Foto: http://www.radarcirebon.com/cerita-korban-begal-takut-dibacok-lagi-lompat-ke-sawah.html

Dua hari lalu, saya membaca sebuah berita menarik yang ditulis Pemred AceHTrend, Muhajir Juli dengan tajuk “Lima Anggota DPRA Diduga Begal Bantuan Beasiswa BPSDM 2017.” Siapa pun akan tergelitik membaca berita ini yang tidak hanya menyedihkan, tapi juga menabur keharuan.

Menurut informasi, dari sejumlah anggota dewan yang memplot dana tersebut, lima orang di antaranya diduga membegal, untuk tidak menyebut “mencuri” sesuatu yang bukan haknya.  Bahkan, informasi terbaru dari Koordinator MaTA menyebut Sembilan orang oknum dewan yang terlibat. Tentu kita patut bertepuk tangan atas keberanian ini yang telah sukses membelalakkan semua mata.

Masih menurut AceHTrend, jumlah dana yang dibegal tersebut berkisar antara 50% sampai 75%. Bahkan, menurut Koordinator GeRAK Aceh, informasi ini telah dicium oleh pihak KPK RI. Dalam keterangannya, Gerak juga meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas perilaku memalukan ini.

Menyikapi aksi beberapa oknum anggota DPR Aceh tersebut, kutukan demi kutukan pun berhamburan dan menyembur ke udara. Karimun Usman, misalnya menyebut aksi tersebut sebagai sangat memalukan. Padahal, tidak hanya memalukan, tapi ia juga memuakkan dan menjijikkan. Siapa saja yang masih memiliki kewarasan pantas “muak” dengan aksi oknum wakil rakyat di tanah Endatu.

Uniknya lagi, informasi tentang pembegalan ini tersebar cepat di beranda media sosial. Hanya beberapa jam informasi ini menjadi viral. Bahkan beberapa media online yang selama ini sudah “mati suri” juga ikut bangkit dari “kuburnya” untuk menyemarakkan informasi bertuah ini. Secara tidak langsung informasi pembegalan ini telah sukses memantik kebangkitan media-media yang sudah terkubur itu.

Kenapa Mereka Membegal?

Terlepas siapa pun mereka yang telah sukses “memakan” serpihan-serpihan dana yang diperuntukkan bagi mahasiswa, yang jelas mereka adalah wakil rakyat, wakil kita semua. Meskipun tidak semua kita memilih mereka ketika prosesi pemilu berlangsung. Tapi secara konstitusi, mereka telah mewakili rakyat, sebab kita telah mendelegasikan kepercayaan kepada mereka melalui tusukan suara di “kelambu” pemilu.

Lantas kenapa mereka berani membegal uang yang bukan haknya? Ini adalah pertanyaan umum yang mungkin bersemayam di seluruh lubuk hati yang masih waras. Saya yakin, semua kita bertanya-tanya kenapa dan kenapa mereka tega? Kenapa mereka membegal rakyat?

Bagi saya, pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya. Mereka adalah wakil rakyat yang mewakili rakyat dalam segala hal. Mereka tidak hanya menjadi wakil untuk menyuarakan aspirasi rakyat, tapi juga menjadi “wakil” untuk membegal rakyat. Dilihat dari istilah “wakil” yang ditambatkan di pundak mereka, maka mereka pantas melakukan apapun sesuka mereka sebab mereka adalah wakil kita.

Dengan demikian tidak perlu heran jika hak-hak rakyat juga dibegal oleh oknum-oknum wakil rakyat. Bukan tidak mungkin, oknum-oknum itu berpikir bahwa keterwakilan mereka harus berjalan maksimal dan menyentuh segala lini, termasuk persoalan bantuan. Mungkin mereka berpikir, siapa lagi yang akan membegal kalau bukan mereka.

Di luar itu, rakyat juga seharusnya tidak hanya menyalahkan oknum dewan tersebut. Sebab masih banyak pertanyaan yang tersisa. Kenapa mereka bisa membegal? Dan kenapa pula mahasiswa tersebut “bersedia” dibegal? Atau mungkin ada “nota kesepakatan” begal yang mereka tandatangani? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang mungkin akan terjawab beberapa hari ke depan.

Terakhir, mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada para pembegal. Semoga hasil begalannya berkah sehingga dapat menyambut hari raya dengan meriah. Dan semoga mereka terus konsisten untuk mewakili rakyat secara maksimal. Jangan biarkan ada ruang kosong yang tak terwakili!

(*) Penulis: Khairil Miswar @tinmiswary

Lima Anggota DPRA Diduga Begal Bantuan Beasiswa BPSDM 2017

Kasus Pembegalan Beasiswa Aceh Sudah Diketahui KPK

Karimun Soal Oknum DPRA Begal Dana Beasiswa: Ini Sangat Memalukan

MaTA: Sembilan Anggota DPRA Terlibat Begal Dana Beasiswa Aceh 2017

Khairil Miswar
Khairil Miswar saat ini berstatus sebagai Mahasiswa PPs UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Pada saat konflik Aceh berkecamuk penulis aktif dalam gerakan mahasiswa khususnya dalam aksi-aksi kemanusiaan dalam menangani pengungsi dan korban konflik. Pasca konflik penulis pernah terlibat dalam partai politik lokal sebagai Ketua Partai SIRA Bireuen. Saat ini penulis juga mengabdi sebagai seorang guru di sekolah rendah di perkampungan.