Abdullah
Hujan baru saja reda. Udara pagi yang dingin dengan pelan menyelinap di balik jaketku. Rasa dingin menyibak dan menembusi tulang. “Untung saja aku sempat mandi tadi, kalau tidak pasti rasa dingin ini akan begitu menyiksa tubuh,” batinku sambil melangkah pelan memasuki gerbang kampus.

Dedaunan masih dibasahi titik-titik air. Air masih menggenangi beberapa sudut kampus. Mahasiswa belum banyak yang datang. Ruang-ruang kuliah masih kosong. Beberapa hanya di isi oleh segelintir mahasiswa yang nampak sedang asyik mengobrol sesamanya.

“pagi kak, apa kabar?,” sebuah suara lembut bernada sapaan membuat aku yang berdiri sambil bersandar di salah satu tiang kampus, agak terkesiap. Aku berpaling ke arah suara itu. Seorang gadis manis tersenyum ke arahku. Kulit wajahnya putih. dia memakai kerudung dan biru serta setelan baju yang biru pula. Jilbabnya yang agak basah oleh rintik hujan, menambah manis penampilannya pagi ini.

“Kak Abdullah kan?,” gadis itu kembali bertanya. Aku yang agak grogi tambah kaku. Antara percaya atau tidak. Mimpi apa aku semalam, kok tiba-tiba ada bidadari yang menyapaku pagi-pagi seperti ini. Gadis itu mulai salah tingkah. Tak satupun pertanyaannya ku jawab. Dia mendehem kecil sambil membetulkan letak jilbabnya yang tidak bergeser.

“Iya, saya Abdullah, adik ini siapa ya?,” jawabku sambil balik bertanya. Suaraku agak gemetar karena masih sedikit grogi. Aku juga sedikit mendehem. Rasanya ada yang tersangkut di tenggorokanku. Padahal aku tidak sedang batuk.

“Saya Ani kak. Saya kenal kakak di Ospek kemarin. hebat sekali kakak bicara di depan cama-cami,” jawab gadis yang ternyata bernama Ani itu. Daun telingaku terasa naik saat mendapat pujian seperti itu. Aku tersenyum.

“Kak, kalau boleh saya minta nomor telefonnya. Siapa tahu nanti ada yang bisa kita diskusikan,” pintanya.

Mimpi apa aku semalam?, belum apa-apa dia sudah minta nomor telefon. Sesaat kemudian kami sudah saling tukaran nomor telefon genggam. Setelah cas-ci-cus sekitar sepuluh menit, kemudian Ani itu pun pamit hendak masuk kuliah. Akhirnya dia berlalu di hadapanku dengan sebuah senyuman yang teramat manis.

***
Tidak terasa kami sudah berkomunikasi selama dua bulan. Waktu rasanya begitu cepat berlalu. Bila waktu kuliah lagi kosong aku dan Ani sering sekali bertemu. Kami sering berdiskusi tentang dunia kampus, mulai membincangkan dosen yang malas masuk, absen yang berantakan, sampai kebiasaan teman-teman mahasiswa lainnya.

Tidak cukup dengan itu, bila malam tiba, ataupun saat kami tidak bertemu di kampus, kami selalu berkirim pesan melalui fasilitas pesan singkat atau istilah kerennya SMS. Mulai dari mengingatin sholat, waktu makan, sampai-sampai tak bisa tidurpun kami saling berkirim pesan. Manis sekali rasanya. Subuh yang menjadi musuh bagi manusia seperti aku yang sulit bangun, juga terasa indah dengan dering handphone dari Ani. Padahal hanya misscall doang. Aku begitu bahagia. Namun satu, walau komunikasi kami semakin lancar, baik aku maupun Ani belum pernah saling mengatakan suka satu sama lain. Walau kuakui perasaan itu ada, namun rasa takut untuk kehilangan semakin membuatku tidak berani untuk mengungkapkan rasa yang semakin menyiksa ini. Akhirnya aku hanya pasrah. Biarlah berlalu apa adanya. Cukup hati saja yang tahu.

Hingga pada suatu malam aku mendapatkan sms darinya. //Aku pernah bermimpi bila suatu saat hati itu akan jujur padaku tentang sebuah rasa. Aku berharap agar mulut itu terbuka dan jujur padaku tentang semua ingin yang kian tak terkata. Akankah aku terus menunggu…. menunggu… dan terus menunggu sampai aku bosan dan pergi//

Pesan yang telah menyita sekitar empat halaman sms itu membuat aku tak bisa bicara. Aku tidak berani menebak apakah ini ungkapan perasaannya padaku. Ataukah ini hanya sekedar olok-oloknya padaku. Sebab selain cerdas, Ani juga punya bakat mengarang yang lumayan oke. Sekitar sepuluh menit tak ada sms susulan. Aku mengira dia serius dengan pesannya itu. Saat jemariku hendak membalas, tiba-tiba sms susulan masuk //Hehe, paen kak, mantap kan isi penggalan puisi Ani…?//

Hufff……, hampir saja, batinku. Untung saja belum sempat kubalas sms dia. Kalau saja…. bodohnya aku. Sejak kejadian malam itu, aku tidak lagi berharap dia punya rasa yang sama seperti yang kurasakan. Aku mencoba berkompromi dengan hatiku bahwasanya dia tidak pernah punya rasa terhadapku selain hanya sebatas teman.

Perlahan aku mencoba melupakan Ani. Walau kami tetap berjumpa di kampus, namun sudah mulai agak jarang. Komunikasi lewat hp pun mulai jarang juga. Terkadang bila pun dia mengirim sms, paling kubalas seperlunya saja. Hingga benar-benar dia pun sepertinya sudah bosan mengirimkan pesan singkatnya untukku.

Aku semakin sibuk kuliah dan mengurus organisasi. Terkadang bangku kuliah terpaksa aku tinggalkan untuk mengikuti pertemuan mahasiswa di luar daerah. Selain itu aku mulai fokus bekerja. Hingga waktuku di kampus semakin tidak tersedia selain untuk organisasi dan kuliah.

Sesekali aku mengirimkan pesan singkat untuk Ani hanya sekedar ingin mengetahui kabarnya. Walau agak-agak telat, dia membalas pesan yang ku kirim. Melihat gelagat itu, aku semakin yakin bahwa perasaan suka terhadapku memang tidak pernah ada dalam kamusnya.

Pada sebuah rapat organisasi aku melihat seorang gadis manis. Dia begitu pintar mengemukakan pendapat di depan umum. Namanya Irma. Saran dan pendapat yang diberikan oleh Irma selalu diterima oleh forum. Bahkan sesekali dia membantah apa yang aku sampaikan. Namun bantahannya tidak kasar. Dia mampu memberikan pendapat dengan lugas dan cerdas.

Pada pertemuan lainnya, dia semakin gencar menyerang logika yang kusampaikan. Acapkali, harus ada seseorang lainnya yang melerai perang argumen antara kami berdua. Walau terkadang aku kesal juga ketika dia menyerang balik dengan kalimat yang bereferensi–ciri khas kader HMI yang berintelektual, sesuatu yang langka di kampusku–. Sepertinya dia khatam buku-buku Agussalim Sitompul.

Aku mulai penasaran pada perempuan muda tersebut. entah karena paling sering memberikan pendapat di dalam rapat, akhirnya dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya, Irma dan aku semakin akrab. Bahkan aku mulai mengantarnya pulang bila rapat kelar. Tak peduli mendung, hujan maupun malam, yang pastinya aku selalu mau mengantarkan Irma pulang. Anehnya lagi dia tidak pernah menolak untuk ku ajak pulang.

“Kamu sudah punya pacar Abdul?,” tanya Irma pada suatu waktu saat kami sedang menuju ke rumahnya. Aku hanya tersenyum kecil. aku yakin dia tidak melihat aku tersenyum, sebab dia aku bonceng di belakang sepeda motor.

“kok diam, hayooo pasti udah punya. Ah dasar laki-laki. Semua sama,tak mau ngaku. Dasar buaya darat,” kata Irma sambil menumbuk punggungku dengan pelan. Ah, romantis juga nih anak.

Makin lama hubunganku dengan Irma semakin dekat. Walau belum pantas disebut pacaran. Namun yang pastinya kedekatan kami semakin nyata. Bahkan teman-teman kampus curiga kalau kami sudah pacaran. Aku hanya diam saja bila ada yang bertanya tentang itu. Akupun bingung apakah aku menyukai Irma? Ataukah ini hanya pelarian saja karena aku gagal mendapatkan cintanya Ani. Aku bingung sekali. Aku tidak mau Irma menjadi pelarian, sebab dia tak pantas untuk disakiti.

***
Empat bulan sudah aku dekat dengan Irma. Aku mulai jatuh cinta pada gadis itu. Walau kuakui bahwa rasa itu tidak sebesar seperti untuk Ani, namun aku yakin dia adalah destinasi terakhirku. Hingga akhirnya pada suatu kesempatan kuutarakan rasa itu pada Irma. Dan tanpa kuduga, Irma pun membalas rasa itu dengan sebuah anggukan kepala dengan senyum yang teramat manis.

Aku terus mencoba memperbaiki diri. Bersama Irma dalam hubungan yang jelas, selain mendapatkan seorang kekasih, aku juga mendapatkan sahabat yang selalu mengingatkan dan mengkritikku secara lembut bila sebuah kesalahan kulakukan.

Aku tahu Irma agak tertekan pada awal membangun hubungan denganku. Banyak sahabat dan kakak seniornya yang mengatakan hubungan kami akan seumur jagung. Bahkan banyak pula yang mengatakan bahwa kami tidak cocok. Sebab Irma lembut tipikalnya. Sangat kontras denganku yang keras dan bicara blak-blakan. Akhirnya hubunganku dengan Irma semakin akrab dan kami berkomitmen untuk menikah.

Beberapa minggu sebelum perasaan cintaku kuutarakan pada Irma, aku mendapat kabar bila Ani telah bertunangan dengan seorang mahasiswa yang kuliah di Kutaraja. Aku hanya tersenyum mendengar itu. Aku semakin yakin bila selama ini Ani tidak punya feeling apa-apa kepadaku. Mungkin dia hanya mengangapku teman biasa. Tapi tak mengapa. Karena aku telah menemukan Irma.

Ani
Aku kagum pada lelaki itu. Melihat gaya dan nada bicaranya di depan Cama-Cami saat ospek, membuat rasa simpatiku langsung membuatku ingin mengenalnya lebih dekat. Dia berwibawa. Gayanya alami. Sosok pemimpin ada padanya. Apalagi, saat penentuan panitia favorit, kakak senior yang menurutku ganteng itu menjadi panitia favorit dan paling berwibawa. Kloplah penilaianku dengan pilihan teman-teman mahasiswa baru.

Pagi itu adalah hari ketiga aku menginjakkan kaki di kampus tercinta. Hujan baru saja reda. Namun udara dingin masih merajai alam. Apalagi di kota sekecil ini yang kondisi lingkungannya masih asri. Tentu saja hawa sejuk masih agak lama beranjak. Dedaunan pohon Asan di depan kampus masih kelihatan basah. Bahkan tetesan air masih berjatuhan dari deretan pohon itu.

Aku berdiri di depan sebuah ruang kuliah yang berhadapan dengan gerbang kampus. Tiba-tiba mataku tertuju pada sesosok lelaki kurus yang memasuki gerbang kampus dengan berjalan kaki. Dia memakai topi pet merk Nike. Tubuhnya dibalut dengan jeans biru agak pudar. Tepatnya celana itu sudah sering dipakai sepertinya. Dia juga memakai jaket sport yang bahannya agak sulit ditembus air.

Cara jalannya menampakkan kalau dia adalah tipikal manusia yang tidak ingin diganggu. Pandangannya lurus walau agak menunduk. Dengan langkah agak pasti dia berjalan ke arahku. Aku semakin penasaran. Apakah itu kakak panitia terfavorit kemarin? Apakah itu kak Abdullah? Hingga dia bersandar di salah satu tiang kampus. Aku masih mengumpulkan keberanian untuk mendekat.

Kuambil cermin kecil dari dalam tas. Ah penampilanku agak awut-awutan karena disiram rerintik hujan. Jilbab biru kesukaanku nampak agak sedikit lepek. “Aduh, manusia kukagumi itu ada di dekatku. Kusapa gak ya,” Batinku.

Setelah segumpal keberanian terkumpul, aku mendekat. Kulihat dia nampak termenung. Dalam hati aku berpikir bila lelaki ini sangat dingin. Namun, agar rasa penasaranku hilang, maka kuberanikan diri untuk menegurnya.

“pagi kak, apa kabar?,” aku menyapanya. Lelaki itu tidak menjawab. Dia sepertinya agak kaget dan sedikit lama memandangku. Oh….God….. cool banget nih cowok.

“Kak Abdullah kan?,” aku kembali menyapa. Lelaki itu masih menatapku. Aku mulai grogi. Aku mendehem kecil. siap-siap untuk dicuekin. Aduh bila ini terjadi, berarti pengalaman pertama aku tak dipedulikan oleh mahkluk yang bernama laki-laki. Untuk menghilangkan salah tingkah, kucoba betulkan jilbab. Padahal tak ada yang salah dengan jilbabku.

“Iya, saya Abdullah, adik ini siapa ya?,” jawabnya sambil sedikit memutarkan badannya ke arahku. Kini posisinya sempurna menatapku. Oh Tuhanku, betapa manisnya lelaki ini. Betapa berwibawanya dia di hadapanku. Ohh… tolong….. kudengar suaranya agak berat. Aku taksir bila dia adalah pemikir keras, sehingga suaranya agak tua dan agak gemetar. Atau pula dia grogi memandangi diriku yang manis ini. He..he.

“Saya Ani kak. Saya kenal kakak di ospek kemarin. hebat sekali kakak bicara di depan Cama-Cami,” jawab gadis yang ternyata bernama Ani itu. Daun telingaku terasa naik saat mendapat pujian seperti itu. Aku tersenyum.

“Kak, kalau boleh saya minta nomor telefonnya. Siapa tahu nanti ada yang bisa kita diskusikan,” pintaku. Sebenarnya aku menyesal telah lancang meminta nomor handphonennya. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Untung saja tidak menjadi air comberan.

Kak Abdullah sambil tersenyum memberikan nomor kontaknya. Aku mendapat angin segar. Kemudian kami bicara sejenak. Sekitar sepuluh menit. Karena jadwal kuliah pagiku sudah dimulai, akhirnya aku pamit.

Itulah awal pertemuanku dengan sesosok lelaki yang sangat sederhana namun telah menyita sedikit ruang hatiku. Aku begitu bahagia saat itu. Abdullah, itulah nama yang pertama sekali ingin ku kenal sejak aku menjadi mahasiswa di kampus swasta ini.

Hari-hari setelah itu, kami lalui dengan penuh warna. Abdullah telah menjelma menjadi seorang teman sekaligus kakak bagiku. Setiap keluh kesah selalu kuutarakan padanya. Termasuk saat mama marah padaku karena aku sering kebut-kebutan di jalan dengan sepeda motor. Sebenarnya aku ingin mendapat dukungan darinya. Eh alih-alih ngedukung, dia malah membenarkan mamaku. Pertama aku agak kesal dengan sikapnya itu. Tapi akhirnya aku menyadari, sebenarnya akulah yang salah.

Terus terang aku menyukainya sejak pandangan pertama. Dia adalah tipe lelaki idamanku. Walau aku tahu dia bukanlah dari keluarga kaya. Namun sosok lelaki sejati ada pada dirinya. Mandiri, tegar, cerdas, berani dan peduli. Satu lagi, aku temukan kejujuran dalam setiap kata dan ucapannya. Kloplah untuk tipe ideal.

Bila waktu tidak memungkinkan kami berjumpa, maka untuk melepas kangen (walau itu tidak pernah kuakui), kami sering sms-an. Bahkan bila tidak bisa tidur, aku sering kirim pesan padanya. Aku mengaku bila tidak bisa tidur itu karena sedang tidak sehat. Padahal sebenarnya aku kangen sama dia.

Aku mulai bosan dengan kebisuan ini. Aku sangat mencintai dia. Namun tak satupun kalimat suka itu aku utarakan. Aku menunggu kata itu keluar dari mulutnya. Namun entah mengapa apa yang kuharapkan tak kunjung nyata. Aku mulai ragu apakah dia selama ini mencintaiku? Ataukah dia hanya menganggapku sebagai teman biasa?

Aku kalut. Walau terus bersama, hubungan kami tidak pasti. Teman-teman satu unit menanyakan tentang itu. Namun aku tidak bisa menjawabnya. Istilah sekarang status kami “tergantung”. Padahal aku sangat benci digantung.

Hingga pada suatu malam aku mengirimkan pesan kepadanya yang berisi rintihan hatiku. Aku ingin dia mampu membaca suara hatiku yang kutulis dalam bentuk puisi. Aku sempat berharap respon itu cepat datang. Namun, setelah sepuluh menit kutunggu, balasan dari dia tak kunjung kuterima. Rasa malu mulai memenuhi ruang hatiku. Akhirnya untuk menutupi rasa malu, aku kirimkan sms satu lagi yang mencoba berpura-pura aku sedang menulis puisi dan salah satu liriknya kukirim padanya agar di nilai bagus atau tidak. Hufff, aku tersiksa.

***
Setelah kejadian itu, hubunganku dengan Kak Abdul sepertinya agak renggang. Kami sudah mulai jarang sms-san. Entah siapa yang memulai, namun yang pasti hanya satu dua sms yang kuterima darinya. Pertama aku maklum saja. Sebab kulihat dia sudah sering tidak masuk kuliah karena keseringan keluar kota untuk mengikuti berbagai kegiatan organisasinya. Dia juga semakin sering muncul di koran. Orang-orang mulai membicarakan dirinya. Kami semakin jauh. Ingin rasanya kusapa, namun aku tidak ingin menggganggu kesibukannya. Sehingga kuputuskan untuk tidak menggangunya dulu. Biarlah dia fokus dulu agar konsentrasinya tidak terpecah.

Terbiasa dengan suasana sepi, akhirnya aku sudah agak jarang memperdulikan handphone ku. Bahkan sering ketika aku berangkat kuliah, hp tertinggal di rumah. saat pulang baru aku periksa hp. Sering kutemui sms dari dia yang menanyakan kabarku. Kadang kubalas. Terkadang pula tidak kurespon karena sms yang dia kirim menanyakan apakah aku udah mandi pagi? Saat kubuka hp sudah malam.

Hatiku menjerit perih saat kudengar Kak Abdullah mulai dekat dengan Mbak Irma. Apalagi sesekali dengan mata kepalaku sendiri kulihat dia membonceng mbak Irma. Entah kemana mereka? Aku tidak tahu. Yang pasti rasa cemburu itu ada.

Aku mencoba menyelidiki tentang hubungan mereka. Dari informasi yang kudapat, mereka sudah punya hubungan dekat. Mendengar itu ingin rasanya aku menangis. Aku menyesali diri. Untuk apa pertemuan antara kami harus ada? Bila akhirnya aku harus merasakan sakitnya kehilangan.

Terkadang aku bercermin. Di mana letak kekuranganku. Apakah mabk Irma lebih cantik dariku? Ataukah dia lebih pintar dariku? Mungkin ini sentimentil, sudah membanding-bandingkan. Namun sebagai perempuan yang merasa sudah sangat dekat dengan Abdul, aku seolah-olah sudah di atas angin. Oh God! Kenapa ini bisa terjadi?

Dalam gamang dan putus asa, mamaku memberi kabar bila ada seorang sahabatnya yang punya anak laki-laki. Anak itu bernama Boy. Dia kuliah di Kutaraja. Keluarga itu ingin sekali aku menjadi bagian keluarga mereka. Aku bingung saat itu. Kuminta waktu selama sebulan kepada mama. Aku masih berharap agar Kak Abdul tidak benar-benar punya hubungan yang serius dengan mbak Irma. Oh…… ya Allah, tunjukkan jalan bagi hamba-Mu ini. Aku galau. Aku lemah. Mengapa cinta ini kau singgahkan dihati ini, bila kelak memunculkan rasa sakit yang teramat sangat.

Untuk mengobati rasa sakit. Kubuka kembali sebuah pesan Kak Abdul yang masih ku save di telepon genggamku.

//Cinta adalah anugerah yang kuasa. Cinta adalah sesuatu yang maha sunyi. Dengan cinta Adam dan Hawa bisa bertahan. Dengan cinta Muhammad dan Khadijah mampu membina ummat. Cinta…. adalah misteri, beribu makna, berjuta definisi. Namun yakinlah bahwa cinta adalah jalan yang sejatinya tidak pernah bermaksud menyakiti. Cinta adalah pilihan//

Cinta adalah pilihan. Itulah kalimat yang memberikan keyakinan padaku bilasanya pilihanku adalah benar. Hatiku untuknya. Aku akan coba bertahan. Aku sangat mencintaimu kak. Oh tuhanku!.

Luka itu akhirtnya datang. Hatiku sakit, walau tak tahu harus menyalahkan siapa? Aku putus asa. Aku tak berdaya. Aku kecewa. Seorang kawan mengatakan bahwa kak Abdullah telah resmi berpacaran dengan mbak Irma. Informasi itu akurat sekali. Info itu kudapatkan dari kawan dekat orang yang selama ini kudambakan.

Walau demikian, aku masih berharap datangnya keajaiban. Aku galau tingkat awan. Namun harap sepertinya tak maujud dalam nyata. Mereka semakin bahagia saja.

Akhirnya, setelah sebulan–sesuai dengan janjiku pada mama–aku menerima pinangan keluarga Boy. Dan kamipun ditunangkan. Mungkin Abdullah bukan jodohku. Boy lah yang kelak akan menjadi pelindungku. Walau banyangan kak Abdul masih terus melintas di pikiranku. Namun aku sedang mencoba membunuh rasa itu. Pahit memang.

Irma
Abdullah adalah laki-laki yang sebenarnya bukan tipeku sama sekali. Dia keras, bicara blak-blakan. Walau yang dia katakan adalah benar, namun cara dia melawan argumen orang lain dengan tanpa tedeng aling-aling, membuat dirinya tidak termasuk sama sekali dalam tipe pria yang ku idamkan.

Aku pernah berkhayal bila suamiku kelak adalah lelaki lembut, lulusan pesantren, agak dewasa dan serba berwibawalah. Sebelumnya aku pernah dekat dengan beberapa laki-laki yang kriterianya hampir memenuhi standarku. Namun kesemuanya mereka tidak pernah mampu memberikanku kepastian. Akhirnya aku sedikit melupakan urusan asmara.

Aku kenal Abdullah saat rapat-rapat organisasi. Dia adalah manusia yang selalu memberikan pendapat dengan kalimat-kalimat keras dan bertanda seru. Kuakui pendapat yang dia berikan bagus-bagus, Cuma saking vokalnya, sehingga keseringan aku membantah setiap yang dia sampaikan.

Sebagai kader HMI yang dididik berpikir runut dan penuh referensi, cara Abdul membicarakan sebuah persoalan, cukuplah menjadi pembeda. Dia besar di jalanan, dan aku meyakini tanpa pendidikan politik dan organisasi yang tersistematis. Mungkin bacaannya banyak buku-buku kiri yang bagiku sangat radikal. Dia juga tidak pernah mengatakan bahwa pendapatnya berdasar pikiran tokoh pulan dan pulen.

Tulisan-tulisannya di mading kampus pun cukup keras untuk ukuran kelas intelektual. tulisannya meugampong abeh, walau menarik untuk dibaca. Jangan coba cari istilah asing, dia bahkan sangat suka menggunakan perumpamaan lokal dalm tiap mendefinisikan sesuatu.

Selain kurang suka, aku juga ingin mengukur sejauh mana kemampuan dia dalam mempertahankan pendapatnya. Akhirnya harus kuakui bila dia selalu mempunyai stok bahasa yang cukup untuk membela diri dan mempertahankan argumen. Aku tidak pernah kalah dengan dia, walau juga harus kuakui aku juga tidak pernah menang. Bila kami berdua hadir dalam rapat, bisa dipastikan hampir seluruh notulensi adalah berisi pendapat kami.

Lain di rapat lain pula di luar rapat. Dia begitu dingin di luar meeting. Dia hanya bicara seperlunya. Terkadang orang-orang yang berada disampingnya dia cuekin. Pengalamanku, ada seorang mahasiswa yang bernama Puput menyukainya. Namun kelanjutan kisahnya tidak pernah kudengar. Akhirnya kuketahui bila Puput menyerah untuk mendapatkan simpati dari Abdullah. Lelaki itu terlalu asyik dengan dunianya yaitu membaca dan menulis.

Lama-kelamaan aku mulai tertarik pada sikap Abdullah. Kevokalan dia di kampus ternyata menjalar keluar. Sering kutemukan berita di surat kabar yang berisi kritikan-kritikannya terhadap pemerintah yang dianggap tak mampu membela kepentingan rakyat. Aku mulai mengagumi lelaki gunung itu.

Tanpa memerlukan waktu yang lama, akhirnya kami mulai akrab. Dari keakraban itulah kuketahui bila lelaki “karang” ini sangat menyenangkan. Dia memiliki segudang kata-kata motivasi. Dia selalu menghiburku dengan cerita-cerita kepahlawanan seorang ibu, kehebatan sahabat-sahabat Rasul. Intinya dia menjadi semacam tempat untuk mecurahkan perasaan. Dia selalu menjadi pendengar yang baik. Motivator yang handal, juga seorang teman yang menyenangkan.

Aku semakin penasaran dengan bacaan dia selama ini. Aku tidak lagi yakin bila bacaannya adalah buku-buku kiri. Kelihaiannya bercerita tentang kepemimpinan para khalifah, penguasaannya tentang sirah nabawiyah, membuatku melahirkan kesimpulan lain.

Dia juga seorang teman yang cocok untuk berdiskusi seputar dunia organisasi. Dia paham betul manajemen kelembagaan baik ormawa, lsm maupun pemerintahan. Pengetahuannya yang luas tentang dunia sosial, politik dan sastra, semakin membuatku betah bila duduk berjam-jam dengannya.

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Dulu aku tidak menyukainya. Sekarang benih-benih cinta mulai timbul di hatiku. Ada perasaan khusus dari lubuk hatiku. Namun sebagai perempuan, aku tidak mau terlebih dahulu menyampaikan rasa hati. tak elok kalau menurut adat ketimuran.

Aku juga pernah mendengar tentang hubungannya dengan mahasiswa baru yang bernama Ani. Gadis itu cantik. Bahkan lebih cantik dia daripada aku. Dulunya aku tidak memperhatikan hubungan mereka. Sebab seperti yang kuceritakan di atas. Abdullah bukan tipeku. Namun akhir-akhir ini aku sepertinya sangat berkeinginan untu mengetahui sejauh mana mereka punya hubungan. Namun aku selalu gagal mendapatkan cerita yang utuh.

Pernah suatu kali saat Abdullah mengantarku pulang, di jalan aku menanyakan apakah dia sudah punya pacar. Namun saat itu dia tidak menjawab. Pertama kau curiga kalau saat itu dia sedang berbohong. Namun aku juga bersyukur, berarti kebersamaan kami selama ini tidaklah sia-sia. Aku mulai menaruh harapan pada manusia “keras” itu.

Pada suatu hari aku mendengar Ani bertunangan dengan seorang lelaki yang kuliah di Kutaraja. Saat itu kuperhatikan sikap Abdullah. Nampak tidak ada perubahan. Sepertinya kabar burung yang mengatakan dia pernah punya rasa dan memendam cinta terhadap Ani merupakan karangan belaka. Dia sepertinya cuek saja. Padahal beberapa teman pernah ku suruh untuk menceritakan kabar itu padanya. Aku bermaksud baik yaitu ingin memastikan kondisi hatinya.

Akhirnya, Abdullah mengutarakan tentang perasaannya kepadaku. Aku yang memang sudah siap-siap “ditembak” tanpa harus shalat istikarah langsung mengangguk. Kulihat ada rona bahagia yang memancar diwajahnya. Demikian pula aku. Aku sudah mulai mencintainya dengan tulus. Walau ku akui bila di awal hubungan kami banyak kakak senior dan teman-teman memprediksi akan seumur jagung, namun kami terus mencoba melangkah. Hingga pada suatu hari dia berjanji akan meminangku sebagai istrinya. Aku bahagia.

*****

Neuheun, Matangglumpangdua, 14 November 2011

Komentar