ACEHTREND.CO, SINGKIL | Ramadhan, adalah bulan yang amat istimewa. Keitimewaan ini, bukan saja karena bulan itu satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Al-Quran.

Melainkan juga, dalam bulan tersebut terdapat nuansa religiusitas yang sangat kental. Apalagi pada Ramadhan itu, ada Malam Lailatul Qadar.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran pada malam kemulian. Tahukah kamu malam kemulian itu? Yaitu, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Beribadah di Malam Lailatul Qadar, lebih baik daripada beribadah selama seribu bulan.

Karenanya, jangan sia-siakan Malam Lailatul Qadar. Carilah dan intailah ia.

Ulama mengatakan, Malam Lailatul Qadar terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadhan. Bisa pada malam ke 21, 23, 25. Bisa juga, pada malam 27dan 29. “

Menyambut kedatangan dan mengisi malam-malam istimewa itu, lazimnya umat Islam menggelar berbagai ritual dan aktivitas religi.

***

Di Kemukiman Gosong Telaga, Singkil Utara, Aceh Singkil, sebelum listrik ada di pemukiman itu, setiap memasuki Malam Lailatul Qadar ada tradisi unik dan menarik.

Yaitu, warga memasang sejumlah lampu atau obor yang terbuat dari bambu, dan botol bekas. Ada pula lampu dari daun dan seludang kelapa.

Lampu-lampu yang dikemas, dibuat, dan dibentuk sedemikian rupa itu, difungsikan di samping sebagai hiasan. Juga sebagai penerang jalan. Terutama, depan rumah warga.

Malah, sebagai wujud kesakralan Malam Lailatul Qadar, warga Gosong Telaga yang meracik lampu yang sangat khas, yakni lampu bermata api ganjil.

Bisa bertitik api tujuh, sembilan, sebelas dan tiga belas. Pokoknya, mata apinya tak boleh hitungan genap. Harus ganjil.

Yang menarik dan unik lagi, pada Malam Lailatul Qadar, tepatnya 27 Ramadhan, banyak warga membuat alat penerang menggunakan sayak kerambi atau tempurung kelapa.

Tempurung itu, disusun secara vertikal menggunakan tulang dari kayu yang ketinggiannya mencapai dua sampai tiga meter. Layaknya menara.

Warga Gosong Telaga lazim menyebutnya, “lampu menara sayak” alias lampu sayak karambi.

Membuat lampu menara sayak, terlebih dahulu warga mengumpulkan sayak dan menjemurnya agar saat dibakar mudah menyala.

Lalu, sayak (batok) kelapa tadi, bagian tengahnya dilubangi. Ditohok dengan halu.

Setelah itu, tonggak kayu sebesar lengan dan panjang 2-3  meter, biasanya kayu yang digunakan masih basah agar tak mudah terbakar, dipancang di depan rumah.

Satu persatu sayak yang telah dilubangi, dimasukkan ke tonggak kayu. Sehingga sayak tersusun rapi. Berbentuknya menara mini yang terbalut sayak atau tempurung.

Tonggak sayak yang dibakar sebagai lampu penerang, jumlahnya tak hanya satu. Tergantung dari sayak kelapa yang berhasil dikumpulkan.

Konon katanya, jumlah lampu menara sayak ini dijadikan sebagai tolok ukur ketinggian status sosial keluarga.

“Semakin banyak lampu menara saya yang dipasang, semakin tinggi pula status sosialnya.”

Tempurung kelapa yang disusun berderet di sepanjang jalan depan rumuh warga, pada  Malam Lailatul Qadar, selesai berbuka puasa, warga serentak membakarnya.

Lidah api dari pembakaran sayak kelapa pun berkerlap-kerlip, dan meliuk-liuk diterpa angin.

Asap pembakaran terbang mengepul, menebar aroma khas ke atas petala langit kampung.

Sehingga suasana kampung terasa meriah yang ditingkahi bocah-bocah kecil lari berseliweran, bereuforia, menyaksikan pembakaran sayak kelapa itu.

***

Sayang, tradisi ritual memasang lampu bermata api ganjil dari bahan bambu dan lainnya itu serta membakar menara sayak kerambi (kelapa) menjadi alat penerang, sekarang makin langka. Tradisi itu, bakal tinggal cerita.

Ini terjadi, bisa saja karena semakin sulitnya mendapatkan sayak seiring dengan semakin langkanya kukuran tradisional.

Juga disebabkan, pola pikir warga yang sudah semakin praktis dan prakmatis. Atau rasa kepedulian pada simbol dan nilai-nilai religius-tradisional yang mulai memudar.

Ditambah lagi, listrik pun sudah mulai banyak digunakan warga sebagai penerang dengan berbagai ragam bentuk dan warna-warni lampunya.

Sebenarnya, menghidupkan lampu-lampu—termasuk lampu listrik– merupakan sebuah simbolisasi kesakralan Malam Lailatul Qadar dan wujud dari rasa hormat kita pada hal-hal yang religi.

Tapi mengapa ini mulai ditinggalkan? Entahlah![]

 

Sadri Ondang Jaya
Sadri Ondang Jaya adalah wartawan aceHTrend untuk wilayah Aceh Singkil dan sekitarnya. Di samping itu pria yang gandrung membaca ini, suka menulis esai, puisi, dan cerpen. Sarjana FKIP Unsyiah ini telah berhasil menerbitkan buku "Singkil Dalam Konstelasi Sejarah Aceh". Juga aktif di blogger Aceh.