Oleh Said Syahrul Rahmad*)

Teungku Putik bernama lengkap Sayyid Abdul Rani, beliau dilahirkan di Cot Nigan pada tahun 1849 M. Ada yang mengatakan 1855 M. pada saat beliau lahir Seunagan berada di bawah kepemimpian Teuku Meurah Johan.

Nama yang melekat padanya merupakan pemberian langsung dari kakeknya yaitu Qutb Whujud Habib Abdurrahim. Sang kakek memberikan namanya pada saat Sayyid Abdul Rani masih masih dalam kandungan ibunya. Habib Abdurrahim, berdoa dengan nama yang bagus ini maka suatu ketika cucunya lahir , tumbuh dan dewasa menjadi salah satu penerus dirinya dalam berdakwa islam di daerah Seunagan.

Ternyata doa sang kakek dikabulkan oleh Allah SWT, Sayyid Abdul Rani mempunyai kecerdasan yang mumpuni, sejak umur enam tahun sudah mampu membaca Alquran dengan baik dan benar.

Karena memiliki pengetahuan agama Islam pada usia yang masih muda maka Sayyid Abdul Rani digelari dengan nama Teungku Putik, namun dalam literatur ada yang menuliskan Teungku Puteh atau Teungku Putih.

Kecendikiawannya juga tidak terlepas dari tempat di mana beliau menuntut ilmu Islam, belajar pada orangtuanya sendiri yaitu Habib Abdurrasyid (Teungku Kaye Raya) dan pada Syaikh Muhammad Hasan alias Teungku Chik Dikila. Karena kelimuannya tidak heran, jika Sayyid Abdul Rani sangat disegani oleh masyarakat dan sempat menjabat sebagai qadhi (hakim) didaerah Seunagan.

Di samping itu juga orang yang memprakasai berdirinya Masjid Jamik Syaikhuna di Gampong Gudang Buloh.

Pihak Belanda sangat segan dan takut padanya yang kemudian pihak Belanda mengasingkan beliau ke pulau Jawa.

Sebelum asingkan ke Jawa beliau sempat menikah di Seunagan, salah satu isterinya adalah Wan Fatimah binti Habib Din bin Sayyid Husein (sepupu Habib Puteh Kila), namum tidak dikarunia anak. Sayyid Abdul Rani juga menikah dengan seorang putri dari Teuku Tuan (salah seorang pedagang lada di Nigan). Adapun anaknya yaitu Sayyid Abdul Kawi (Habib Alwi), Sayyid Razali (Habib Rayeuk), Sayyid Daud (Habib Lhouk) dan Sayyid Usman yang gugur pada saat perang melawan belanda di daerah Tadu dan dimakamkan di Alue Bata.

Sejarah mencatat bahwa Sayyid Abdul Rani adalah salah satu pejuang Aceh yang di asingkan oleh Belanda ke pulau Jawa pada tahun 1919 M. Awalnya Belanda ingin mengasingkan beliau ke Nusakambangan, namun atas permintaan Bupati Mertadiredja III kemudian Sayyid Abdul Rani di Asingkan di Banyumas Jawa Tengah.

Menurut Setiati (keturunan Mertadiredja), di dalam bukunya tentang Aceh, Mertadiredja III menuliskan bahwa ada seorang yang melawan Pemerintah Belanda dari Aceh bernama Teungku Putih atau Syaikh Abdoel Rani dibuang oleh Pemerintah Belanda ke Nusakambangan. Pada saat inilah kemudian Bupati Mertadiredja melihat dan menaruh simpati kepada Teungku Putih. Bupati Mertadireja, berkeyakinan bahwa Teungku Putih adalah seorang ulama atau kiai yang patut dihormati.

Atas pertimbangan inilah kemudian Mertadiredja meminta kepada Pemerintah Belanda agar Teungku Putih ditahan di Banyumas. Pada saat itulah kemudian dengan kerendahan hatinya, Mertadiredja III membujuk Teungku Putih agar bersedia menjadi guru mengaji bagi anaknya dan anak-anak lainnya, permintaan Bupati ini dengan alasan bahwa kemampuan intelektualnya dan kemampuan agamanya Islamnya Sayyid Abdul Rani cukup kuat.

Jadi Sayyid Abdul Rani menghabiskan waktunya di Banyumas dengan mengajar ilmu agama di pesantren. Makam beliau terletak di bukit berdekatan dengan makam Adipati dan makam Raja Jembranan berada di Desa Kejawar Banyumas.

Sumber:Diambil dari berbagai sumber. Foto hanya ilustrasi.