BERBAGI

Telepon berdering, begitu saya angkat langsung terdengar “Jangan sampe gak datang nanti malam ya?”. Bang Iwan Soenaryo mengingatkan saya untuk hadir ke salah satu kafe di kawasan Lampineung Banda Aceh, malam Minggu, 24 Februari 2018. Dia bersama teman-teman dari Aceh Jazz Forum membuat pementasan yang diberi judul ‘Jazzphoria’. Bang Iwan sering mengundang saya untuk menonton penampilannya.

Wah, kebetulan sekali, pikir saya. Ini kesempatan untuk belajar memotret di malam hari! Iya saya baru mulai belajar memotret dan ingin belajar memotret even musik.

Malamnya saya mengajak dua kawan yang baru kemarin tiba dari Semarang untuk ikut menonton. Dalam perjalanan ke tempat acara, kami pun sibuk membahas jazzer idola masing-masing. Dari pianis Ahmad Jamal, Bill Evans hingga gitaris Kenny Burrell dan lain-lainnya.

Begitu tiba, di atas panggung sudah ada dua musisi yang sedang tampil. Saya kenal dengan mereka. Yang main biola namanya Teuku Ilyas sedangkan yang main piano namanya Raden Adhi Setya. Mereka membawakan lagu-lagu pop Aceh secara instrumental.

Saya tinggalkan dua kawan tadi menikmati kopi, sedangkan saya bergerak ke sana ke mari untuk mulai memotret. Saya terpaksa maju mundur untuk zoom in/out karena cuma membawa lensa primer Canon 50mm f/1.4 yang saya pasang ke body Canon EOS 650D. Lensa lain yang saya punya adalah Canon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS STM. Itu adalah lens kit bawaan yang saya beli dengan kameranya lima tahun lalu. Lensa ini kurang memadai untuk memotret dimalam hari karena maksimal aperture-nya cuma f/3.5, itupun hanya pada focal length 18mm, jadi saya putuskan untuk tidak memakainya malam ini. Kamera ini sendiri biasanya dipakai oleh guru-guru di Sekolah Musik Moritza https://moritza.com untuk membuat rekaman video murid, saya sendiri jarang memakainya.

Disela-sela Ilyas dan Adhi membawakan lagu ‘Ranub Lam Puan’ saya mulai memotret mereka. Ah, beberapa jepretan pertama saya gagal, setting-annya salah. Saya lalu bereksperimen dengan nilai shutter speed, aperture dan ISO untuk mendapatkan setting yang sesuai. Lampu panggung yang liar benar-benar membuat saya frustasi, maklum, ini pertama kali saya motret even musik di malam hari.

Tak terasa, penampilan mereka pun usai, saya tak sempat menikmatinya!

Ilyas dan Adhi [Ft Momo]
Setelah penampilan duo tadi, tampillah group ‘Aceh Jazz Forum’. Mereka adalah Dindin Ahmad (drum), Maywansyah (bass), Aloel (gitar) dan Muko (piano).

Repertoire pertama dibuka dengan lagu ‘Georgy Porgy’ milik group rock TOTO. Vokal Alfi yang serak-serak basah sangat enak terdengar, penampilannya pun elegan.

Setelah berbasa-basi sedikit dengan penonton, Group Aceh Jazz Forum kembali melanjutkan pertunjukannya dengan lagu kedua. Kali ini mereka memilih single berirama R&B yang ditulis oleh Bill Withers, William Salter dan Ralph MacDonald, lagunya adalah ‘Just the Two of Us’. Lagu ini direkam tahun 1981, dinyanyikan oleh Bill Withers dengan solo saxophone yang fenomenal di bagian interlude dan ending yang dimainkan oleh Grover Washington Jr.

Lagi-lagi Alfi membawakannya dengan enak. Alfi sudah menjadi penyanyi sejak masih duduk di bangku kelas satu SMP tahun 1993 dulu. Dia bisa menyanyi berbagai genre musik dengan baik termasuk R&B, makanya lagu tadi jadi enak di kerongkongannya.

Sesekali saya kembali ke meja untuk menyapa dua kawan tadi sambil mencicipi kopi, lalu bergerak lagi untuk memotret.

Iwan Soenaryo {Ft by Momo}

Bang Iwan naik keatas panggung untuk menggantikan Alfi. Dia membawakan lagu ‘Autumn Leaves’ dan ‘Fly Me to the Moon’. Dua lagu ini tentu tidak asing lagi bagi penggemar jazz. Seperti biasa, mantan juara Bintang Radio dan Televisi kategori Seriosa tahun 1983 ini menyanyi dengan suara baritonnya. Sama seperti Alfi, bang Iwan juga penyanyi serba bisa.

Di ujung acara tampil penyanyi muda, Winda. Dia menyanyi dengan baik layaknya peserta Indonesian Idol. Lagu pop Indonesia yang dia bawakan sering saya dengar diputar di supermarket, tapi saya tak tahu judul dan nama penyanyinya. Sayangnya, Winda pun tak memberi tahu sewaktu dia tampil tadi (atau saya tidak mendengarkan karena sibuk sendiri?).

Winda {ft by Momo]

Acara selesai dan kami pun pulang. Di perjalanan sambil menampakkan hasil foto, saya bilang sama kawan-kawan, saya kecewa dengan hasil pemotretan Jazzphoria tadi. Kalau bukan blur, under exposed atau over exposed, yang sudah pasti muncul adalah noise, karena ISO-nya yang terlalu tinggi.

Bukannya mengomentari hasil jepretan saya, mereka malah bertanya begini, “Bang Momo, kenapa ya di acara Aceh Jazz Forum tadi lagu jazz-nya cuma dua biji?” Lha, mana saya tahu, jawab saya sambil terus mengecek hasil foto.

Dalam hati saya berharap Aceh Jazz Forum segera membuat acara lainnya biar saya bisa latihan motret malam lagi, soalnya kalau pementasan musik rock, acaranya sore, itupun kalau tidak dibubarkan paksa!

Komentar