Hujan belum reda. Di depan toko tanpa lampu yang pintunya terkunci Nayla menadahkan tangan menahan tetesan hujan yang meluncur dari kanopi toko. Tangannya terlihat menangkapi setiap tetes air yang jatuh dengan tangan kecilnya seakan sedang menangkap harapan-harapan yang berjatuhan ke tanah yang tak ramah ini begitu saja. Di belakangnya seorang lelaki yang bajunya kalah lusuh dengan Nayla, duduk bersandar di tiang toko. Wajahnya kusam, pipinya kusut sering ditampar matahari, matanya murung menatapi Nayla yang cekikikan riang menangkap tetesan hujan jatuh kanopi toko.

Nayla yang riang gembira seharusnya sedang berada di rumah sekarang. Entah asik mengambar dengan ayah-ibunya, atau bersandar dalam dekapan ayah sambil mendengar dogeng menjelang tidur. Nama Nayla mempunyai arti: sesuatu yang istimewa. Seperti itulah Nayla untuk lelaki yang sebelah matanya buta itu.

Setiap hari bagi Nayla adalah bermain. Setiap malam bagi Nayla adalah pertualangan. Setiap malam tiba, mereka menyusuri setiap baris toko untuk mencari pelataran yang tokonya berkeramik bagus. Nayla anak perempuan yang tegar tanpa menyadari di sisi lain, dunia telah menyediakan makanan enak dan kamar tidur berkeramik yang indah untuk anak seusianya. Bahkan menyanjungya dengan kasih sayang melimpah ruah setiap menjelang tidur dengan kata “buah hati”.

Nayla berambut ikal bukan anak dari lelaki renta yang dipanggil ayah itu. Dia diceritakan Kasim lahir dari awan yang menjatuhkannya bersama hujan di emperan pertokoan ini. Saat dia lahir, dunia sedang ditinggalkan penghuninya mengigil sendirian di luar. Sedangkan lelaki itu mendekap Nayla kecil yang basah kuyup yang dilihatnya menangis di dalam hujan. “Mama..mama”, gumam Nayla yang tertidur di dekapan Kasim yang kini dipanggilnya; Ayah.

Kasim tau, Nayla sepertinya satu dari ratusan anak yang di bawa ke kota untuk mengemis hingga akhirnya Nayla tersesat jauh tidak tahu ke mana harus pulang. Kasim menjaga Nayla seperti anaknya sendiri, karena sama seperti Nayla, dia merasa sendirian di dunia yang ramai ini sebelum hal istimewa, yaitu Nayla menerangi sebelah lagi dunianya yang telah lama gelap.

Meski dia tahu ini bukan tanah yang bagus untuk Nayla tumbuh, tapi dia selalu berkata pada Nayla saat menyapu setiap emperan toko untuk sebuah upah yang tak banyak, “kita akan menabung untuk membeli rumah kecil yang nantinya akan ayah pasang keramik yang indah dan tempat tidur dengan bantal bergambar Cinderlela untukmu, Nayla.”

Kasim tau, mereka harus menghidupkan hari-hari dengan hayalan dan harapan-harapan, walaupun kosong. Rumah kecil bagi Nayla setidaknya adalah gairah baru bagi kehampaan hari-hari Kasim sebelumnya.

Kasim masih menatap kosong Nayla yang riang. Pikirannya mengawang pada masa depan yang ada dan tiada Nayla lagi. Dia menakar bimbang kehampaan besok tanpa Nayla atau ketidakinginannya senyuman Nayla kecil kumuh bersamanya di emperan toko ini.

Kasim memangil Nayla yang asik menangkap hujan dan menyimpannya dalam kantong plastik.

“Kenapa kamu menangkap hujan, Nayla?”

“Air hujan itu sangat bening Ayah, padahal berasal dari awan yang hitam. Aku menangkap dan mengumpulkannya dalam plastik agar dapat melihat menjadi awan kembali.” Kasim menyeringai sambil mengecup kepala Nayla.

“Apa kamu ingin rumah, Nayla?”

“Apa itu rumah, Ayah?”

“Rumah itu tempat yang hangat, tidak sedingin emperan ini. Tempat yang punya kamar tidur dan meja makan yang makanan selalu terhidang.”

“Seperti rumah makan ya Ayah?”

Kasim tersenyum sambil berkata, “iya hampir mirip Nayla.”

Hati Kasim telah terisi keistimewan yang di temukannya di emperan jalan. Hati kasim mulai mencari ruang berteduh setelah lama berada di hamparan luas. Nayla menjadi harapan untuk bekerja, bukan mengemis. Sebuah harapan besar untuk rumah yang kecil untuk Nayla yang istimewa.