Bendera Aceh By MH

Kakek Hamid memandang kosong ke halaman rumah. Senja yang sedikit agak berkabut berhasil mengurangi semburat keindahan yang dipancarkan oleh sinar matahari sore yang berwarna kuning keemasan.

Dia, lelaki yang hidup pada tiga kibar bendera berbeda semakin uzur dimakan usia. Namun, isi kepalanya yang masih mampu menghafal dengan sempurna hikayat Prang sabi versi asli karangan Abu Syik Hasan Krueng Kale, menjadi pembeda antara dirinya dengan onggok daging tua lainnya yang hanya menjadi calon penghuni kubur yang hidupnya tidak lagi begitu berarti.

Pelan namun pasti, airmatanya keluar. Melewati gurat kulit yang keriput. Melintasi jejeran otot yang mengendur dan akhirnya masuk ke mulut yang hanya dihuni oleh satu dua gigi rapuh yang berposisi sebagai saksi sejarah bila yang empunya air mata adalah manusia yang hidup lintas zaman.

Hasan Tiro. Itulah nama yang akhir-akhir ini sering disebut oleh kek Hamid-begitu kami sering memanggilnya- ya sebuah nama yang legendaris, dan hanya dipunyai oleh Aceh di era millenium ketiga– Dialah lelaki aneh dan asing serta tidak populer di mata mereka yang sok nasional. Namun namanya begitu harum pada bagian ingatan kaum marginal yang tertindas serta diracuni dengan amonia yang dihasilkan oleh industri high technology.

“Semoga arwah mu diterima dengan baik di sisi Allah. Engkaulah lelaki terakhir, pemimpin terakhir serta saudara terakhir yang punya idealisme sejati sampai ajal menjemput,” gumam kek Hamid seolah berbicara pada dirinya sendiri.***

Kumandang azan magrib menggema. Setelah selesai menghadap Ilahi dengan jumlah rakaat tiga, kek Hamid kembali ke beranda rumah.

Sang cucu yang dipanggil Sarong dengan setia selalu menyeduh dan menghidangkan segelas kopi pahit bagi sang kakek.

“Ini kek kopi kesukaan kakek,”

“Terima kasih Sarong,”Jawab kakek Hamid singkat.

Setelah menghirup kopi panas, kek Hamid bangkit dari tempat duduknya.

“Tunggu sebentar. Kakek ingin memberikan sesuatu padamu,”

“Baik kek,” jawab Sarong dengan penuh takzim.

Dua menit kemudian Kakek Hamid keluar dengan menenteng sebuah peti kecil. Tanpa memperbanyak kalam, dia langsung membuka.

“Bendera bulan bintang, wah keren kali kek!,” gumam Sarong penuh takzim.

“Iya ini bendera pusaka. Pemberian Hasan Tiro kepada kakek. Ini satu-satunya bendera asli yang pernah disentuh oleh tangan Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Hasan di Tiro,”

Sarong menatap dengan penuh kekaguman. Ah, seandainya bendera itu diberikan langsung oleh Hasan Tiro ke tangan Sarong sendiri,sungguh tiada lagi keindahan setelahnya.

Sejenak kemudian, Sarong langsung teringat dengan rencana konvoi besok siang. Orang-orang kampung yang menamakan dirinya pendukung Bulan Bintang akan mendatangi Pusat Peradaban untuk melakukan aksi dukungan terhadap rencana para punggawa politik yang hendak menjadikan bendera dengan dominan merah itu menjadi umbul-umbulnya daerah modal.

kakek Hamid menangkap gelagat itu di wajah Sarong.

“Jangan sekali-kali kau bawa arakan bendera ini. Ini dibuat dengan darah dan diperuntukkan hanya untu sebuah negeri yang berdaulat. Jadi nilainya tidak sama dengan yang besok akan dikibarkan,” Kata Kakek Hamid dengan nada tegas.

“Tapi bukankah warna dan bentuknya sama. Para pendukungnya juga sama,” protes Sarong.

Mendengar itu, kakek Hamid tersenyum. Dia maklum cucunya tidak paham dengan historis dan nilai dari bendera yang dirancang oleh Hasan Tiro itu. Sama halnya yang juga dipahami oleh mereka yang meminta agar Bulan Bintang menjadi miliknya daerah modal.

Menjelaskan secara detail, tentu saja sang cucu tidak akan punya waktu untuk mendengar. Kakek Hamid harus mampu menjelaskan dengan ringkas namun tegas. Setelah dia menemukan kalimat yang tepat, dia kembali berkalam.

“Sarong, ini bendera pusaka. Diciptakan oleh sang maestro Hasan di Tiro untuk identitas suatu bangsa yang bernama Aceh. Untuk sebuah negeri yang dipimpin oleh presidennya sendiri. Dengan mata uangnya sendiri. Dengan tanggal kemerdekaannya sendiri. Juga dengan hukumnya sendiri,”

“Berarti berbeda dengan bendera yang akan dikibarkan besok?,” timpal Sarong

“Secara bentuk dan warna mungkin tidak ada perbedaan. Namun secara maksud dan tujuan, ibarat menyamakan antara Pinang dengan Kayu Jati,”

“Jadi apa yang harus kulakukan dengan bendera ini kek?,”

Mendengar itu, Kakek Hamid tersenyum bahagia. Berarti sang cucu mulai menemukan maksud yang dia ingin sampaikan.

“Simpan baik-baik. Usia kakek tidak memungkinkan lagi untuk menjaganya. Maka kuserahkan pusaka ini padamu. Rawatlah dia. Belalah dia, dan bila masanya sudah tiba, kibarkan di tiang tinggi, agar dia nampak gagah di tanah airnya sendiri,”

“Bilakah masa itu akan tiba?,”

“Bersabarlah. Suatu saat ketika korupsi sudah semakin merajalela. Para pejabat sudah beronani dengan kekuasaan, maka saat itulah bendera itu kau kibarkan. Pukulkan tiangnya ke atas kepala para pengkhianat. Tusukkan ujungnya ke dubur para pendosa dan pemerkosa hak-hak rakyat,” kata Kakek Hamid dengan berapi-api.

“Namun yang harus kau ingat, jangan sekali-kali kau gunakan bendera ini untuk mencari kekayaan pribadi. Untuk merampok rakyat negeri dan lain sebagainya. Gunakan untuk berjuang demi tegaknya keadilan di muka bumi ini,” Kata Kakek Hamid sambil menutup pembicaraan.

Sarong mengangguk tanda paham. Dia menerima dengan rasa bangga bendera pusaka yang diserahkan oleh sang kakek. Dengan penuh sukacita dia akan menanti masa, ketika Bulan Bintang akan berkibar atas nama sebuah bangsa. []

Banda Aceh, 8 April2013