Ilustrasi

INI adalah malam ketiga aku menjalani ritual penerbang arwah. Di kamar sempit, berlampu remang, sebuah meja meranti kosong membeku di depanku, sementara sepasang mata sangar tak henti-henti memelototiku yang kedinginan.

Sejujurnya, disituasi seperti ini aku sangat ingin menghisap sebatang rokok. Ah, andai saja ada, rasanya ingin sekali kuhisap risau ini dalam-dalam. Barangkali dengan membakar sebatang itu tubuhku tak lagi berguncang manakala lelaki sangar berwajah ceruk membentakku dalam kondisi setengah telanjang. Tentu saja, kemewahan asap rokok mustahil aku dapatkan jika aku tak pandai bercerita.

Aku sudah bercerita berpuluh-puluh kali pada mereka. Bahwa lelaki tambun yang sedang sekarat dirumah sakit itu adalah jelmaan seekor monyet. Dia hanya akan berubah menjadi manusia manakala bulan sedang baik. Namun setelah itu ia akan kembali menjadi monyet yang berkeliaran di tanah ini memakan nasi orang-orang kampung. Tetapi, tak ada satu pun yang percaya pada ceritaku. Sepertinya aku benar-benar akan mati kedinginan. Mati tanpa rokok.

“Kau kira kami ini orang-orang sirkus?,” bentak lelaki itu seraya memukul ruas meja di depanku.

“Apa kurang cukup bogemku ini mendarat di wajahmu, hah?,”

“Sebaiknya kau ceritakan padaku kejadian yang sebenarnya, atau jika kau ingin kubikin babak belur seperti malam kemarin,” ketus lelaki itu kesal dengan mata yang terbakar.

Kembali, aku kembali menggigil seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Lelaki itu, harus dengan cara apa kuyakinkan dia bahwa aku telah berkata yang sesungguhnya. Aku benar-benar sudah menceritakan semua kejadian malam itu, tak ada satu pun yang kurang, sudah kuceritakan lengkap dengan klimaks yang mestinya ada dalam cerita. Atau, barangkali benar pikirku tadi jika petani sepertiku ini memang benar-benar buruk dalam bercerita.

“Demi Tuhan, Tuan. Aku sudah bercerita yang sesungguhnya, aku sungguh sedang makan malam dengan istriku Nurma manakala seekor monyet masuk ke dalam rumahku di malam buta. Saat itu, Aku dan istriku sangat terkejut. Kami sangat ketakutan, lalu berupaya mengusirnya agar keluar,” Jelasku yakin.

“lalu, kau tangkap Mustafa itu dan memotong lidahnya bersama istrimu, bukankah begitu?”

“Tidak, Tuan. Aku hanya mengusirnya keluar menggunakan gagang sapu,”

“Berarti benar, kau lah yang memukul kepala Diwan Mustafa hingga kepalanya koyak,”

“Itu bukan Diwan Mustafa, Tuan. tapi seekor monyet. Benar-benar asli seekor monyet,”

“Bajingan! Berani-beraninya kau mempermainkanku,” ucap lelaki itu dengan gigi yang gemertak.

Tiba-tiba sebuah kepalan tinju terasa mendarat di wajahku, tak seperti biasanya, kali ini lebih dekat dengan kuping. Rasanya agak mendengung, sebelum mendarat sekali lagi yang lebih berat di dekat kuduk hingga membuatku berkunang-kunang.

Malam ini, arwahku rasanya benar-benar ingin terbang ke angkasa. Kepalang jera, menangung siksa atas tuduhan yang tak pernah ada. Terlebih aku tak pandai bercerita. Ceritaku selalu saja berakhir dengan rasa sakit yang menyebalkan. Ah, jika saja malam celaka itu monyet tak masuk kerumah. Pasti aku takkan menderita seperti sekarang. Batinku. Tapi malang tak dapat kuelak, Diwan Mustafa, lelaki bertampang Amitha Bachan itu kini sedang sekarat di rumah sakit.

***

Lima tahun yang lalu, aku mengenal Diwan Mustafa ketika ia sedang berkutbah di atas panggung besar di kampung Buya. panggung semegah itu jarang sekali ada. Terlebih untuk ukuran orang-orang kampung Buya yang miskin. Jika pun ada itu hanya saat hajatan, dan tak lebih pula dari gelaran terpal lusuh yang meruah lalu di atasnya anak-anak kampung tetangga unjuk diri bermain rapa’i geleng. Rengekan Syeh akan meraung-raung di toa codet. Suaranya sangat buruk. Hanya denging mic yang sayup-sayup memekak telinga.

Berbeda sekali pada saat Diwan Mustafa datang ke kampung ini kala itu, kedatangannya disambut gegap gempita dengan tepuk tangan yang riuh bersahut-sambut. Sesekali terdengar juga pekikan “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” dari beberapa penonton yang menghadiri acara itu. Waktu itu adalah musim kampanye, dan tentu saja nasib bulan sedang baik.

“Kita sudah terlalu lama di jajah, sudah saatnya kita bangkit saudara-saudara!,” pekik Mustafa dengan berapi-api.
“Saya berjanji, orang-orang Buya nanti akan hidup sejahtera jika saya terpilih. Saya tak akan membiarkan orang-orang kampung ini hidup miskin dan melarat. Saya akan bantu, jika perlu, setiap rumah akan saya kirimi uang satu keranjang,”

Tanah kita ini kaya, bahkan cukup untuk membuat negeri ini seperti Arab Saudi..” leguh lelaki itu panjang. Kemudian ia tersenyum lebar, sembari mengangkat kepalan tangannya kelangit.

Wajah Diwan Mustafa yang mirip Amitha Bachan itu tampak bersinar di atas panggung yang megah. Dan lagi, disudut keramaian orang-orang miskin ini kembali menggema suara-suara orang berteriak “Allahu Akbar!”. Semua larut, semua tenggelam bersama nyala dada yang berbanding buruk dengan nyala api tungku di rumah-rumah busuk mereka. Dan suara teriakan itu kembali histeris ketika Diwan Mustafa dengan lantang mengucapkan sumpah bahwa ia akan menjadi monyet jika kelak ingkar.

Seminggu setelahnya. Bulan baik itu pun pergi menuju rimba, tahun-tahun silih berganti dalam lipatan kalender yang semula bergambar orang berpeci kini menjadi gambar racun padi yang harganya kian mahal. Sejak saat itu, kehidupan orang-orang dikampung Buya pun kembali berjalan normal. Senormal biasanya manusia-manusia sekarat yang hidup miskin dan melarat. Dan semenjak itu pula nama Mustafa tak pernah lagi terdengar. Hingga tiga hari yang lalu, ketika ia datang ke kampung ini dengan sebuah mobil mewah berlogo bulan purnama.

Dia turun dan menyalami satu persatu orang-orang kampung Buya bermuka masam di kedai Kak Pek dekat persimpangan. Hari itu hampir gelap. Aku baru saja pulang dari sawah ketika hendak juga singgah di kedai Kak Pek manaruh hutang. Teringat kata istriku Nurma, bahwa beras dirumah sudah habis. Aku disuruh mengambil dulu barang beberapa takar untuk bekal makan nanti malam.

Kadang, aku sering menyeringai sendiri jika teringat hal itu. Bagaimana mungkin seorang petani padi sepertiku bisa-bisanya tak punya beras. Tetapi begitulah kenyataannya. Hidup kami orang-orang Buya selalu seperti melintas di atas lubang-lubang hutang. Harga racun dan pupuk saja kerap kali bikin pusing setengah mati. Pun jika hasil panen nantinya bagus. Jika tidak, mampuslah sepetak demi sepetak sawah itu berlalu ke dalam kantong saku tengkulak.

“Assalamu’alaikum, Pak Bujang! Sudah lama sekali kita tak bertemu, ya!” ucap lelaki tambun itu seraya tersenyum pada lelaki tua yang tampak kebingungan berdiri disampingku. Namun lelaki tua itu sama sekali tak menggubris kehadiran Musafa disana. Terlebih ia terlihat sedang menakur bimbang, kurasa, ia pasti juga hendak berhutang. Tetapi semua orang tahu jika hutangnya di kedai Kak Pek sudah menggunung, persis seperti gunung merapi yang akan segera meletus di bukit Jampang.

Tahun ini, nasib Pak Bujang sungguh malang, padinya di sawah telah diserang hama yang maha ganas, saking ganasnya hingga melenyapkan semua tunas padi yang sedang berputik dara. Ia bahkan tak punya sedikit pun uang untuk membeli racun hama yang harganya selangit, apa lagi pupuk, sepertinya itu kemustahilan lain selain harapnya bisa hidup tenang menikmati hari tua.

Dan saat ini, sungguh tak ada hal yang dapat membuat muka masamnya itu tersenyum. Kecuali, sepetak sawahnya di kaki gunung itu tak jadi beralih milik pada tengkulak yang saban hari lalu-lalang dikampung Buya. Mereka sangat sabar menunggu petani-petani tua sepertinya sekarat, mati kehabisan nafas seperti ikan menggelepak di daratan.

“Saudara-saudara sekalian! saya adalah Diwan Mustafa. Tahun ini kita akan maju lagi untuk lebih mensejahterakan masyarakat,” ucapnya lirih.

“Pak Bujang, tenanglah, nanti malam saya akan mengunjungi setiap rumah di kampung Buya untuk mendengarkan keluhan langsung dari masyarakat,” tambahnya.

“Kita sedang di jajah saudara, kita harus bersatu demi cita-cita mulia nenek monyang,” ujarnya mantap seraya bergegas memasuki mobil yang sedang terparkir di depan kedai Kak Pek sore itu, tak ada seorang pun di kedai Kak Pek yang menggubris kehadiran Mustafa, orang-orang Buya yang bermuka masam, aku yakin di benak mereka berkecamuk hal yang sama sepertiku yang terlalu sibuk menakuri nasib sebab dikejar hutang.
Malam pun datang, dan kini, di kamar sempit ini aku terpaksa harus meringkuk kedinginan, melewati malam-malam panjang tanpa sebatang rokok. Rasanya sungguh terpanggang. Ah, Jika saja ada, kurasa bukan mustahil lagi tanah ini merdeka…

Note: Rapa’i Geleng (sebuah Kesenian Tari duduk di daerah Aceh yang mirip Rateb Meuseukat)

Komentar