Foto: https://www.askideas.com/sewed-mouth-funny-picture/

Koran Serambi Indonesia (16/05/18) mengabarkan bahwa  dalam dua hari terakhir pihak kepolisian telah menangkap tiga warga yang terindikasi melakukan ujaran kebencian di media sosial. Uniknya, dua di antara tersangka adalah pegawai negeri yang salah satunya diketahui sebagai pejabat setingkat kepala dinas. Sementara sisanya adalah oknum ibu rumah tangga. Ketiga orang ini menurut informasi telah melakukan ujaran kebencian di media sosial. Si oknum ibu rumah tangga misalnya, memberikan komentar “halal darah” terkait insiden bom baru-baru ini.

Tindakan ujaran kebencian semacam ini tentunya bukan perkara baru di Indonesia, tak terkecuali Aceh. “Mulut-mulut” gatal terus saja menghina, mengejek dan menghujat orang lain tanpa ampun dan tanpa tahu duduk persoalan. Eksistensi mulut-mulut gatal terus memuncak seiring dengan perkembangan media sosial. Sadar atau pun tidak, media sosial telah sukses mengubah manusia-manusia pengecut di alam nyata untuk berlagak berani di alam maya.

Dalam melakukan aksinya, sebagian oknum langsung menggunakan mulutnya untuk menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian melalui media sosial. Sementara sebagian oknum lainnya “memoderasi” bahasa mulut ke dalam teks tulisan dengan tetap menyisipkan kegatalan. Ia cuma memindahkan kegatalan mulut ke dalam tulisan.

Walaupun tindakan hukum terhadap kasus ujaran kebencian di Indonesia sudah sering terjadi, tapi untuk wilayah Aceh sendiri, penegakan hukum terhadap kasus-kasus serupa ini masih terbilang langka. Sampai saat ini, kita masih sangat mudah mendapati akun-akun di media sosial yang terlihat tanpa lelah melakukan “penyerangan” terhadap pihak lain.

Jika ditilik, ada banyak motif yang mendorong beberapa oknum untuk terlibat aktif dalam melakukan ujaran kebencian di media sosial. Faktor paling dominan tampaknya didominasi oleh persoalan politik dan agama. Dua hal ini terlihat cukup mudah melahirkan benturan sosial, khususnya di media sosial yang hampir-hampir minus nilai.

Meskipun tidak ada riset khusus, tapi saya meyakini bahwa kemunculan mulut-mulut gatal di media sosial disebabkan oleh kondisi media sosial itu sendiri yang dihuni “pengangguran.” Saya menyebut “pengangguran,” sebab sebagian mereka, khususnya pelaku ujaran kebencian telah “menganggur” untuk berpikir dan telah mengurung akalnya dalam sangkar “kejahilan.” Dalam kondisi inilah mulut-mulut gatal bebas berkomat-kamit tanpa melibatkan pikir dan rasa.

Saya melihat sendiri perilaku ini di kedai-kedai kopi. Pada suatu ketika, saat bom meledak di seberang sana, seorang oknum, sambil menonton telivisi, berteriak, “pakon han matee mandum (kenapa tidak mati semua).” Ini adalah bentuk kegatalan mulut yang tidak pada tempatnya. Bom baru saja meledak, kita belum tahu apa yang terjadi, tapi mulut-mulut gatal telah beraksi. Tidak cukup di mulut, komat-kamit tak berkualitas ini pun segera disebarnya di media sosial. Di sinilah punca ujaran kebencian itu bermula, karena pikir telah mati.

Padahal, kakek nenek kita dulu telah memperingatkan: Bek gatai babah dan bek gatai asoe. Gatai babah (gatal mulut) adalah sebuah perilaku minus pikir yang tiba-tiba saja mengomentari sesuatu tanpa diketahuinya duduk persoalan. Sementara gatai asoe adalah perilaku yang suka mengganggu orang lain akibat iri dengki. Kedua bentuk kegatalan ini sangatlah terlarang, sebab akan membuahkan petaka bagi si pelakunya.

Apa yang terjadi baru-baru ini semoga menjadi bahan evaluasi bagi kita semua agar lebih bijak dalam berkomentar di media sosial. Memang benar, media sosial sudah menyediakan kolom komentar, tapi bukan berarti kita bebas berkomat-kamit. Sebab, pada saat bermasalah dengan hukum, kita tidak bisa menyalahkan kolom komentar yang disediakan media sosial.

Khairil Miswar
Khairil Miswar saat ini berstatus sebagai Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Pada saat konflik Aceh berkecamuk penulis aktif dalam gerakan mahasiswa khususnya dalam aksi-aksi kemanusiaan dalam menangani pengungsi dan korban konflik. Pasca konflik penulis pernah terlibat dalam partai politik lokal sebagai Ketua Partai SIRA Bireuen. Saat ini penulis juga mengabdi sebagai seorang guru di sekolah rendah di perkampungan.