BERBAGI

Ketenangan dan kepasrahan kepada Allah SWT di dalam melaksanakan ibadah (Khusyuk) hal itulah yang terlihat saat saya rasakan saat melaksanakan ibadah sholat Tarawih malam pertama bulan Ramadhan, Rabu (16/5/2018) di Mesjid Baiturrahim Ulee Lheu.

Saya sengaja datang lebih awal agar bisa mendapatkan shaf di lantai satu mesjid, karena berbekal pengalaman Ramadhan tahun lalu, malam pertama tarawih biasa jamaah penuh bahkan sampai ke lantai dua, ternyata dugaan saya benar.Menjelang dimulai sholat Insya jamaah sudah memadati mesjid.

Usai sholat Insya, panitia mengumumkan tata laksana sholat Tarawih dan menyampaikan bahwa yang menjadi pemberi tausyiah tarawih adalah Imum Chik Mesjid Baiturrahim Tgk Rosman Daudy, S.Ag. beliau juga bertindak selaku imam pada malam tersebut.

Dalam tausyiahnya Tgk Rosman Daudy menyampaikan berbagai hal terkait keutamaan mengerjakan ibadah Sunnah pada bulan Ramadhan. Ibadah sunnah itu antara lain sholat tarawih. Sholat ini tidak didapati pada bulan yang lain. Sholat malam atau tarawih pahalanya yang begitu melimpah. Tgk Rosman Daudy menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim “Barangsiapa sholat tarawih dengan dilandasi keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Untuk itu dirinya berharap mesjid pada bulan Ramadhan tidak hanya penuh pada malam pertama dan malam ke sepuluh saja, tapi bisa penuh sampai malam ke 30. Selain itu ibadah sunnah lainnya adalah memperbanyak tadarus Al-Qur’an di bulan Ramadhan

Tgk Rosman menyampaikan bahwa Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isinya maka bahagia dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah. ” Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha:123).

Bagi saya pribadi mesjid Baiturrahim ini menjadi kenangan tersendiri. Empat hari sebelum tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam, saya bersama teman – teman dari KSR PMI unit 01 Unsyiah mengadakan pengabdian ke Pulau Aceh, Gampong Meulinge.

Pada hari Kamis 23 Desember 2004 saya bersama hampir 23 orang lebih menaiki kapal boat nelayan menuju Pulau Aceh. Pada saat itu boat nelayan merupakan satu – satu sarana transportasi ke pulau tersebut, dan dermaganya terletak di samping mesjid Baiturrahim. Pada tanggal 26 Desember 2004 kami kembali ke Banda Aceh namun situasi sudah berubah. Pada saat tsunami terjadi kami masih di tengah laut, yang kemudian karena tidak bisa merapat ke Banda Aceh akhirnya kami terdampar ke Pulau Nasi yang masih satu gugusan dengan Pulau Aceh, baru hari ke tiga kami bisa merapat melalui pelabuhan Lampulo.

Pada peristiwa tsunami tersebut lebih dari 150.000 jiwa meninggal dunia. Seluruh bangunan, perumahan dan dermaga di samping mesjid rata dihempas gelombang tinggi tersebut. Namun keganasan tsunami tidak mampu meluluh lantakkan mesjid tersebut. Padahal tinggi gelombang menurut informasi penduduk setempat yang selamat mencapai atap mesjid atau lebih dari 10 meter.

Sekilas tentang Mesjid Baiturrahim Ulee Lheu.

Mengutip dari wikipedia dan sejumlah sumber lainnya, Mesjid Baiturrahim adalah salah satu mesjid bersejarah di provinsi Aceh. Mesjid yang berlokasi di Ulee Lheu, kecamatan Meuraxa, Banda Aceh ini merupakan peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Saat itu mesjid tersebut bernama Mesjid Jami’ Ulee Lheu. Pada 1873 ketika Mesjid Raya Baiturrahman dibakar oleh pasukan Belanda, sehingga semua jamaah masjid terpaksa melakukan salat Jumat di Ulee Lheue. Dan sejak saat itu namanya menjadi Masjid Baiturrahim.

Sejak berdirinya hingga sekarang masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Awalnya masjid dibangun dengan rekonstruksi seutuhnya terbuat dari kayu, dengan bentuk sederhana dan letaknya berada di samping lokasi masjid yang sekarang. Karena terbuat dari kayu, bangunan masjid tidak bertahan lama karena lapuk sehingga harus dirobohkan. Pada 1922 masjid dibangun dengan material permanen oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan gaya arsitektur Eropa. Namun masjid ini tidak menggunakan material besi atau tulang penyangga melainkan hanya susunan batu bata dan semen saja.

Berdasarkan catatan sejarah, pada tahun 1983 Banda Aceh juga pernah diguncang gempa dahsyat dan meruntuhkan kubah masjid. Setelah itu masyarakat membangun kembali masjid namun tidak lagi memasang kubah, hanya atap biasa. Sepuluh tahun kemudian, dilakukanlah renovasi besar-besaran terhadap bangunan masjid, hanya dengan menyisakan bangunan asli di bagian depan pascagempa 1983. Selebihnya 60 persen merupakan bangunan baru. Sampai sekarang bangunan asli masjid masih terlihat kokoh di bagian depannya.

Pada 26 Desember 2004, gempa bumi yang disusul terjangan tsunami meratakan seluruh bangunan di sekitar masjid dan satu-satunya bangunan yang tersisa dan selamat adalah Masjid Baiturrahim.Kondisi masjid yang terbuat dari batu bata tersebut hanya rusak sekitar dua puluh persen saja sehingga masyarakat Aceh sangat mengagumi masjid ini sebagai simbol kebesaran Allah SWT.[]

Komentar