Arif Fadillah, yang besar karena perjuangan panjang. Foto: Fauzi Cut Syam (aceHTrend).

Arief Fadillah tumbuh besar dari perjuangan yang tidak mudah. “Kehilangan” ayah di usia belia, menjadi penjual kue serta gemar berkelahi hingga menjadi tukang becak mengisi sirah kehidupannya. Cinta kepada ibu dan Aceh, membuat ia harus pulang kampung, padahal ia telah menjadi bintang di tanah rantau.

Pada 10 Juli 1972, tengah malam buta, seluruh penghuni rumah di salah satu sudut Kota Medan dikejutkan oleh tangisan keras seorang bayi laki-laki, yang kelak diberi nama Arif Fadillah, yang berayahkan Yusuf Hasan, lelaki kelahiran Jeunib dan bernenek moyang dari Samalanga.

“Ayah saya bernama Yusuf Hasan dari Jeunib. Nenek sebelah ayah yang bernama Nek Buleun berasal dari Samalanga. Ibu saya merupakan putri keturunan Padang, Sumatera Barat. Kakek sebelah ibu bernama Murad dan istrinya bernama Ponirah. Keluarga besar ibu sudah bermukim di Kuta Alam, Banda Aceh, sejak zaman penjajahan Belanda. Ibu saya bernama Murgini,” kata Arif Fadillah, Ketua DPRK Banda Aceh periode 2014-2019 kepada Muhajir Juli dari aceHTrend, Jumat malam (11/5/2018)

Lelaki anak keempat dari lima bersaudara, pertama kali mengecap pendidikan pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Jambo Tape, Banda Aceh pada 1981. Semenjak kecil ia sudah harus hidup penuh dengan kerja keras. Hal ini diawali dengan poligami yang dilakukan oleh sang ayah, yang dilawan oleh ibunya dengan sikap tidak mau lagi di bawah ikatan pernikahan.

Sang ibu yang bernama Murgini memilih mundur dari pernikahan yang sudah dijalin belasan tahun, ia tidak mau dimadu. “Ibu mempunyai tekad yang kuat tentang prinsipnya itu. Ketika bercerai kami semua dibawa pulang ke Kuta Alam dan memulia hidup baru, ibu yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga,” kenang Arif Fadillah.

Dengan keahlian yang tidak seberapa, Murgini kemudian bekerja serabutan, mulai dari membuat dan menjual kue hingga menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah. Semua dilakoni demi memenuhi kebutuhan keluarga yang harus ia tanggung sendirian.

Gurat lelah terlihat jelas di wajah Murgini, sementara Arif kecil masih belum begitu mampu menangkap rasa itu, apalagi Murgini yang selalu tersenyum bila berhadapan dengan anak-anaknya.
Walau tanpa didampingi suami, Murgini tetap menerapkan kedisiplinan tinggi pada anak-anaknya. Semua mendapatkan tanggung jawab, sesuai dengan usia masing-masing. Hidup harus dipertanggungjawabkan, bukan saja kepada Allah, tapi juga untuk kehidupan itu sendiri.

Arif, sebagai anak keempat, mendapatkan tugas sebagai pengantar kue ke warung-warung yang menjadi tempat ibunya menitipkan barang dagangan.

Ia tidak ingat lagi, pada kelas berapa ia mulai mengantar kue ke warung-warung. Yang ia ingat adalah setiap subuh dia dibangunkan oleh sang ibu. Setelah menunaikan shalat subuh, Arif segera mandi dan mengambil sepeda BMX dan meluncur menuju warung-warung. Begitu tugas itu selesai, ia pulang, sarapan pagi dan berangkat ke sekolah.

Kala itu, mendapatkan jajan 100 rupiah adalah sesuatu yang mewah bagi Arif kecil. Ia kerap mendapatkan jajan 25 dan 50 rupiah. Itu merupakan sisihan hasil keuntungan dari berjualan kue.

“Membiayai empat orang anak, saudara saya yang kelima meninggal saat masih kecil, tentu bukan pekerjaan mudah. Sandaran kami satu-satunya adalah pada kue itu. Maka doa yang selalu kami panjatkan adalah: Ya Allah lariskan kue buatan ibu kami, agar kami bisa makan esok hari. Ya Allah lariskanlah kue buatan ibu kami, agar besok saya mendapatkan jajan untuk sekolah,” kenang Arif sembari terkekeh.

Mulai Bisnis Katering

Siapa yang bersungguh-sungguh, tentu akan berhasil. Arif Fadilah melihat keajaiban itu. Ketika ia mulai bersekolah di Sekolah Teknik (ST) Jurusan Teknik Bangunan 1988, usaha penjualan kue ibunya laris manis. Murgini yang rajin menabung, beralih menjadi penyedia jasa catering kecil-kecilan.

Kesibukan Arif pun beralih, setiap pulang sekolah tugasnya adalah mengantar nasi rantangan kepada para langganan mulai dari mahasiswa, polisi, tentara hingga pegawan negeri. Dengan sepeda BMX Arif Fadilah menerobos jalan tikus, agar pesanan pelanggan cepat sampai.

Untuk menjalankan tugas itu, ia tidak boleh lengah. Maka setiap usai kelas sekolah, ia segera menyauh sepeda menuju rumah. Sampai di rumah ia segera ganti baju dan membantu ibunya di dapur. Begitu pesanan siap diantarkan, ia segera mengangkat semua pesanan ke sepeda dan kemudian bergegas menuju alamat para langganan.

Ketika menjalani perannya sebagai pengantar nasi rantangan, Arif kerap diberikan uang tips oleh langganan, dan semua itu dlaporkan kepada ibunya. Murgini adalah tipikal ibu yang bijak. Uang tips yang diterima oleh anaknya tidak pernah diambil olehnya. Ia hanya berpesan kepada Arif agar pintar mengelola keuangan, sekecil apapun itu.

Hal lainnya, Arif kerap juga membaca koran Waspada dan Analisa—kala itu belum ada Serambi Indonesia—sembari menunggu pelanggan catering di depan rumah. “Itu koran punya mereka, saya curi-curi baca sembari menunggu mereka mengosongkan rantang nasi. Berita yang selalu saya cari tentang Presiden Soeharto, saya memiliki kenangan khusus dengan Bapak Pembangunan itu,” kata Arif Fadilah.

Kenangan itu adalah, pada tahun 1984 Presiden Soeharto berkunjung ke Banda Aceh. Arif kecil kala itu dengan seragam MIN berdiri di pinggir jalan sembari melambai-lambai bendera kecil.
Ketika mobil yang ditumpangi Presiden Soeharto melintas, tiba di hadapan Arif, mobil Sedan Volvo itu melambatkan lajunya. Pak Harto membuka jendela mobil dan melambai ke arah Arif.

Senyum sang presiden sembari melambai tangan, membekas di ingatan Arif kecil. Peristiwa itu berlangsung di depan Kantor Dolog, Jalan Tengku Daod Beureueh, Banda Aceh.

“Seusai momen itu, tiba-tiba jiwa saya bergelora, saya ingin menjadi orang penting seperti Pak Harto. Saya tidak ingin menjadi Presiden Indonesia, saya hanya ingin menjadi orang penting, saya ingin menjadi orang penting, ketika ST saya ingin menjadi diplomat,” kata Arif mengenang.

Anak Badung yang Berprestasi

Arif Fadilah, sejak kecil hingga STM, dikenal sebagai lelaki yang gemar berkelahi. Baginya luka, lebam dan rasa sakit adalah sesuatu yang alamiah. Maka tidak heran, siapa saja yang mengajak berantam, tidak akan diberikan kesempatan untuk berpikir dua kali.

Arif pasti akan menerima tantangan berkelahi. Dalam pertarungan tidak selamanya ia menang, ada kalanya Arif harus tersungkur, tapi bocah berdarah Aceh-Padang itu bukan tipikal lelaki cengeng. Ia bila kalah tidak pernah menangis.

Tiada hari tanpa berkelahi, seperti orang Aceh yang menyukai nasi ketan (bu leukat-red) begitulah Arif mencintai dunia pertarungan solo.

Perilaku itu sangat meresahkan para dewan guru. Tapi tiap kali mereka hendak mengeluarkan Arif dari sekolah, selalu saja rasa sayang muncul.

“Kalau kamu kami keluarkan dari sekolah ini, pasti kamu tidak akan sekolah lagi di manapun, dan itu tidak baik bagi masa depanmu,” kata Fatimah Ali, guru Arif ketika masih sekolah dulu.
Walau dikenal bandel, Arif sejak kecil sudah memiliki kecerdasan dan bakat kepemimpinan. Sejak MIN kelas satu hingga STM ia adalah ketua kelas, peringkatnya pun selalu masuk lima besar. Ia sangat menggemari pelajaran PSPB, PMP dan geografi. Mata pelajaran yang paling tidak ia sukai adalah matematika.

Kenangan lainnya ketika menempuh pendidikan di ST Banda Aceh, setiap hari Arif dan teman-temannya berenang di sungai. Bukan sekedar berenang, tapi juga berlomba menyeberangi sungai dan mengendap-endap menuju boat nelayan.

Ketika sukses masuk boat, mereka akan mencuri empat sampai lima ekor ikan per orang dan kemudian menjualnya kepada orang lain. Aksi itu kerapkali tertangkap tangan oleh nelayan. Akan tetapi Arif dan teman-temannya tidak dipukuli karena dianggap masih anak-anak.

“Kalau tertangkap kami dinasehati, kemudian disuruh pulang. Besoknya kami ulangi lagi, tak ada jera-jeranya,” katanya.

Bertemu untuk Berpisah

Ketika masuk Sekolah Teknik Menengah (STM) Jurusan Bangunan, Arif masih tetap melakoni tugas sebagai pengantar nasi rantangan. Tugas itu dia laksanakan dengan sebaik-baiknya. Ia tidak ingin pelanggan kecewa, karena masa depannya dan nasib ekonomi keluarganya bergantung dari bisnis yang digeluti oleh ibunya itu.

Oleh keuletannya itu, para pelanggan kerap bersimpati kepada Arif, ia diberikan uang tips bila mereka punya uang lebih. Di sisi lain, Arif mengambil keuntungan lebih, yaitu membaca koran Waspada atau Analisa di rumah pelanggan yang berlangganan koran.

Arif bukan hanya membaca berita tentang Pak Harto, tapi juga mengikuti perkembangan berita luar negeri, seperti konflik Timur Tengah dan sebagainya.

Ketika sedang berbahagia dengan aktivitasnya itu, tiba-tiba Arif dikejutkan oleh kepulangan sang ayah. Ia ingat betul kala itu ayahnya berdiri di pintu pagar, Arif segera menyongsong dan memeluk. Ia rindu kepada sang ayah. Ia tidak ingat apakah menangis atau tidak kala itu.
Dalam hatinya hanya ada satu mimpi, agar ayah tidak pernah lagi pergi. Ia ingin punya ayah seperti anak-anak yang lain. Egonya sebagai lajang muda luluh begitu menatap mata lelaki yang begitu ia rindukan.

Tapi tidak bagi Murgini, lelaki yang berdiri di pintu pagar telah membuat luka hatinya tidak kunjung sembuh. Ia kecewa pada komitmen cinta yang tidak abadi, baginya menduakan cintanya adalah sebuah pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan.

Murgini memilih tidak menjumpai ayahnya Arif. Ia membiarkan sang mantan berdiri sendirian di depan pagar. Tak ada kesempatan kedua, karena hatinya telah mati untuk cinta kepada lelaki itu.

Akhirnya, Arif pun sadar bahwa ia takkan lagi berpeluang mendapatkan ayahnya kembali. Ibunya telah menutup hatinya untuk cinta itu. Hingga sang mantan beranjak pergi, Murgini tidak bersedia membuka hati.

Enam bulan kemudian, Arif mendapat kabar bahwa sang ayah meninggal dunia di Jakarta. “Peristiwa itu terjadi ketika saya kelas II STM. Saya tidak bisa menyalahkan siapapun, karena ini bukan sekedar persoalan saya, tapi persoalan hati antara keduanya,” kenangnya.

Bekerja Sebagai Konsultan

Tahun 1991 Arif Fadilah lulus STM. Murgini memanggil sang anak dan duduk membicarakan tentang masa depan. Kepada Arif sang ibu mengatakan sudah tidak memiliki kemampuan untuk melanjutkan pendidikan sang putra.

“Rif, ibu hanya mampu mengantarkan kamu hingga bangku STM. Ibu berharap sekolah ini mampu mendidik kamu menjadi pribadi yang mempunyai keahlian, semoga engkau segera mandiri dan bisa mengarungi hidup ini. Bilapun kamu ingin tetap berkuliah, carilah uang sendiri,” kata sang ibu.

Arif paham bila apa yang disampaikan oleh sang ibu adalah bentuk undur diri beliau. Bukan karena ibunda enggan berjuang menyekolahkan sang putra ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi apalah daya badan yang malang tidak mampu lagi berjuang lebih keras. Tubuhnya kian rapuh untuk menantang badai mengumpulkan pundi rupiah. Jenjang universitas bukan sesuatu yang murah, harganya melampau kesanggupan sang janda.

Arif menggigit bibir. Ia ingin melanjutkan pendidikan, cita-citanya ingin menjadi diplomat, menggebu-gebu. Berkali-kali ia berkeliling Banda Aceh dan kerap terpaku di depan lima kubah Mesjid Raya Baiturahman, ia tidak kunjung menemukan solusi. Akankah mimpinya ingin menjadi diplomat akan gagal? Entahlah, ia tidak bisa meraba masa depan, kala itu.

Dengan bekal nilai ijazah dan raport yang selalu menggembiraan, ia kemudian dilirik oleh sebuah perusahaan yang bernama Seni Bina, sebuah perusahaan konsultan teknik. Sejenak Arif melupakan mimpinya menjadi diplomat. Ia dihinggapi kegembiraan yang luar biasa, baru berusia 18 tahun dia sudah bekerja di perusahaan konsultan, padahal teman-temannya yang lain sedang bingung hendak melanjutkan pendidikan kemana.

“Bayangkan, di tengah kebuntuan, saya justru dilirik oleh perusahaan konsultan. Padahal banyak yang seumuran dengan saya, justru menjadi pengangguran. Saya diliput kegembiraan, ibu juga gembira, putranya sudah bekerja di perusahaan,” kenang pengagum Soeharto itu.

Di perusahaan tersebut, Arif bekerja sangat giat, dia begitu cepat beradaptasi dengan karyawan perusahaan itu. Sebagai pegawai, setiap awal bulan ia menerima gaji dengan segenap sukacita. “Gaji pertama saja 87 ribu rupiah. Saat itu emas per mayam hanya 28 ribu saja. Bayangkan, saya bisa belanja banyak,” kenangnya.

Bertemu Pujaan Hati

Atas dedikasinya, Arif tidak hanya bekerja di kawasan yang dekat dengan kantor, tapi juga dikirim ke berbagai wilayah kerja perusahaan. Semakin hari ia kian matang dalam menangani urusan pekerjaan.

Setelah menjelajahi seluruh Aceh, suatu ketika ia ditempatkan ke kawasan Lampanah Leungah, Aceh Besar, peristiwa itu terjadi tahun 1995. Di sana ia bertemu dengan seorang dara asal Jawa yang sedang bertugas mendampingi Transmigran.

“Dia memperkenalkan diri dengan nama Supiati, SP., petugas yang dikirim dari Jakarta sebagai Pembina pertanian masyarakat. Saya bertugas sebagai Pembina pembangunan fisik. Saya tidak tahu kapan jatuh hati, apakah pada pandangan pertama?” katanya sembari tertawa kecil, seakan menahan malu hati.

Tanpa terasa mereka pun membina hubungan yang serius. Ketika banyak orang mengetahui mereka saling jatuh cinta, banyak yang menjumpai Supiati untuk memberikan masukan. “Masukan mereka rata-rata mengatakan jangan menjalin hubungan dengan Bang Arif, dia orangnya keras, kaku dan kasar,”kenang Supiati, yang mengaku jatuh cinta kepada Arif karena kejujuran sang konsultan.

“Kepada saya Abang (Arif Fadilah-red) berterus terang tentang siapa dirinya. Saya juga melihat sorot matanya yang memberikan aura penuh kasih sayang. Orang kan hanya melihat luarnya saja, tampilan fisik, saya melihat hatinya, ia pemuda yang jujur dan pemberani,” tambah Supiati.

Tahun 1997 Arif Fadilah dan Supiati menikah dan kemudian pindah ke Pulau Jawa. Ketika reformasi 98 berkecamuk, Arif ada di sana, bukan sebagai demontran, tapi sebagai suami Supiati.

Di Jakarta Arif mengelola kedai kelontong milik sang mertua, oleh keuletannya dalam berdagang, usaha tersebut kian hari kian maju.

Tidak puas hanya berdagang, Arif kemudian bergabung dengan partai politik yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Barat. Pada saat seleksi caleg, namanya masuk daftar urut satu. Ia lulus tes kelayakan dengan nilai memuaskan, akan tetapi karena ia orang Aceh, sehingga tidak diprioritaskan. “Mereka mengabaikan nilai saya yang unggul itu,” katanya.

Rindu Pulang ke Aceh

Ekslasi konflik di Aceh kian hari tambah kencang. Tiap hari Arif membaca koran yang meliput tentang konflik di Aceh, akhirnya ia tidak tahan, apalagi sang ibu berada di Aceh.

Pulang ke Aceh tentu bukan pilihan mudah. Di Jakarta Arif sudah mapan, tapi ia sepertinya tidak bisa membiarkan ibu sendirian di sana, lagian ia juga sangat rindu menapak kembali ke Aceh.

“Perasaan tersebut tentu sulit saya jelaskan. Jiwa saya selalu menyebut Aceh dan ibu,” katanya.

Setelah membulatkan tekad, ia menyampaikan niat tersebut kepada sang istri. Istrinya tidak mau ikut, karena Aceh sedang dalam kondisi tidak menentu. Arif memahami itu dan akhirnya ia pulang sendiri. Ia berjanji suatu saat akan menjemput istrinya bila kondisi sudah normal. Ia pun hanya membawa serta satu bujang lelakinya.

“Ketika memutuskan pulang tanpa kesertaan istri, tentu beban tambahan bagi saya, saya berharap ia tidak membenci saya,”sebutnya.

Kala itu Arif pulang lewat jalur darat, begitu memasuki Aceh, ia melihat begitu banyak TNI dan POLRI di jalan. Pos-pos keamanan dibangun di pinggir jalan, laju mobil tidak bisa kencang karena rawan keamanan.

Setiba di Banda Aceh, ia menemukan Aceh yang sudah remuk redam. Ekonomi hancur, masyarakat banyak menganggur, mayat bergelimpangan di jalan raya tanpa jelas siapa pembunuhnya. Tiap hari surat kabar mewartakan tentang salak senapan dan orang yang malamnya dijemput dan paginya sudah menjadi mayat.

Di Jawa Supiati galau luar biasa. Ia menyesal tidak mau menyertai kepulangan sang suami ke Aceh. Setelah bertarung dengan batin, ia akhirnya turut serta menyusul sang suami.

“Saya tahu itu pilihan sulit, biarlah saya bersama suami, pahit dan manis sudah siap saya hadapi. Ia butuh cinta saya dan saya butuh cintanya dia. Selebihnya saya pasrahkan saja kepada Allah,” kenang Supiati.

Menjadi Tukang Becak

Kala itu Arif berhitung, tidak ada peluang usaha yang bisa digeluti, semua di bawah ancaman dan tidak terjamin. Semakin hari simpanan uang semakin menipis. Setelah berembug dengan istri akhirnya mereka sepakat untuk membeli becak.

Kembali ke perusahaan tempat di mana ia bekerja, tidak mungkin, karena penempatan kerja di luar Banda Aceh, tidak terjamin keamanannya. Banyak konsultan yang hilang ketika sedang bertugas.

Arif Fadillah (duduk di atas becak) ketika bertemu dengan teman-temannya yang merupakan tukang becak di Banda Aceh. Foto: Ist.

Bismillah, akhirnya ia pun memilih menjadi tukang becak. Ternyata pilihan ini pun tidak mudah. Ia kerap dicurigai sebagai mata-mata. Hal ini karena penampilannya yang bersih, rapi serta wangi. Juga jago dalam berkomunikasi.

Beberapa kali ia ditangkap dan diperiksa oleh aparat keamanan. Mereka tidak percaya tukang becak bisa sebersih Arif. Namun Arif tetap keukeuh ia warga biasa. Karena tidak ada bukti selain bermodal kecurigaan saja, akhirnya ia dilepas.

“Pilihan saya memilih menjadi tukang becak sebenarnya sangat sederhana. Kala itu tahun 2000 Aceh sedang bergolak. Tidak ada pilihan pekerjaan yang lebih aman ketimbang menjadi tukang becak. Saya tidak boleh jauh-jauh dari rumah,” kenangnya.

Kala menjadi tukang becak ia semakin matang mengenal manusia. Banyak kenalannya yang pura-pura tidak kenal begitu mengetahui Arif sudah menjadi tukang becak.

Berbekal bahasa Inggris yang memadai, becak Arif kemudian digandrugi oleh para turis. Tukang becak yang lain pun selalu merekomendasi Arif bila ada bule yang membutuhkan jasa becak.

Sembari menjadi tukang becak, tahun 2002 Arif bergabung dengan Partai Demokrat yang baru pertama masuk ke Aceh. Ia mengadopsi ilmu yang pernah dipelajari di PAN dan dipraktekkan di Aceh.

Di lini bawah Arif dipercaya sebagai koordinator massa yang digalang pada acara pendirian Partai Demokrat di Aceh. Sebagai Ketua Persatuan Becak Kutaraja, membuat pekerjaan menggalang dukungan arus bawah semakin mudah.

“Biarpun orang becak namun karena memiliki modal di Jawa Barat jadi oleh karena itu bisa kita yakini massa untuk memilih demokrat kemudian pada pemilu 2004 demokrat mendapat lima kursi waktu itu walaupun masih pakai nomor urut,” katanya.

Ia pun turut berjasa mengantar salah seorang koleganya menjadi wakil rakyat di DPRD Banda Aceh, ia sendiri belum berani mencalonkan diri, karena ekonomi belum kuat. “Ternyata yang kita dukung justru tidak memperhatikan kita,” katanya sembari tertawa.

Tsunami Aceh dan Balas Jasa

Tidak begitu terpaut jauh dengan terjadinyaTsunami Aceh pada Minggu 26 Desember 2004 –mungkin hitungan bulan– Arif yang sedang mangkal di depan Pante Pirak, Banda Aceh, becaknya ditumpangi oleh bos tempat ia dulunya bekerja.

Arif pura-pura tidak kenal, ia tidak ingin mengusik kenyamanan penumpang. Tapi ternyata laki-laki itupun memperhatikan Arif. Begitu lelaki itu tiba di tujuan, dia segera menyapa dan meminta Arif segera masuk kantor.

“Besok temui saya di kantor,” kata sang bos. Arif terkejut luar biasa. Tak terasa air matanya menganak sungai. Orang-orang besar selalu tahu cara memperlakukan orang lain. Setelah masuk kerja, ia pun ditugaskan ke Simpang Kanan, Aceh Singkil.

Ketika sedang menikmati pekerjaan sebagai konsultan, tsunami pun meluluhlantakkan Aceh. Arif yang mendengar Banda Aceh hancur lebur, segera memutuskan untuk pulang. Instingnya mengatakan bahwa dia harus pulang via Sumatera Utara dan menempuh perjalan melalui pantai timur. Pilihannya tepat, ia tiba ke Banda Aceh pada hari kelima.

Kenyataaan pahit lainnya, ibunya digulung ombak dan hilang. Istri dan anak-anaknya selamat. “Hingga saat ini saya tidak berhasil menemukan jejak ibu, saya hanya berdoa semoga Allah melapangkan jalannya di alam kubur, Ibu adalah petarung yang sangat kuat, ia tak kunjung berhenti untuk membesarkan kami, walau Beliau sendiri tidak sempat memikirkan dirinya sendiri,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Tidak lama kemudian ia bekerja di UNHCR, awalnya sebagai office boy, akan tetapi karena setiap pagi ia menyapa pimpinan lembaga itu dengan bahasa Inggris yang bagus, akhirnya ia ditarik menjadi staf. Semenjak itu ia pun menikmati fasilitas sebagai pekerja NGO dengan gaji yang besar.

Ketika sedang asyik-asyiknya bekerja, pimpinan tempat ia bekerja sebelumnya menghubungi dirinya dan meminta untuk kembali bekerja di kantor konsultan. Arif tidak segera menjawab.
Ia berembuk dengan istrinya, lewat diskusi yang hangat, akhirnya Arif memilih meninggalkan segala kemapanan di NGO. Kala itu mereka berpikir jauh ke depan, NGO sifatnya sementara, sedangkan perusahaan itu akan terus ada.

Selain itu, Arif dan istri tidak ingin disebut kacang lupa pada kulit, mereka mengawali kehidupan di sana, kemudian di tengah himpitan ekonomi, ia kembali diajak bekerja di sana, kini ketika perusahaan membutuhkan tenaganya, setelah dilamun tsunami, tentu ia harus membalas semua kebaikan itu.

“Kemudian saya resign dari UNHCR, para bule itu terkejut, tapi saya sudah memutuskan untuk mundur, walau gaji di perusahaan itu jauh sekali dengan yang ia dapatkan di lembaga PBB itu.
Kemudian dia pun kembali membangun perusahaan tersebut bersama dengan sang pimpinan.

Terjun Kembali ke Politik

Tahun 2009 Arif Fadilah ambil sikap, secara ekonomi dia sudah mampu bersaing dengan kompetitor lainnya, basis pendukungnya pun pasti, ia tidak pernah meninggalkan sejawatnya di persatuan becak.

Arif Fadillah, sebagai kader Partai Demokrat. Foto: fauzi Cut Syam (aceHTrend).

Alhamdulillah, kala itu dia berhasil masuk Parlemen Banda Aceh dan duduk sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat. Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meraih delapan kursi, dari dapil lima peraih suara terbanyak adalah Arif Fadilah dengan total suara badan 1000 lebih. “Saya malah tidak percaya bisa mencapai jumlah demikian, ternyata tim benar-benar bergerak di bawah,” ujarnya.

Setelah duduk di DPRK Banda Aceh, bintangnya kian bersinar. Tahun 2014 dia kembali lolos ke parlemen dan menjadi Ketua DPRK. Akan tetapi secara jumlah kursi, Demokrat hanya menyisakan 5 kursi saja, karena pengaruh badai politik yang terjadi di Jakarta, ketika beberapa orang tokoh sentral Partai Demokrat terlibat kasus korupsi.

Dukungan dari Kekasih Hati

Supiati, sang istri tercinta selalu berada di balik keputusan-keputusan besar yang diambil oleh Arif Fadilah. Sebagai teman hidup, sang istri kerap dijadikan sebagai mitra diskusi informal di rumah. Masukan-masukan dari putri Pulau Jawa itu cukup membantu pengembangan langkah sang Demokrat sejati itu.

“Istri saya berhasil membantu saya untuk tetap berani melalui ruang zaman. Ia banyak membantu saya dalam hal membangun konsistensi sikap,” kata Arif Fadilah.

Arif bangga dengan apa yang sudah ia capai. Ia memang tidak pernah menjadi diplomat, tapi ia sukses menjadi orang penting.

Di sela-sela kesibukannya bekerja untuk rakyat, ia juga mendaftar sebagai mahasiswa di Universitas Iskandar Muda dan lulus sebagai sarjana Ilmu Komunikasi pada tahun 2013. Selanjutnya ia mendaftar pasca sarjana di Universitas Syiah Kuala pada jurusan Magister Managemen.

Begitu pula ketika ia ingin meningkatkan karir politik menuju DPRA pada pileg 2019, istrinya memberikan dukungan. Supiati mendorong sang suami keluar dari zona nyaman DPRK Banda Aceh.

“Supiati hadir dalam momen-momen besar, ia menjadi pendamping hidup yang bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan saya. Ia benar-benar mampu menjadi teman hidup yang tabah, ulet serta bisa diajak diskusi. Ia terlalu keren dan saya berjanji akan terus membersamainya sampai kami dipisahkan oleh maut,” kata Arif.

Ia juga merasakan dukungan dari putra-putrinya. Alhamdulilah anak-anak Arif yaitu Pilar Banda Aceh Fadillah, Magfirah Pancari Fadillah, Arien Keumala fadillah dan Fausal Alam Fadillah, hingga saat ini menjadi anak-anak yang baik dan tidak mencoreng nama ayahnya di luar. “saya merasakan dukungan nyata dari istri dan anak-anak. Mereka mampu menjaga pergaulan dan menjaga nama baik saya,” kata Arif bersyukur.

Kini, ia menatap masa depan politiknya bersama Partai Demokrat.

Lelaki bandel, tukang kelahi, serta tidak menyukai matematika itu, telah dua periode dipercaya mewakili rakyat Banda Aceh di parlemen. Kini, ia ingin meningkatkan karir politiknya. Ia yang memilih tetap setia bersama Partai Demokrat, berencana mencalonkan diri sebagai wakil rakyat di DPRA mewakili dapil I meliputi Aceh Besar, Banda Aceh dan Sabang. []

Komentar