantu,” terdengar suara Bustami Usman di ujung telepon. Krak! Saya selamat.

Usman Yatim menunjuk nomor kedua. Seorang anggota DPR. Saya telepon, nomornya tidak aktif. Glek! Jantung saya berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang.

“Coba nomor ini,” tunjuk lelaki yang tidak banyak bicara itu.

“Walaikumsalam, Muhajir Juli sejauh apa yang saya ketahui adalah seorang jurnalis yang memiliki etika, memiliki keberanian, tulisannya bernas, bla-bla,” kata Zaini Djalil, Ketua DPD I NasDEM Propinsi Aceh. Ia mengatakan demikian kala saya meminta pendapat terkait saya, karena penguji hendak mendengar itu.

Satu tahapan perang pun usai.

***

Dari tujuh peserta UKW Utama, hanya tiga yang saya kenal, pertama Sulaiman Pemred Harian rakyat Aceh. Dadang Heryanto Pemred BERITAKINI.CO, dan Khalisuddin Pemred LintasGayo. Untuk yang terakhir itu adalah senior saya kala kami sama-sama bekerja di media online The Globe Journal (TGJ) yang sempat Berjaya di tahun-tahun sebelumnya. Kini media itu telah tutup—setidaknya untuk sementara waktu.

Jikalau saya tidak salah, ada tujuh mata uji yang dites pada UKW Utama. Tiap sesi hanya memiliki waktu 30 menit. Banyak hal yang diuji, mulai dari jejaring, simulasi mempimpin rapat redaksi hingga kemampuan menulis usulan liputan investigasi.

Hal yang paling berat lainnya adalah uji penguasaan Kode Etik Wartawan dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers Indonesia. Penguji, dengan gayanya yang dingin itu, bukan semata menguji pengetahuan, tapi juga menguji ketelitian.

Perpaduan pengetahuan yang luas, kemampuan menulis, kejelian, ketelitian serta kecepatan, menjadi kemampuan yang tidak boleh diabaikan. Saya melihat, ada beberapa yang keteteran, Namun mereka berhasil menyelesaikan tugasnya, walau wajah pucat pasi, keringat dingin, lenguhan nafas, menjadi kombinasi komplit untuk mencitrakan bila UKW Utama bukan sesuatu yang gampang.

Tanpa membaca buku yang banyak, serta tidak rajin melatih diri menulis artikel panjang, saya yakin UKW Utama tidak akan bisa dilewati. Kuncinya ada di sana.

***

Semenjak tiba di Hotel Grand Aceh, banda Aceh, Senin (4/12/2017) untuk mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Propinsi Aceh, saya dilanda galau yang luar biasa. Seperti di awal tulisan ini, salah satu yang membuat ujian ini terasa berat adalah persoalan jejaring. Dijawab atau tidak telepon, sangat mempengaruhi nilai. Di bawah nilai 70, tentu tidak lulus. Satu saja mata uji mempunyai nilai di bawah 70, dipastikan seseorang akan gagal UKW, baik di tingkat Muda, Madya maupun Utama. Bagi PWI, jejaring merupakan sesuatu yang wajib.

Jikalau tidak salah, ada sekitar 12 kali saya bolak-balik ke kamar mandi sejak pagi hingga jelang magrib. Saya sempat demam. Kemudian setelah minum air putih lumayan banyak, demam pun reda. Tapi, durasi ke kamar mandi pun semakin tinggi. Setiap satu tes yang saya lewati, saya selalu harus ke kamar mandi.

Saya pun heran. Apakah karena hujan deras di luar hotel dan suhu dingin di dalam ruang tes? Ataukah karena saya mengalami nervous? Saya menganggapnya itu suatu perpaduan antara cuaca dingin dan nervous. Jelas, UKW adalah pertaruhan harkat dan martabat saya selaku jurnalis yang sudah berlangsung 10 tahun.

Bagi perjalanan karier, masa kerja 10 tahun bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tapi saya memiliki anugerah lain, berkat ketekunan belajar menulis, karier saya berjalan begitu cepat. Mulai dari wartawan lapangan, editor hingga editor in chief, saya lewati dalam durasi 10 tahun. Sehingga mau tidak mau, UKW Utama harus saya ikuti. Bila tidak, saya tidak boleh lagi menjadi pemimpin redaksi.

Tentu, dalam mengikuti UKW, saya membawa beban itu. Andaikan saya gagal, maka media yang saya pimpin akan menuai dampak buruk. Saya bahkan sempat membuat pilihan, semenjak dalam perjalanan dari kantor ke hotel. Andaikan saya tidak lulus UKW Utama, maka saya akan mundur sebagai pemimpin redaksi, hingga saya lulus di lain waktu.

Alhamdulillah, saya bisa menuntaskan setiap mata uji step by step. Bahkan, di luar uji jejaring yang durasi tesnya sama—setiap kami hanya emmiliki waktu lima menit, untuk beberapa mata uji lainnya, saya lebih cepat menuntaskan tugas. Saya bisa menyelesaikan di bawah waktu yang diberikan oleh penguji.

Seorang wartawan gaek bertanya “Kenapa kamu cepat sekali?”

“Untuk apa lambat-lambat, bila yang kita tulis toh itu juga,” jawab saya singkat sembari mengisi form kontrol ujian.

Jelang azan magrib, ujian selesai. Wajah-wajah kami masih tegang. Penguji menatap kami satu persatu. Doa-doa memohon keberuntungan pun meluncur keras. Sepanjang ujian, saya dan teman-teman lainnya, selalu membaca basmallah dan sesekali saya pun bertakbir, untuk menyemangati diri. Ini membuktikan bahwa kami semua tidak menganggap UKW Utama sebagai sesuatu yang gampang.

“kalian lulus semua,” kata Usman Yatim. Sejenak ia memberikan wejangan. “Terus perbaiki kekurangan,” pesannya.

Kami, tujuh lelaki yang mengikuti UKW Utama, pun tersenyum serempak. Kami gembira.

***

Satu malam sebelum UKW berlangsung, Fauzi, Irwan Saputra dan Bustami—ketiganya adalah personil redaksi aceHTrend—belajar keras. KEJ mereka print dan baca secara telaten. Kemudian menyusun jejaring di hvs. Hingga kami pun memutuskan untuk tidur—malam itu kami tidur di kantor redaksi—kami berempat tetap masih belum lega.

Fauzi Cut Syam, wartawan tertua di redaksi aceHTrend, memiliki kenangan indah kala ia mengikuti UKW Muda. Dia dan saya berada di ruang berbeda.

Apa itu?

Begini, pada pagi harinya, ia terlihat sangat sibuk menyiapkan diri. Ia buru-buru dan terlihat tidak tenang. Ia bahkan harus kembali ke kantor di kawasan Tibang, padahal sudah setengah perjalanan menuju lokasi UKW. Penyebabnya ada berkas yang tertinggal. Itu kenangan paling indah? Bukan.

Ketika ia hendak shalat, begitu ia membuka sepatu, ternyata di dalam sepatunya ada kodok –di Aceh disebut cangguk ‘pop—yang sudah pipih. Fauzi kaget. Ternyata, “jenazah” kodok itu ikut menyertai UKW Muda yang diikuti oleh Fauzi.

“Berarti ketika saya memakai sepatu, kodok itu bersembunyi di dalam sepatu saya. Anehnya tidak saya sadari,” kata Fauzi sembari memperlihatkan kakinya yang bengkak karena terkena racun kodok yang terjepit hingga mati di dalam sepatu.

Duh, kodok yang malang.[]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar