ACEHTREND.CO, SINGKIL | Kendati SD Negeri 2 Kuala Baru (kuba), terletak jauh dari ibukota Kabupaten Aceh Singkil. Dan jika berangkat dari sana ke ibukota harus menaiki perahu bermesin robin.

Tetapi hal ini, tidak mengendurkan semangat siswa-siswinya berpartispasi dalam Festival Seni-Budaya Hari Jadi Kabupaten Aceh Singkil ke-19.

Dua malam lalu, Ahad (29/4/2018), siswa-siswi SD yang berada di pesisir Pantai Samudera Hindia berbatasan dengan Buloh Seuma, Aceh Selatan itu, tampil memukau dan membuat decak kagum penonton.

Mereka memainkan musik ansambel perpaduan angklung dengan alat musik modern pianika.

Satu persatu lagu-lagu perjuangan berhasil mereka iringi dengan perpaduan alat musik etnis dan modern itu.

Nada, dan irama musik mereka, terdengar begitu apik. Nyaris sempurna.

Nada dan iramanya berwarna khas. Kaya dengan inprovisasi. Harmosasinya pun, begitu elok nan indah.

Pada saat musikus-musikus cilik itu, menyanyikan tembang Bungong Jeumpa, penonton “tersihir”.

Malah, ada penonton yang tersentak dan histeris. Terkesima, menyaksikan penampilan anak-anak Kuala Baru.

Tubuh penonton bergoyang-goyang, berjoget, mengiringi Bungong Jeumpa, lagu yang berasal dari Aceh itu.

“Wah. Penampilan dan iramah musik mereka, layaknya pemusik andal dari ibukota,” ucap Nurul seorang pengunjung.

Anak-anak Aceh Singkil, kata penonton lainnya, piawai juga mainkan musik angklung.

“Padahal alat musik itu, berasal dari Jawa Barat. Luar biasa,” tutur penonton.

Nazri S Pd, kepala SDN 2 Kuala Baru kepada AceHTrend menerangkan, musikus-musikus cilik dari SD-nya itu, sudah lama mereka bina dan persiapkan.

Begitu ada festival seni-budaya memeriahkan hari jadi, kata Nazri, mereka minta pada panitia untuk tampil.

“Alhamdulillah, anak-anak tampil bagus dan menghibur. Saya dan para guru puas. Walaupun kami datang dari jauh menaiki robin menempuh Banda Sapik,” pungkas Nazri.[]

 

Sadri Ondang Jaya
Sadri Ondang Jaya adalah wartawan aceHTrend untuk wilayah Aceh Singkil dan sekitarnya. Di samping itu pria yang gandrung membaca ini, suka menulis esai, puisi, dan cerpen. Sarjana FKIP Unsyiah ini telah berhasil menerbitkan buku "Singkil Dalam Konstelasi Sejarah Aceh". Juga aktif di blogger Aceh.