BERBAGI

Oleh Munawar*)

Rusli dulunya pemuda yang tambun, tanpa alasan yang jelas tubuhnya digerogoti darah manis hingga membuat orang-orang tak bisa percaya melihat tubuhnya yang kini menjadi ringkih. Hari-harinya dihabiskan berteman dengan rokok yang tiada putus. Dia pernah menjadi pemuda, tapi setelah angka usianya yang ke tigapuluh lewat, Rusli dijuluki bujang lapuk bersebab ia tak kunjung menikah. Ada yang menganggap dia tidak selera atas perempuan. Banyak juga orang kampung menganggapnya impoten.

Di suatu sore, di bawah guyuran gerimis ia mendayung sepeda ontel yang sebenarnya warisan dari kakek buyutnya, menuju ke sebuah warung kopi tua yang berada di kawasan persawahan. Sepeda itu berderit di atas jalan berbatu sebab rantainya yang berkarat. Ini juga yang membuat Rusli harus mengumpulkan segenap tenaganya dalam mendayung, sampai-sampai kentutnya keluar berhamburan. Ia sedang menuju ke sebuah warung kopi tua yang berada di kawasan persawahan. Warung kopi telah menjadi rumah ke dua setelah rumah bikinan orang tuanya.

“Sini, sini..”

Rusli berseru ke teman-teman ngopinya untuk mendengar ceritanya. Sudah menjadi kebiasaan, setiap berkumpul dengan teman-teman di warung dia akan bercerita panjang lebar sembari menepuk-nepuk dada.

“Tukang santet hebat di kampung tetangga mati.” Tiga orang teman yang selama ini jadi pendengar setia atas cerita-cerita Rusli, tercengang.

“Bisa mati juga dia ya, bukannya dulu bisa menghilang saat kepergok melakukan ritual keliling kampung tanpa menggunakan sehelai benang?” sambar Kasim.

Rusli cepat-cepat menghabiskan kopinya, “kalau tidak percaya ayo ikut aku.” Rusli meninggalkan gelas kopi yang kosong.

***

Pagi ini warga kampung tetangga dihebohkan dengan kabar temuan mayat seseorang. Kondisi mayat tersebut mengambang di atas permukaan air dengan leher dijerat sabut ijuk di dalam sebuah sumur tua yang tak bercincin. Mayat tersebut masih bisa dikenali, mungkin dikarenakan si pembunuh masih punya hati hingga tak jadi memisahkan batok kepala sekaligus batang leher seorang tukang santet dari dudukan tubuhnya. Sebenarnya tukang santet ini sudah lama diincar dan dicurigai oleh warga setempat. Namun, warga belum menemukan bukti yang kuat terlebih kasus santet semacam ini bukanlah kasus yang dapat dilaporkan kepada pihak berwajib. Sehingga warga tidak dapat berbuat apa-apa meskipun kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun. Akhirnya warga memilih main hakim sendiri.

Semalam, nasib baik sedang berpihak pada warga, “setan” kiriman Rabat Jaleem membocorkan rahasia soal identitas siapa empunya. Sebab sudah tak betah lagi berlama-lama di dalam tubuh seorang gadis setelah mendapat usiran dari orang pintar lewat bacaan-bacaan ayat suci. Berbekal informasi yang mengarah pada keberadaan Rabat Jaleem inilah para pemuda mengambil jalan pintas: warga menjerat leher Rabat Jaleem dan membuangnya ke dalam sumur tua.

Ini pagi senin, seharusnya anak-anak sekolah dan orang kantoran sudah bergegas ke tempat kerja mereka masing-masing bersebab harus mengikuti apel pagi. Tetapi yang anak-anak sekolah dan orang kantoran di kampung tetangga itu lakukan adalah, dengan seragam sekolah dan dandanan kantor, mereka mengerumuni mulut sumur tua. Mereka rela berdesakan hingga melewati jam apel senin usai hanya untuk mendongakkan kepala agar bisa melihat isi sumur tua yang buat penasaran dan menjadi buah bibir sedari tadi, kala waktu masih pagi buta.

Ini kampung tetangga, namanya juga sebuah kampung, jadi sudah pasti tak jauh berbeda dengan kampung-kampung lain, hanya saja keberadaan dan maraknya kabar tentang santet yang membuat kampung tetangga menjadi spesial sekaligus menyeramkan di mata orang-orang. Rabat Jaleem merupakan julukan  untuk seorang lelaki tua sakti mandra guna yang selama ini sering membuat masyarakat kampung tetangga resah. Bagaimana tidak? Dari waktu ke waktu korban terus berjatuhan, tua muda hingga anak-anak menjadi tumbal buroeng tujoeh peliharaan Rabat Jaleem. Dia diduga sebagai tukang santet yang sangat kejam dan tak punya hati ketika memilih dan menjerat korban.

“Kalian tahu bagaimana kiprahnya selama ini? Tidak bisa diragukan dan dibantahkan lagi. Sangat kejam dan sangat adil. Ya adil! Setiap rumah mendapatkan jatah masing-masing mulai dari gatal hingga kemudian luka sampai lari keliling kampung sembari teriak-teriak kesetanan.” Rusli melanjutkan ceritanya dengan mimik meyakinkan di depan orang-orang yang sedari tadi mengerumuni sumur tua yang berisi mayat Rabat Jaleem itu. Rusli dengan terengah-engah sehabis menempuh perjalanan yang pada nyatanya tidak begitu jauh dari warung kopi tadi terus melanjutkan ceritanya, bak seorang pemonolog yang sedang mencuri perhatian penonton. Anehnya, orang-orang mendengarkan dengan khusuk sembari mangangguk kepala.

“Pernah suatu kali seorang warga bercerita, pada suatu malam, dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya lantas mendengar suara aneh dari atap rumah. Atap rumahnya seperti disirami butiran pasir. Sejak malam itu rumahnya disesaki hawa aneh. Celakanyanya lagi, ternyata peristiwa aneh tak hanya selesai pada malam itu. Akan tetapi, besok paginya di pintu pagar halaman rumah ditemukan bungkusan bahan santet yang dibalut dengan kain putih persis kain untuk membalut mayat yang lengkap dengan isi muatan sihir seperti jeruk purut busuk yang dilumuri tusukan pentul, minyak orang meninggal hingga beras padi. Saat itu keberuntungan masih memihak pada tuan rumah. Sebab, bungkusan itu belumlah selesai ditanam dengan sempurna oleh si punya hajat. Alhasil, bungkusan yang sebagiannya menyembul ke permukaan dapat dilihat dengan jelas oleh sang pemilik rumah dan sontak saja membuat terperangah.

Pemilik rumah yang bingung harus berbuat apa langsung saja memanggil orang pintar untuk menengani perkara bungkusan itu. Oleh orang pintar tersebut kemudian diselesaikan dengan cara yang cukup lihai dan tetap hati-hati. Nah, kalian tahu bagaimana cara menyelesaikannya?” Rusli seperti kehabisan napas, menarik napas sekali, memperbaiki posisi berdirinya. Lalu menatap wajah pendengarnya dengan saksama.

“Kau sangat banyak tau?” Kasim yang sedari tadi khusuk mendengar, kemudian menyambar.

“Harus. Sebab kalau aku tidak tahu, maka kalian juga tidak akan pernah tahu.” Rusli menjawab dengan penuh rasa bangga dan dagu terangkat. “Orang pintar yang dipanggil tadi kemudian menyelesaikan kiriman tak baik itu dengan caranya sendiri. Dia memetik daun melinjo hijau tua, lalu menyelipkan daun melinjo di antara lipatan lutut kirinya, baru kemudian ia jongkok dan mencolak-colek bungkusan yang diikat seperti mayat dengan ujung golok yang berkarat. Melepaskan ikatan demi ikatan dengan ujung golok hingga ketahuan isinya.”

“Tak hanya itu saja korbannya,” sambung Rusli. “Pernah ada korban yang lebih menyeleneh di antara semua korban yang pernah ada. Bagaimana tidak? Bayangkan saja dia tidak bisa kentut selama berjam-jam. Ketidaklaziman itu terjadi setelah ditemukan balon di dalam sumur. Pada mulanya itu hanya balon biasa, tetapi lambat laun diketahui juga bahwa itu adalah balon kiriman Rabat Jaleem. Menurut kabar, balon yang telah berisi udara seadanya dan dijerat dengan kawat itu diniatkan sebagai lambung si korban yang dimantrai sedemikian rupa sehingga sang korban tidak dapat melakukan kentut selama berjam-jam. Ini jelas cukup menderita. Cukup menderita dengan cara paling sederhana.”

“Satu hal yang perlu kalian tahu, pastinya tukang santet seperti itu tidak hanya Rabat Jaleem seorang. Bisa jadi ada orang yang lebih hebat dari dia tapi selama ini masih diam saja. Atau jangan-jangan Rabat Jaleem itu bukan tukang santet yang asli, tapi ada orang lain di balik itu semua.” Rusli berhenti sejenak. Dia menikmati tingkah pendengarnya yang sudah mulai risau dan bertanya-bertanya.

“Rusli, yang betul kalau bicara. Jangan mengada-ada. Jangan membuat kami tambah takut dan risau lagi.” Kasim menimpali seperti sebelumnya.

“Nah, bisa jadi, kan? Siapa yang bisa memastikan? Makanya kalian harus waspada dan berhati-hati. Tapi yang terpenting, satu hal, kalian tahu? Kalian tahu satu ritual khusus yang selalu dilakukan oleh tukang santet?” Rusli diam menunggu jawaban dari para pendengarnya.

“Apa? Cepat kau beri tahu!” Kasim tak sabar.

“Tebak sendiri lah!” Rusli benar-benar berhasil mengendalikan suasana.

“Mereka kalau kencing tidak pernah mencuci,” seorang warga dengan raut setengah mati menyimak meyahut.

“Kalau pakek sempak selalu terbalik!”

Syakumi selalu ngasal dia kalau buka mulut.

“Oi Syakumi, sembarangan aja moncongmu, sempakmu itu kebalik!” tawa Rusli meledak dan dikuti yang lain.

“Sujud menghadap matahari terbenam,” jawab yang lain dengan penuh semangat.

“Sembari mulutnya komat-kamit.” Sahut lagi suara lain.

Rusli terbahak, “Itu di Jepang, begok!” Sanang betul dia sampai-sampai tak bisa berhenti tertawa hingga terbatuk-batuk.

“Kalian urus mayat itu, aku ingin mengelilingi kampung, kali saja ada berita atau temuan baru yang dapat kusampaikan besoknya kepada kalian semua.” Tanpa mendengar kata orang, Rusli langsung mengambil sepeda dan bergegas mendayungnya dengan perlahan-lahan sambil bersiulan. Dia menikmati betul waktu sendirinya seperti itu. Kali ini dia tidak terburu-buru. Dia berjalan melewati setiap jalan kecil yang ada di kampung tetangga itu sembari memasang mata dan telinga, siapa tahu ada berita atau peristiwa yang dapat dijadikan bahan cerita di warung kopi esok hari.

Rusli seakan tanpa lelah terus saja mengelilingi kampung, meskipun jalan yang sama telah dilewati beberapa kali, tapi itu tidak membuat Rusli berhenti mendayung sepedanya dengan penuh senyuman dan mata yang berkeliaran bak maling. Hal itu terus dilakukan Rusli sampai senja. Sadar hari sudah senja, Rusli kemudian memilih melewati jalan berbukit untuk menuju ke kampungnya. Di atas bukit kecil berumput rendah, terdapat jalan setapak yang terbentuk sendirinya sebab sering dilewati banyak telapak kaki. Jalan yang sudah gundul akan rumput hingga yang muncul hanya sebaris tanah yang panjang. Jalan ini merupakan jalan pintas menuju kampung Rusli yang lebih sering digunakan oleh para petani untuk pulang.

Sepanjang jalan itu, Rusli mendayung sepedanya dengan perlahan hingga secara perlahan pula tubuhnya menutupi matahari yang sedang rebah terbenam. Beberapa kayuhan kemudian, Rusli memilih berhenti di bawah pohon beringin tua, dia kencing di sana, tanpa membasuhnya kemudian menghadap matahari terbenam sujud sekali, tersenyum, lalu kembali mendayung sepedanya dengan pelan untuk pulang.

Dalam gubuk, 24 April 2018.

*)Munawar, penikmat seni peran, anggota Forum Lingkar Pena Aceh (FLP-Aceh) dan alumni Muharam Journalism College (MJC) jurusan televisi.

Ilustrasi dikutip dari Jawa Pos.

Komentar

BERBAGI
Redaksi
aceHTrend menghadirkan berita dan opini yang dibutuhkan warga. Media ini didirikan oleh PT. Aceh Trend Mediana sebagai perusahaan pers untuk menjadi sarana berbagi informasi dan promosi bagi warga masyarakat, pebisnis, serta instansi pemerintahan yang ada di Aceh dan sekitarnya. Hubungi kami: redaksi@acehtrend.co