ACEHTREND.CO, SINGKIL | TAK BISA DIBANTAH, Singkil adalah “kotanya” ulama. Ulama-ulama yang tersohor di Aceh, berasal dari Singkil.

Sebut saja diantaranya, Ali Fansuri, Syekh Hamzah Fansuri, dan  Syekh Abdurauf al-Singkili.

Ada juga ulama-ulama yang sengaja datang ke Singkil dari daerah lain. Seperti, Abuya Syekh Jalaluddin Padang Ganting, Abuya Syekh M. Aun, H. Abdul Malik (Imam Pulo Pinang).

Termasuk juga, H. Umar, Abuya Tengku Syekh H Zamzami Syam dan sejumlah ulama lainnya.

Ulama-ulama ini  kemudian  menetap, menjadi alim, dan mengajar di Singkil. Bahkan, meninggal jasad mereka di makamkan di Singkil.

Hebatnya, segala biaya hidup ulama ini, sejak akomodasi dan konsumsi ditanggung sepenuhnya oleh masyarakat Singkil.

Ada dengan cara, mengutip beras, dari rumah ke rumah. Ada juga, sedekah dari orang-orang berpunya.

 Membangun Masjid

Karena Singkil berjuluk kotanya ulama ditambah pula perkembangan Islam sangat pesat di sana. Tak mengherankan, kalau ketersedian masjid, menjadi prioritas utama.

Pada tahun 1256 H/1836 M, Raja Singkil bersama rakyat membangun masjid pertama di ibukota Kerajaan Singkil (Singkil lama).

Masjid  ini diberi nama, Masjid  Baiturrahim. Konstruksi bangunan masjid bergaya Melayu. Dibangun dari bahan kayu kapur, meranti laut, atap daun rumbia, dan ijuk.

Dalam perkembangannya, Masjid Baiturrahim mengalami kerusakan yang cukup parah seiring dengan hancurnya pelabuhan, pasar, dan  porak-porandanya kota Singkil. Ini terjadi akibat bencana alam (tsunami) atau geloro.

Kendati begitu, hal ini tidaklah membuat masyarakat Singkil lemah semangat. Justru mereka bangkit. Membangun negerinya.

Atas titah Raja Singkil, turunan Datuk Murad, penduduk Singkil hijrah ke daerah baru (Singkil sekarang/Pondok Barö).

Di tempat yang baru ini mereka memulai kehidupan dan membangun. Pembangunan utama dan pertama yang mereka kerjakan, adalah tempat kediaman dan dibarengi dengan masjid.

Pembangunan masjid tersebut dilaksanakan, persis di pusat kota. Di samping rumah Gadang Datuk yang telah dibangun duluan oleh Belanda.

Setelah masjid rampung, masjid ini diberi nama seperti semula, Masjid  Baiturrahim.

Kemudian pada tahun 1328 H/1909 M, atas gagasan dan prakarsa Raja Singkil, Datuk Abdurrauf bersama rakyat, merehab  dan memperlebar Masjid  Baiturrahim.

Sebab, masjid lama sudah sempit dan tidak memadai lagi menampung jamaah.

Masjid yang direhab dan diperlebar, dipertinggi dan lantainya dipasang  beton. Sedang bahan atasnya, tetap dari kayu kapur, rasak, meranti, dan beratap seng.

Masjid ini menggunakan sebuah kubah. Sebagai penyanggah kubah, ditengah masjid didirikan sebuah pilar beton.

Selain itu, arsitektur masjid, dekorasi, serta ornamen interior dan eksterior dibuat dari bahan kayu, diukir relif dan kaligrafi berciri desain Timur Tengah dan bergaya Melayu kuno.

Untuk melengkapi kesempurnaan masjid, di depannya dibangun sumur bor. Sumur bor ini dijadikan sebagai sumber air untuk mengambil air wudhuk tatkala mau menunaikan ibadah shalat.

Sampai saat ini sumur bor tersebut masih berfungsi dengan baik walau sudah berusia lebih dari 200 tahun.

Masa Kolonial Belanda Masjid Baiturrahim ini menjadi benteng  terhadap adanya pendangkalan akidah yang digerakan oleh misionaris.

Di samping itu keberadaan Masjid Baiturrahim ini  telah memberikan spirit dalam melepaskan masyarakat Singkil dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Yang lebih penting keberadaan Masjid Baiturrahim ini, sebagai pusat atau tempat peribadatan seperti shalat, zikir, doa, dan itikaf.

Sisi lain, sebagai tempat menata kehidupan sosial yang islami. Bahkan secara diam-diam, Masjid Baiturrahim digunakan masyarakat untuk mengatur strategi dan taktik perang ketika mau melawan penjajah Belanda.

Dan yang lebih mendasar, eksistensi Masjid Baiturrahim, ketika itu, berhasil memecahkan sekat-sekat dan batas-batas yang ada antara etnis dan strata sosial.

Di Masjid Baiturrahim ini, mereka berdiri sama rata, tanpa mengenal status sosial, kesukuan, dan ras. Di masjid ini, mereka dipaksa hanya menundukkan diri secara totalitas di hadapan Allah SWT.

Tahun 1953 setelah kemerdekaan, Masjid Baiturrahim  diperluas dari 17×17 meter, menjadi 20 x 30 meter. Masjid ini terus eksis sesuai perkembangan zaman.

Begitu pun ketika tahun 1999 Aceh Singkil mekar dari Aceh Selatan, Baiturrahim menjadi masjid kabupaten atau masjid agung.

Sayangnya bangunan berarsitektur klasik tersebut, mengalami kerusakan berat akibat goncangan gempa dan hantaman tsunami Aceh-Nias 25 Desember 2004 dan 28 Maret 2005.

Dalam  masa  rekontruksi dan rehablitasi Aceh, warga Singkil sepakat merehab masjid yang telah rusak. Setelah direnovasi di sana-sini, masjid pun bisa dipergunakan kembali.

Namun kondisi fisiknya, sudah miring ke belakang karena tanahnya amblas dan mengalami penurunan. Sehingga masjid itu, tidak lagi indah dan sedap dipandang mata alias tidak normal.

Melihat kondisi yang demikian, dengan niat dan tekad yang baik dan dengan kebersamaan, masyarakat menggagas  pembangunan masjid baru dengan ukuran lebih luas 37 x 37 meter yang letak di belakang masjid tua.

Ketika Pejabat Gubernur Aceh, Mustafa Abu Bakar pada 28 Maret 2006 berkunjung ke Aceh Singkil, Mustafa Abu Bakar meletakkan batu pertama pertanda dimulainya pembangunan masjid baru Baiturrahim ini.

Masjid ini didesain memiliki satu kubah besar dikelilingi empat kubah kecil dan empat menara di setiap sudutnya. Menara dan kubah ini, melambangkan Rasulullah dengan empat sahabat terdekatnya.

Sekarang, Masjid Baiturrahim sedang dalam proses pembangunan. Apakah masjid ini nanti rampung tetap statusnya masjid kabupaten atau masjid agung.

Pertanyaan ini diajukan, seiring dengan telah adanya Masjid Nurul Makmur di depan pendopo bupati, di Desa Pulo Sarok.[]

 

Komentar

Sadri Ondang Jaya
Sadri Ondang Jaya adalah wartawan aceHTrend untuk wilayah Aceh Singkil dan sekitarnya. Di samping itu pria yang gandrung membaca ini, suka menulis esai, puisi, dan cerpen. Sarjana FKIP Unsyiah ini telah berhasil menerbitkan buku "Singkil Dalam Konstelasi Sejarah Aceh". Juga aktif di blogger Aceh.