SHARE

Pengantar: Peristiwa kekerasan atas muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar makin memicu tanda tanya di publik. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri Myanmar yang dahulu disebut Birma atau Burma?

Apakah kekerasan atas Muslim Rohingya sebatas kebencian atas agama Islam, atau ada problem lain yang sedang akut dalam pengelolaan negeri Myanmar, atau adakah pula hajatan asing-perusahaan multinasional yang sedang mengincar sumber daya alam di sana.

Baca juga: Muslim Rohingya, Ini Penjelasan Utuh Kyaw Win, Direktur Eksekutif Burma Human Right Network

Apapun alasannya, kekerasan tidak dibenarkan, namun dalam rangka mengetahui lebih dalam peta kekerasan di Myanmar yang korbannya adalah Muslim Rohingya, redaksi aceHTrend kembali melakukan wawancara dengan pihak Jaringan Hak Asasi Manusia Burma (BHRN) dan Yayasan Geutanyoe.

Kedua lembaga tersebut aktif dalam kegiatan pemantauan HAM di Myanmar, dan mengikuti perkembangan nasib muslim Rohingya, dari waktu ke waktu. Berikut wawancara dengan Kyaw Win, Direktur Eksekutif Burma Human Right Network dan Liliane Pan dari Yayasan Geutanyo.

1. Apa pemicu kekerasan atas Muslim Rohingya di Rakhine?  Semata agama,  atau ada pemicu lain yang lebih serius?

Hal  apa pun bisa memicu kekerasan selama aturan hukum tidak memperlakukan semua warga secara Adil. Ketegangan selalu ada antara Muslim dan Buddha.

2. Bisa Anda gambarkan garis besar keadaan sosial,  politik,  ekonomi,  agama dan budaya di negara bagian Rakhine sehingga memicu islamophobia? 

Islamofobia bukanlah fenomena yang sebenanya di Myanmar. seperti yang Telah diimplementasikan sejak tahun 1962, Kesenjangan dan aturan kebijakan yang telah dipraktekan oleh diktator umum Ne Win untuk membagi masyarakat dalam rangka mengendalikan mereka. Oleh karena itu, Rohingya ditolak secara sosial, ekonomi, kebebasan beragama dan budaya. Bahkan Semua Muslim di Myanmar kehilangan hak untuk terlibat dalam politik.

3. Siapa pemicu terjadinya Islamophobia di Rakhine,  elit penguasa,  elit agama,  atau media?

Partai politik di Rakhine, ekstrimis biksu Buddha, aktivis anti Muslim dan media nasional. Ini adalah aturan tak tertulis bahwa semua entitas harus mendukung nasionalisme bahkan melibatkan kekerasan.

4. Bagaimana peran negara dan perusahaan asing di Myanmar,  khususnya dalam mengincar Oil dan Gas di Myanmar? 

Negara bagian Rakhine adalah negara kaya sumber daya alam  tapi penduduk menghadapi tingkat kemiskinan tertinggi karena kelalaian oleh pemerintah pusat. Maungdaw memiliki Aluminium dan Titanium komposit, menurut para peneliti tingkat kompositnya lebih tinggi. negara tetangga berlomba berinvestasi dalam hal mengakses pipa minyak dan membangun pelabuhan di laut. Beberapa lokasi dipengaruhi oleh kekerasan komunal sejak 2012 hingga sekarang dikonversi ke zona ekonomi seperti di Kyauk Phyu.

5. Apa posisi Rakhine dalam hal oil dan gas,  memiliki oil & gas,  atau sekedar daerah jalur pipa oil & gas?

Rakhine memiliki tingkat ketersediaan yang lebih tinggi dalam bidang Gas dan Minyak dibandingkan dengan negara bagian lainnya di myanmar.

6. Negara mana saja yang paling besar investasinya di Myanmar terkait Oil & Gas,  dan adakah bisnis militer di situ?

Jenderal militer memiliki bisnis di berbagai lini. Pertama, baik anggota keluarga atau teman dekat yang menjalankan bisnis mereka. Kedua, perusahaan yang bergerak dalam bidang ekonomi dan bisnis adalah milik tentara yang membuat perjanjian dengan negara-negara tetangga dan memonopoli di banyak bisnis termasuk Minyak dan Gas.


Inggris, Cina, India, Singapura, Indonesia, Malaysia, Israel, Perancis, Norwegia, Jerman dan Amerika Serikat adalah investor utama di Myanmar.

Komentar