Di universitas tempat saya mengajar, ada seorang dosen senior bergelar profesor doktor. Gelar S2, dan S3, diraihnya dari universitas tersohor di Eropa Timur, dengan predikat nilai summa cum laude.

Kendati usia dosen itu tergolong tua, hanya beberapa tahun lagi pensiun. Tetapi, penampilannya masih segar. Gagahnya bukan main. Apabila mengajar di depan kelas, semangatnya membuncah. Energi untuk menularkan virus ilmu pada mahasiswa luar biasa, meluap-luap sampai ke ubun-ubun. Kalau berbicara, artikulasinya jelas. Suaranya bernada tenor.

Jika ia melangkah, hentakkan kakinya seperti tentara yang mau terjun ke medan perang. Gestur badannya tegak dan tinggi besar. Berpakaian, rapi. Apalagi mengenaikan dasi. Waduh gantengnya tak tertandingi.

Perilaku kesehariannya, baik di kampus maupun di tempat tinggalnya, sangat disiplin, bersahaja, intelek, dan cerdas. Ia sudah berkali-kali melakukan pelbagai terobosan keilmuan. Kompetensi sosial dan kemasyarakatannya pun sangat tinggi dan teruji. Guru besar itu, betul-betul telah mewakaf dirinya pada tridarma perguruan tinggi.

Perilaku teramat elok itu. Tak ayal, membuat media massa, menjulukinya guru yang layak digugu dan ditiru. Pendidik sejati, cendekiawan bertalenta, pengamat mumpuni, dan penulis berpena tajam.

Bukan sesuatu yang mengherankan, kalau mahasiswa, dosen, dan masyarakat banyak yang mengidolakannya, termasuk saya. Bagi saya, ia sosok dosen senior yang saya kagumi. Apalagi, ia sedang memangku jabatan sebagai dekan akademik di fakultas kami. Ia telah saya nobatkan sebagai figur intelektual sejati.

Setiap kali saya mendengar omongannya di ruang rapat, di forum-forum resmi maupun di kantin fakultas saat duduk ngopi, saya dan juga orang lain, selalu tercerahkan dan terinspirasi. Ide-idenya cemerlang dan obsesinya berilyan.

Apalagi, ia mempunyai cita-cita luhur. Di penghujung pengabdiannya di kampus, ia ingin maju menjadi gubernur. Dengan menduduki jabatan gubernur, katanya, ia lebih leluasa menyejahterakan rakyat sampai ke pelosok desa. Tidak korupsi dan memaksimalkan anggaran untuk kepentingan dan pembangunan sarana prasarana publik.

Bukan itu saja, ia juga ingin meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan pelayanan prima di segala sektor. Termasuk, memberlakukan syariat Islam. Bahkan, ia punya obsesi daerah ini menjadi pusat tamadun Islam.

Mendengar ide, obsesi, dan cita-cita luhur itu, saya semakin terkagum-kagum padanya. Karena harapannya itu sejalan dengan pikiran dan ilmu yang saya pelajari. Sangat ideal dan didambahkan banyak warga.

Sehingga setiap perbuatannya, diam-diam, tanpa tedeng aling-aling saya teladani, pendapat dan ide-idenya saya sosialisasikan. Kalau ada yang membantah, tak segan-segan saya membelanya. Bahkan dalam hati saya, timbul kebulatan tekad untuk mewujudkan cita-citanya itu.

***

Beberapa hari lalu, kolega saya seorang dosen menyampaikan kabar gembira, bahwa figur intelektual saya, sang professor, telah mendeklarasikan diri sebagai calon gubernur negeri ini.

Mendengar kabar itu, alang kepalang, saya sangat gembira. Saya mengucapkan Alhamdulillah. Syukur pada Allah. Hati saya senang mendengarnya.

“Bagus. Sang profesor itu sangat tepat dan pantas menjadi gubernur. Dengan menjadi gubernur apa yang menjadi obsesi dan cita-citanya selama ini akan mudah terwujud,” sahut saya.

“Ya. saya juga setuju. Banyak guru besar dan dosen di kampus kita juga mendukungnya. Ini sebuah kebanggaan bagi almamater. Karena dengan adanya sivitas akademika yang menjadi top leader, tingkatan universitas ini semakin tinggi. Ini suatu pertanda, ilmuan dari universitas mulai menggeliat. Turut mewarnai pembangunan.

Seluruh sivitas akademika termasuk alumni, harus dikerahkan mendukung pencalonan. Mari bahu membahu menggoalkan sang profesor menjadi gubernur,” ucap kolega saya itu.

***

Menyikapi hal demikian, secara sembunyi-sembunyi—karena di kampus dilarang berpolitik praktis—pihak rektorat dan dekanat juga melibatkan senat mahasiswa termasuk beberapa aktifis, telah membentuk tim sukses dan mereka sudah berkerja menggalang kekuatan.

Kain rentang telah dipajang di tempat-tempat strategis. Tim kecil, sebagai pasukan grilya mendekati mahasiswa dan orangtuanya pun sudah bergerak. Ketua alumni universitas dan fakultas, sudah turun ke pelosok daerah. Mereka menggelar pertemuan dan mengajak agar memilih profesor menjadi gubernur.

Kampanye yang digelar, berbeda dengan kampanye kandidat lainnya. Berupa penyampaian visi dan misi, berdiskusi, dan dialog dalam gedung. Tak ada pengerahan masa di jalan-jalan dan di lapangan terbuka. Kampanye seperti ini, ternyata mendapat simpati dan respon positif dari massa.

Upaya dan strategi pemenangan sudah optimal. Semuanya berjalan sesuai rencana. Agaknya, kemenangganan pun sudah berada di tangan.

Apalagi, figur yang mendampingi profesor sebagai wakil gubernur, sosok ulama yang sangat dikenal. Berasal dari pasantren besar dan terkenal serta alumni universitas di Timur Tengah.

Pasangan ini sangat klop. Gubernurnya intelektual yang menguasai berbagai tiori keilmuan. Punya obsesi dan trobosan-trobosan. Sedangkan wakilnya, ulama cendekiawan, bijak-bestari yang dekat dengan para ulama dan santri.

Untuk membuktikan kemenangan, hanya tinggal di tangan pemilih, saat di bilik suara nanti. Di atas kertas dan prediksi para pengamat, kemenanggan takkan beranjak lagi.

Kalau pasangan profesor menang, sudah barang tentu daerah ini menjadi negeri yang makmur, sejahtera, dan bersyariat, pusat tamadun Islam, seperti yang dicita-citakan profesor yang tertuangkan dalam visi dan misi.

***

Hari pemungutan suara pun tiba. Ada lima pasangan gubernur yang bertarung. Kelima-limanya, adalah pasangan yang tak kalah hebatnya dengan pasangan profesor.

Saat perhitungan suara, benar adanya. Pasangan sang profesor doktor unggul, meraih suara terbanyak. Pasangan ini berhasil mengalahkan rival-rivalnya.

Pesta pemilihan gubernur pun usai. Pasangan yang kalah telah rela menerima kekalahannya. Komisaris pemilihan telah memplenokan dan mengetuk palunya, menetapkan peraih suara terbanyak menjadi calon gubernur terpilih.

Tinggal tahapan selanjutnya, yaitu pelantikkan gubernur dan wakil gubernur yang menang. Pelantikan ini, dijadwalkan pekan ketiga setelah penetapan calon.

Dalam suasana menunggu pelantikan atau kevakuman, setan pun mengipas-gipas api kesirikan dan kesesatan. Ternyata banyak orang yang sayang pada pasangan sang profesor, banyak pula yang membencinya.

Telah terbetik kabar, bahwa gubernur terpilih yang notobene figur intelektual saya, telah bermain api yang percikkannya membakar seantero negeri.

Ah, rupanya. Calon gubernur terpilih, terlibat dalam skandal ingkar janji dengan mahasiswa. Sang profesor pernah berjanji, bahwa mahasiswa yang mengambil mata kuliah padanya akan diberikannya masing-masing satu diktat kuliah. Namun diktat itu hingga satu semester, tak kunjung pernah diserahkannya. Padahal uang dari mahasiswa sudah ditariknya.

Karena mahasiswa merasa tertipu dan keberataan atas perilaku sang profesor, mahasiswa yang tak senang. Apalagi mahasiswa itu, telah dirasuki konspirasi setan dan lawan-lawan politik profesor. Lantas, mereka mengadukan dan membuat mosi tak percaya kepada presiden agar profesor yang terpilih menjadi calon gubernur, tidak jadi dilantik. Sebab, ia terjerat pasal moralitas, etika, dan kejahatan akademik.

Menurut mereka, bukankah orang yang telah berdusta sangat dibenci Allah. Tidak ada akhlak yang paling dibenci Allah melebihi sifat dusta. “Jika seorang hamba berdusta, maka malaikat akan menjauhi darinya sejauh satu mil karena bau busuk yang keluar darinya.”

Atas aduan mahasiswa tadi, diprediksi presiden tidak jadi melantik pasangan sang profesor menjadi gubernur. Walau pun masalah ini, masih multitafsir dan tidak begitu tegas tercantum dalam regulasi.

Tetapi, presiden bisa saja menafsirkan pasal itu dengan suatu kesimpulan mengeliminir sang profesor menjadi gubernur. Bukankah ini kejahatan etika dan moralitas, sekecil apapun ia dan walaupun itu dilaksanakan pada masa lalu. Apalagi di negeri ini, hukum bisa dibeli dan digadaikan. Dalam aspek hukum, roti bisa dikatakan batu. Batu bisa dikatakan roti.

Mendengar kabar itu, warga yang telah memilih profesor, terhenyak. Hati mereka dirundung kesia-siaan. Sesal tiada guna. Di Sudut gedung dan kantin kampus, kelakuan sang profesor menjadi bahan pembicaraan sekaligus tertawaan.

“Kampus dan segenap sivitas akademikanya tercemar. Daerah pun kehilangan marwah. Gubernur yang didambakan, punya visi dan misi yang bernas, telah terlibat skandal sepele penipuan diktat kuliah mahasiswa. Cita-cita untuk mewujudkan negeri syariat dan pusat tamadun Islam pun pupus.

Saya tidak mampu lagi membela sang profesor. Saya hanya bisa mengurut dada seraya berkata : “Ya Allah, siapa lagi figur intelektual yang bisa saya teladani. Profesor doktor yang selama saya idolakan, ternyata terlibat skandal penipuan diktat kuliah mahasiswa. Ah, calon gubernur Skandalmu itu![]

Sadri Ondang Jaya
Sadri Ondang Jaya adalah wartawan aceHTrend untuk wilayah Aceh Singkil dan sekitarnya. Di samping itu pria yang gandrung membaca ini, suka menulis esai, puisi, dan cerpen. Sarjana FKIP Unsyiah ini telah berhasil menerbitkan buku "Singkil Dalam Konstelasi Sejarah Aceh". Juga aktif di blogger Aceh.