Seorang pemuda sedang membaca ayat suci Alquran, seusai shalat subuh di salah satu mushalla di Banda Aceh. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Oleh Afridany Ramli*)

Bahkan bukan hanya di bulan ramadhan saja yang bisa dijadikan sebagai motoristik, atau penggerak utama untuk merealisasikan sikap qanaah di dalam diri kita. Di dalam bulan lain pun bisa mengaplikasikannya. Sikap yang satu ini perlu melingkupi diri agar senantiasa menjadi manusia utuh dan tangguh di sisi Allah Swt.

Menyikapi datangnya bulan suci erat kaitannya dengan sikap qanaah, barangkali kita bisa merujuk dari sebuah fakta, bahwa tatanan kehidupan masyarakat kita belakangan ini masih jauh tertinggal dalam menjadikan sikap qanaah sebagai suri dalam kehidupan sehari-hari kecuali bulan ini, di mana seakan-akan bulan ini bagai oase tempat istirahatnya para musafir di tengah Padang Sahara yang haus dahaga. Padahal sejatinya qanaah merupakan sumber kemajuan dan kebahagiaan bagi kehidupan kita.

Ketika bulan Ramadan tiba, mesjid-mesjid disesaki oleh sekumpulan orang yang berpuasa. Begitu pun pada malam hari. Sikap qanaah terukir pada wajah-wajah muslimin. Akan tetapi sayangnya, di bulan lain semua seakan lebur. Kita kembali menganut sistem lain yang jauh dari pola kehidupan Islam yang sesungguhnya. Kenapa demikian. Mungkin jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Memang bulan ini merupakan moment yang paling tepat untuk membuat suatu perubahan, terutama perubahan untuk diri pun juga perlu dianalisis kembali apakah kita sudah menemui tingkat tertentu? seperti halnya meng—qanaah diri dalam kehidupan sehari-hari kita? Sejauh mana sudah kita mendapat derajat di sisi Allah Swt sebagai hamba yang beriman dan bertaqwa. Sebagai seorang mukmin kita pasti tahu, sejauh mana sudah perjalanan usianya mencapai tingkatan tersebut. Tanpa sikap qanaah mustahil seseorang mencapai derajat di sisi Allah Swr.

Barangkali semua paham bahwa Bulan Ramadhan adalah bulan segala hikmah. Orang-orang Islam tentu menyambut kedatangan bulan ini dengan penuh ketakjuban, selain berpuasa juga melaksanakan shalat sunat tarawih berjamaah sekaligus melakukan ibadah-ibadah sunnah lainnya untuk lebih taqwa kepada Allah.

Intropeksi Diri

Mari kita menjadi pribadi-pribadi yang baik dan menjadi idaman bagi umat setelah melewati bulan suci ini. Sekurang-kurangnya, kalaulah tidak menjadi ahli ibadah, kita menjadi ahli kebaikan. Bukan malah sebaliknya, menjadi ahli keburukan dan membawa kemudaratan bagi insan yang lain.

Banyak sekali hikmah dari bulan ini untuk menunjang jati diri sebagai hamba. Selain mendapat pahala berlipat ganda. Allah langsung menerima amalan-amalan hamba-Nya di bulan mulia ini tanpa hijab. Memperbanyak ibadah merupakan kunci keberhasilan menjadi pribadi yang luhur untuk sampai pada tingkatan bersama orang-orang shaleh, para ambia dan juga bersama Rasulullah Saw.

Masih banyak lagi ibadah-ibadah lain yang dapat dilaksanakan pada bulan ramadhan ini, terlebih lagi jika bulan ini dijadikan moment penting penguatan spiritual agar bisa mengembangkan menuju perubahan, baik jiwa maupun membersihkan hati. Terlepas dari ibadah wajib seperti berpuasa, ada pun hikmah-hikmah besar lain yang didapati dalam bulan suci ini adalah dengan menjunjung sikap qanaah.

Salah satu contoh dari sikap qanaah, sikap sangat penting, karena sikap yang satu ini merupakan refleksi dari capaian dari ibadah di bulan suci ini. Dengan menuntun diri dalam qanaah di bulan suci Ramadhan maka seorang insan akan menemukan sebuah perubahan di tingkat paling tinggi.

Sikap qanaah dapat membawa kita bertransformasi diri ketingkat kesuksesan yang paling tinggi, ia merupakan sumber segala kebahagiaan. Qanaah merupakan modal kemajuan sejati. Hanya orang-orang sukses yang menganut sikap ini.

Menurut Hamka, qanaah merupakan kekayaan yang mulia. Sikap ini meliputi unsur-unsur lain yang terkandung dalam diri manusia yang luhur, antara lain adalah; menerima segala ketentuan Allah; memohon kepada Allah tambahan rezeki yang pantas, dan berusaha; sabar; tawakkal; dan tidak tertarik oleh tipu daya dunia.

Qanaah yang dilambangkan sebagai kekayaan sejati ini, tidak berpengaruh pada kekayaan harta, melainkan kekayaan jiwa yang dianugerahkan Allah pada manusia. Sebut saja misalnya ketika seseorang sedang berbuka puasa. Orang-orang yang memiliki kekayaan jiwa, akan melengkapi berbuka puasa dengan makanan atau minuman ala kadar secara sederhana. Namun sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki sikap qanaah akan nampak dari cara berbuka puasa saja.

Bagi orang yang benar-benar ingin berubah bulan ramadhan menjadi moment untuk melakukan introspeksi diri. Orang yang ingin mencapai tingkatan ini perlu mengaplikasikan sikap qanaah selalu berada dalam dirinya. Meski perlu bimbingan, namun bulan mulia ini bisa dimanfaatkan sebagai pemandu praktis yang mampu mendorong kita untuk mencapai derajat tersebut. Itulah kelebihan daripada bulan ramadan, kita bisa mereduksi diri di dalam qanaah.

Tidak perlu ragu dan gentar, dan jangan khawatir akan lemahnya pikiran, serta lemahnya hati, meski sedang berpuasa. Semua mesti kita serahkan kepada Allah SWT. Sikap qanaah adalah sesempurnanya iman seseorang untuk memiliki perubahan yang nyata. Yaitu dengan berserah diri pada Allah Swt.

Bahkan melalui sikap inilah Islam mengajak umatnya menuju sukses, jaya, maju, bebas dari segala belenggu yang ada. Umat Islam tidak perlu cemas akan ketentuan yang maha kuasa, sebab takdir Allah atas manusia adalah mempunyai hikmah tersendiri bagi kita.

Saya mengutip sebuah cerita tentang sahabat Rasulullah dari sebuah sumber terpercaya, yaitu kisah Mu’az.

Pada suatu ketika beliau bersalaman dengan Rasulullah, terasa sekali oleh Rasulullah tangan sahabatnya itu kasar lantaran banyak pekerjaan kasar. Lalu Rasulullah pun bertanya pada Mu’az penyebab tangannya kasar. Dengan wajah berseri sahabatnya itu menjawab. “Saya membajak tanah, untuk menafkahi ahli rumahku, wahai Rasulullah.”

Alangkah jernihnya muka Rasulullah mendengar jawaban sahabatnya itu, sehingga diciumnya keningnya, seraya berkata: “Engkau tidak akan disentuh api neraka wahai Mu’az.”

Nah, ketika bulan ramadhan dijadikan bahagian merefleksi diri, dan mendidik diri menjadi pribadi yang tangguh, bukan berarti pekerjaan berat yang harus dipikul menjadi beban bagi kita. Kita harus yakin, segala energi yang terkuras merupakan Allah—lah yang memberikan kelapangan kepada kita. Menyerahkan semua kepada Allah merupakan sikap qanaah yang sempurna.
Bulan Ramadhan, sangat tepat dijadikan ajang pertaruhan untuk merubah kepribadian diri.

Sehingga selepas melewati ibadah puasa, perjuangan kita untuk mencapai fitrah sebagai manusia tidaklah sia-sia. Dalam artian, kita berhasil membawa diri ke dalam konsep-konsep pribadi luhur dan menjadi orang baik.

Jadi, akhirnya penulis setuju bila menyempurnakan diri, baik secara fisik maupun secara fisik bulan ini sangat positif menggerakkan kita menuju sukses. Betapa jarak memisahkan kita dari godaan. Hanya diri kita dan Allah yang tahu betapa besarnya pengabdian kita untuk ingin merubah diri menjadi pribadi yang qanaah di bulan yang suci ini. Wallahualam bissawab.

*)Penulis bernama Afridany Ramli. Sekarang berdomisil di Kembang Tanjong Sigli Aceh.
Selain menulis novel, dan cerpen tulisan-tulisannya banyak dimuat di media lokal dan nasional.

Komentar

Redaksi
aceHTrend menghadirkan berita dan opini yang dibutuhkan warga. Media ini didirikan oleh PT. Aceh Trend Mediana sebagai perusahaan pers untuk menjadi sarana berbagi informasi dan promosi bagi warga masyarakat, pebisnis, serta instansi pemerintahan yang ada di Aceh dan sekitarnya. Hubungi kami: redaksi@acehtrend.co