SHARE

ACEHTREND.CO, Lamno- Warga Gampong Ceuraceu, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya, bersama dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, membangun tugu peringatan tragedi Krueng Suri. Monumen ini didirikan sebagai bentuk untuk membangun kesadaran sejarah bagi generasi selanjutnya.

Informasi yang didapatkan oleh aceHTrend, Rabu (30/8/2017) menyebutkan,
tugu ini didirikan untuk mengingat peristiwa gugurnya sembilan orang warga Ceuraceu, Mukim Sarah Raya di kawasan Krueng Suri, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya, kejadiannya pada hari selasa pukul 17.00 Wib di bulan Agustus 2004.

Setelah terpaksa mengungsi dan tinggal di hutan selama beberapa bulan karena takut dengan dampak konflik, beberapa warga bersedia pulang kembali ke kampung saat dijemput oleh keluarganya. Dalam perjalanan kembali ke kampung mereka hendak beristirahat dan shalat ashar di sebuah pondok. Namun mereka telah syahid sebelum sempat menunaikan shalat ashar akibat ditembak oleh pasukan TNI yang diduga berasal dari kesatuan Raider 100 yang bermarkas di Gampong Alue Jang, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya.

Mereka yang tewas dalam tragedi itu adalah:
Tgk. Syamsuddin bin Tgk Saleh
Mawarni binti Tgk. Syamsuddin
Izwar bin Tgk. Syamsuddin
Ismail bin Tgk Baet
Sapuri bin Ismail
Anisah binti Ismail
M. Jamil bin Musa
Rizal bin Abdullah Asal Pidie
Muliadi bin Abdullah Asal Aceh Utara
Tugu ini di bangun di Gampong Ceuraceu, Kecamatan Pasie Raya, Kabupaten Aceh Jaya

“Dibangun di perkampungan. Tempat tragedi itu di tengah hutan. Yang paling penting bahwa monumen ini berdiri agar bisa dikenang oleh anak cucu,” ujar seorang warga.

Direktur Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad mengatakan, tugu tragedi Krueng Suri bukan sebagai bentuk membuka luka lama, melainkan sebagai penanda titik awal dibangunnya peradaban baru masyarakat Aceh yang anti kekerasan, cinta perdamaian, tangguh dalam menegakkan kebenaran dan pendukung keadilan yang bermartabat.

“Hingga dalam perjalanan pembangunan ke depan puluhan bahkan ratusan tahun kedepan. Jika ada pemimpin atau masyarakat yang lupa pada tujuan akhir pembangunan Indonesia yaitu masyarakat bermatabat, adil dan sejahtera. Maka monumen tersebut akan membantu mengingatkan pemimpin bangsa untuk kembali ke jalan yang benar hingga tidak adalagi nyawa tak bersalah mati hanya karena salah kebijakan,” kata aktivis kemanusiaan itu.

Komentar